Arsip | hanya tulisan RSS for this section

Tiga Tali Kekang Kehidupan Manusia

Nabi bersabda:

“Hendaklah kalian bergaul bersama Ulama dan melakukan ucapan Hukama’, karena Allah menghidupkan kembali hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghijaukan tanah gersang dengan air hujan.”

Sabda Nabi, pada bagian terakhir terdapat kata “hikmah”. Hikmah merupakan ilmu yang bermanfaat. Ilmu diibaratkan sebagai nur dari Ilahi dan manusia yang mendapatkan ilmu tentu manusia yang telah di pilih oleh Tuhan sebagai wadah dari nur-ilahi tersebut.

Kemudian, dalam sabda tersebut Nabi menyebutkan antara Ulama dengan Hukama’. Ulama dalam hadist tersebut dimaknai sebagai orang alim yang mengamalkan ilmunya, sedangkan Hukama’ ialah ahli hikmah yang mnegetahui Dzat Allah Ta’ala.

Telah diriwayatkan oleh At-Thabaraniy dari Abu Hanifah disebutkan bahwa,

“Hendaklah kalian bergaul dengan Kubara’ , Tanya jawab dengan Ulama’, dan bercampur akrab dengan Hukama’”.

Dalam hubungan seperti ini, Ulama di bagi menjadi tiga yaitu:

  1. Ulama’, yaitu orang alim yang mengetahui tentang hukum-hukum Allah, mereka inilah yang memiliki hak untuk memberikan fatwa.
  2. Hukama’, yaitu orang alim yang mengetahui Dzat Allah.
  3. Kubara’ (pembesar), yaitu orang yang memiliki kedua-dua nya.

Manusia dalam menjalani kehidupannya haruslah memegang erat ketiga elemen tersebut.  Ulama dalam pengertian diatas adalah orang yang memahami hukum-hukum Tuhan. Dengan kata lainnya, ulama sama hal-nya dengan ahli fiqih. Manusia dalam kehidupan keseharian tentu tidak bisa terlepas dari masalah hukum agama. Hukum agama yang terkait dengan ritus-ritus keagamaan, hukum kemaslahatan masyarakat, hukum waris, hukum nikah, dan lain sebagainya.  Ulama menjadi penting agar bisa terselenggaranya kehidupan keagamaan yang benar sesuai dengan kaidah hukum yang ada.

Kemudian, seseorang haruslah bisa berpegang pada hukama’. Seorang Hukuma’  tentu saja sudah melewati fase menjadi seorang Ulama. Seorang Hukama’  sebagai tali pengikat atas manusia di dasari dengan adab/tata karma/perilaku nya. Seorang Hukama’ akan memberikan penilaian bukan benar ataupun salah, namun akan memberikan pelajaran terkait baik dan buruk. Hukama’ itu bagaikan “wali” Tuhan dikarena memahami Dzat nya Tuhan. Hati para Hukama’ selalu bersinar, sinar itu merupakan wujud dari sinar Ma’rifat Tuhan yang terbiasa dalam perilaku mereka sehingga jiwa-jiwa mereka membiaskan keagungan Tuhan.

Seseorang yang bergaul dengan Hukama’ akan memperoleh manfaat yang sangat besar. Manfaat yang didapatkan berupa memahami permasalahan dalam kacamata baik dan buruk, mendapatkan “luberan” cahaya Ilahi melalui hati para Hukama’, bisa menentramkan hati bila memandang beliau-nya, dan bisa mengingatkan keagungan Tuhan hanya dengan melihat perangainya.

Lalu, Kubara’ merupakan seseorang yang memiliki kedua-nya. Sangatlah sulit untuk menemukan seorang Kubara’ pada zaman saat ini. Bila Ulama terkait dengan benar-salah, Hukama terkait dengan baik-benar, sedangkan Kubara’ terkait dengan keindahan. Seorang Kubara’ adalah sesorang dengan kemampuan yang luar biasa bahkan diatas rata-rata manusia pada umumnya. Mereka memiliki kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi karena disikapkannya oleh Allah, memiliki “karomah”, memiliki pengaruh tanpa batas dan tak terkekang oleh ruang dan waktu, dan akan selalu diingat sepanjang masa. Tokoh-tokoh yang bisa dimasukkan dalam Kubara’ seperti Syeikh Abdul Qodir Jaelani, Al-Ghazali, dan lain sebagainya. Di Indonesia bisa disebutkan tokoh Wali Sanga.

Pernah suatu riwayat dari As-Sahrawardiy yang berkeliling pada sebagian masjid Al-Khaif  di Mina meneliti dengan cermat beberapa orang. Ia pun ditanya, “mengapa melakukan hal tersebut?”. Ia menjawab, “Sesungguhnya Allah memiliki beberapa orang yang jika ia memandang orang lain maka mendatangkan kebahagiaan bagi yang dipandang dan aku mencari orang yang demikian itu.”

Subhanallah, perkataan di atas merupakan salah satu bentuk usaha untuk menngingat keberadaan Tuhan dengan cara memandang wajah orang lain (Hukama’/Kubara’).

