Arsip | EDUCATION RSS for this section

ALTERNATIF RANCANGAN PEMBELAJARAN SEJARAH MATERI “KOLONIALISME di INDONESIA” DENGAN PENDEKATAN MULTITEMA

“Edukasi adalah panglima kehidupan di dunia” (Suhartono)

  1. Latar Belakang

Sejarah merupakan salah satu ilmu yang “kurang disukai” oleh siswa di sekolah. Sehingga konsep-konsep yang diberikan dalam sejarah hanya sebatas tempat, nama, dan waktu. Walaupun konsep mengenai tanggal, nama, dan waktu itu penting, namun sejarah mampu untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar itu. Perspektif lain bahwa sejarah adalah ilmu yang berdasarkan ingatan-ingatan atau kemampuan untuk mengingat menyebabkan siswa menjadi bosan. Kemampuan mengingat manusia sangatlah terbatas. Maka manusia perlu memiliki alat guna menyimpan data-data yang penting.

Alat penyimpan berupa data-data yang dianggap penting tentulah data yang berupa tulisan. Kemampuan membaca tidaklah cukup tanpa adanya kemampuan untuk menulis. Menulis sangatlah penting sebagai memoar peristiwa. Menulis sebagai ingatan dalam mengingat peristiwa. Kemampuan menulis inilah sebagai representatif diri terhadap peristiwa. Dengan penulisan inilah diharapkan siswa timbul budaya kritis, budaya mengkritisi secara ilmiah, bukan budaya mengkritisi secara adu jotos.

Setelah menulis diharapkan siswa mampu untuk menjelaskan dari hasil tulisannya. Sejarah perlu penjelasan, sejarah perlu diterangkan, dan sejarah perlu dikritik. Penjelasan diperlukan untuk open mind pikiran orang lain. Penjelasan dapat dibedakan dalam arti penjelasan dalam karya tulis maupun penjelasan dalam bentuk lisan. Penjelasan agar setiap orang yang membaca mengerti maksud dan isi dari tulisan yang disajikan. Penjelasan yang bisa datang dari metodologi sejarah atau penjelasan yang datang dari ilmu bantu sejarah.

Sejarah yang menulis sebuah peristiwa tentunya memiliki latar belakang terjadinya peristiwa itu. Peristiwa tentunya memiliki hukum kausal yaitu hukum sebab-akibat. Suatu peristiwa perlu untuk dijelaskan, maka penjelasan itu bisa datang dari segala disiplin ilmu maupun dari sejarah itu sendiri.

Seolah-olah sejarah bukanlah ilmu yang berdiri sendidri, namun tidak,  sejarah adalah ilmu yang mandiri. Sejarah masuk dalam tataran ilmu sosial-humaniora. Sangatlah tipis untuk menentukan tempat sejarah berada. Sejarah berada di ranah humaniora karena sejarah meneliti perilaku manusia atau kemanusiaan dan pemikiran, sedangkan sejarah dalam ranah ilmu sosial karena sejarah juga meneliti tentang hubungan antar manusia. Sehingga sejarah memiliki treatment untuk membuka diri berhubungan dengan ilmu-ilmu lain, namun sejarah memiliki kemandirian. Sejarah bukanlah suatu ilmu yang kabur karena sejarah memiliki dimensi berbeda yakni waktu, tempat, dan unik.

Ilmu bantu dalam sejarah tidak bisa dianggap sejarah tidak akan bisa berdiri tanpa bantuan. Ilmu bantu sejarah merupakan ilmu yang dianggap bisa membantu sejarah dalam menerangkan kausal sejarah. Ilmu bantu hanya bersifat membantu, bila ilmu bantu itu tidak digunakan juga tidak apa-apa.

Sebagai implementasi dalam pembelajaran di sekolah. Ilmu bantu yang digunakan juga tidak ilmu bantu yang bersifat sejarah secara perguruan tinggi. Ilmu bantu yang digunakan adalah ilmu bantu yang masih dalam lingkup sekolah. Serta kebanyakan ilmu bantu yang digunakan dirangkum dalam Ilmu Pengetahuan Sosial. Walaupaun bisa dimaksudkan kedalam ilmu lainnya yang ada dalam mata pelajaran disekolah. Ilmu bantu yang ada didalam sekolah dititik beratkan sebagai ilmu yang terpadu, ilmu-ilmu sosial yang saling terkait satu dengan yang lain. Maka sejarah berperan sebagai pengikat dari ilmu-ilmu di sekolah, sebagai pendekatan ilmu sejarah dengan ilmu yang lainnya.

Tulisan ini akan membahas mengenai contoh pendekatan pendekatan ilmu-ilmu sosial, alat bantu sejarah, dan  implementasi sejarah dalam dunia pendidikan. Dalam bahasan masalah dalam pembelajaran yang terkait dengan kolonialisme.

Baca Lanjutannya…

Iklan

RAIHAN EKSISTENSI SMA BUDI MULIA DUA

“As is the state, so is the school”

(sebagaimana negara, seperti itulah sekolah)

Ada pertanyaan yang mengganggu dengan kondisi Indonesia saat ini. Angin segar reformasi yang ditiupkan oleh Amien Rais, saat ini lebih banyak membawa kebusukan dan kebobrokan. Semangat reformasi yang diagungkan sedari awal telah keluar dari jalurnya. Kepemimpinan nasional yang dipertontonkan kepada masyarakat, hanyalah kepemimpinan yang bersifat kekanak-kanakan. Kepemimpinan nasional penuh dengan permainan untuk mencapai popularitas dan penipuan. Hasil dari kepemimpinan nasional adalah korupsi yang merajalela, ketidakadaan dialog antar pemimpin, ketidakadaan sikap saling menghargai dan sikap-sikap yang menunjukkan perpecahan. Sikap kepemimpinan tersebut terkesan adalah hasil dari produk pendidikan yang dialami oleh para pemimpin sebelumnya. Bayangkan bila cara kepemimpinan saat ini akan dicontoh oleh generasi penerus bangsa, lambat laun degradasi moral dan kemunduran bangsa akan menjadi pintu gerbang yang tak terelakkan.

Baca Lanjutannya…