Penulis menambahkan bahwa tidak hanya ketiga tersbut yang perlu dijadikan pegangan. Perlu ditambahkan bahwa seseorang juga perlu mengikat kepada para Umara’ (pemimpin). Umara’ dijadikan pengikat karena bisa memanage kehidupan manusia di dunia ini. Umara’ yang dimaksudkan adalah pemimpin formal dalam kehidupan bernegara. Umara’ diperlukan untuk menjaga ketertiban masyarakat, melindungi hak-hak kaum minoritas,menjaga antara hak dan kewajibanbisa berjalan beriringan, dan mengelola pemerintahan dengan baik dan benar.

Dengan selalu berkekang pada ketiga kali kekang tersebut, dan ketiga tali tersebut memang benar-benar tali yang bagus. Semoga apa yang di sabdakan nabi tidak menimpa pada diri kami. Nabi bersabda: “Bakal dating suatu masa dimana umatku menjauhkan diri dari para Ulama’ dan Fuqaha’,   maka Allah menimpakan tiga bencana atas mereka: pertama, dicabut kembali berkah usahanya; kedua, dikuasakan penguasa lalim atas mereka; ketiga, mereka meninggalkan alam dunia tanpa membawa iman.”

20130909rapat1

Gus Mus, Yai Sahal, K.H Said Agil

#ngajiramadhan#ngaji_nashaihul_ibad

Dua Pekerjaan Bagi Manusia

 

جصلتا ن ل شئ افضل منهما : الايما ن با لله , والنفع للمسلمين

Nabi Muhammad bersabda, “Dua hal yang tiada sesuatu pun melebihi keunggulannya ialah: Iman kepada Allah dan membuat manfaat untuk kaum Muslimin.”

Pertamaiman, Iman kepada Allah merupakan pokok dari ajaran Islam. Seseorang yang telah menyakinin dan memeluk agama Islam haruslah yakin dan bergembira atas kehadiran Allah. Tak satu pun dalam hati ini meragykan kekuasaa-Nya, tak satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu mengalahkan-Nya,  dan tak ada satu pun keraguan atas bimbingan-Nya. Seseorang secara lisan bisa mengucapkan kalimat syahadat dengan lisannya, namun urusan iman lain soalnya. Urusan Iman adalah urusan yang tersembunyi oleh sebab itu perlulah dilatih dan diupayakan. Oleh sebab itu, perlu adanya pembahasan lebih lanjut mengenai Iman yang sebenar-benarnya Iman.

Kedua, membuat kemanfaatan bagi kaum muslim. Kemanfaatan bukan berarti “memberikan keenakan” bagi sesame muslim. Kemanfaatan bisa di mulai dengan niat di pagi hari.

Nabi Bersabda: “Barang siapa bangun di pagi hari tidak niat berbuat lalim kepada siapapun maka diampunilah laku           salahnya, dan barang siapa bangun di pagi hari dengan niat menolong orang yang teraniaya dan mencukupi    kebutuhan orang muslim,     maka memperoleh pahala sebesar satu Haji Mabrur.”

Kemanfaatan bisa dimulai dengan niat yang terucap di pagi hari atau sebelum tidur. Ingatlah, bahwahanya dengan niat yang baik sudah akan dicatat oleh malaikat sedangkan niat yang buruk belum akan dicatat sebelum dilakukan hal tersebut, sungguh murah hati-Nya Tuhan. Habib Syech pun mengatakan bahwa selama hidup-mu (manusia) diniatkan untuk selalu berbuat baik selama hidup ini.

Kemanfaatan terhadap sesama manusia pun dijelaskan oleh Kanjeng Nabi, “Hamba-hamba yang paling dicinta Allah adalah siapa yang paling bermanfaat untuk manusia, perbuatan yang paling utama ialah menampakkan rasa senang ke dalam hati orang mukmin berupa membasmi kelaparan, menyingkap        kesulitan atau membayarkan hutangnya, dan dua hal yang tiada sesuatu pun melebihi jahatnya ialah menyekutukan Allah dan mendatangkan bahaya bagi kaum Muslimin.”

Saling menolong bagi kaum muslimin bahkan bagi sesama manusia berbeda keyakinan, tak menjadi soal. Manusia diberikan dua pekerjaan saja di dunia ini yaitu mengangungkan Allah dan menyayangi terhadap titah-Nya. Mengangungkan dengan cara tak menyekutukan dan menyanyngi titah_nya dengan melakukan segala perintahnya, terutama untuk ibadah yang terkait dengan upaya menolong sesama muslim bahkan dengan sesama manusia.

Manusia yang bisa saling tolong-menolong tentu akan menciptakan kondisi kehidupan yang harmoni dan bersinergi diantara manusia itu sendiri. Kehidupan antar manusia yang ditujukan untuk berbakti/mengangungkan Allah.

Semoga kita bisa mewujudkan cita Tuhan, bagi kemaslahatan bersama.

#ngajiramadhan#ngaji_nashaihul_ibad

 

 

Izinkan Aku Mencintai Mu

Izinkan aku mencintaimu, dengan segala kehinaan diri

Izinkan aku mencintaimu, dengan segala kerendahan hati

Izinkan aku mencintaimu, dengan segala kekosongan jiwa

Izinkan aku mencintaimu, dengan segala kefakiran harta

Izinkan aku mencintaimu, dengan ketidakmaluan diri

Izinkan aku mencintaimu, dengan segala kekurangan yang ku miliki

Izinkan aku mencintaimu, ketidaktahuan diri

Izinkan aku mencintaimu, tanpa alasan

Izinkan aku mencintaimu, dengan bimbinganmu

Tuhan, bimbinglah kami

 

Tajem, 1 September 2016