Arsip | Berita RSS for this section

Aksi Budaya dari Yogyakarta untuk Indonesia Bhineka

Forum Yogyakarta untuk Keberagaman (YuK!) yang beranggotakan lebih dari seratus organisasinon pemerintah dan elemen masyarakat sipil akan mengadakan Aksi Budaya Dari Yogyakarta untuk Indonesia Bhineka.

Acara ini digelar Minggu (24/6) sejak pukul 14.30 WIB dan para peserta pawai berkumpul di Gedung Agung, Yogyakarta. Mereka bakal mengenakan pakaian merah putih.

Koordinator Forum Yogyakarta untuk Keberagaman (YuK!) Naomi Srikandi mengatakan perhelatan ini digelar sebagai wujud keprihatinan terhadap ancaman dan pelanggaran kebhinekaan yang sejak lama hidup dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari keseharian masyarakat Yogyakarta.

“Bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X, seluruh peserta aksi akan membacakan Manifesto Yogyakarta untuk Kebinekaan dan membunyikan titir kentongan bersama,” jelas Naomi dalam keterangan pers melalui Humas YuK!, Minggu (24/6).

Dijelaskan, titir kentongan dipilih sebagai simbol peringatan atau tanda bahaya yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa saat terjadi keadaan bahaya dan keselamatan warga terancam.

Aksi-aksi kekerasan yang berulangkali terjadi akhir-akhir ini di Yogyakarta, seharusnya dimaknai sebagai ancaman terhadap sejarah panjang harmoni dan dinamika kebhinekaan di Yogyakarta.

Kasus-kasus yang menodai keberagaman di Yogyakarta, di antaranya; pembatalan paksa Panggung Keberagaman International Day Against Homophobia (2010), pembubaran paksa Queer Film Festival (2010), penyerangan diskusi Irshad Manji di LKiS (2012), aksi teror dan penolakan keberadaan tempat ibadah di Giri Wening di Gunung Kidul

Penelitian The Wahid Institute, misalnya, mencatat pada tahun 2011 di Indonesia telah terjadi 92 kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan, 9 kasus kekerasan dan pemaksaan keyakinan serta 9 penyegelan dan pelarangan rumah ibadah dan kriminalisasi keyakinan tercatat 4 kasus. Tindakan intoleransi dalam beragama dan berkeyakinan tahun 2011 naik 184 kasus (16%) dibandingkan tahun 2010 (134 kasus).

Kategori tindakan intoleransi tertinggi adalah intimidasi dan kekerasan atas nama agama (48 kasus), di dalamnya termasuk penyebaran kebencian terhadap kelompok lain (27 kasus), pembakaran dan perusakan properti (26 kasus), serta diskriminasi atas nama agama (26 kasus).

Naomi menerangkan, melalui aksi budaya ini, Forum YuK! berharap agar seluruh masyarakat, termasuk di dalamnya jajaran pemerintah dan kepolisian, terbangun dan sadar untuk bersikap segala bentuk kekerasan yang mengancam kebhinekaan.

“Aksi ini diharapkan juga dapat menjadi perekat untuk menyatukan kembali kepedulian kita pada kebinekaan yang menjadi milik seluruh warga Yogyakarta dan Indonesia,” paparnya.

Sejumlah seniman Yogyakarta maupun aktivis pluralisme bakal mendukung kirab budaya ini di antaranya, Butet Kartaradjasa, Alissa Wahid (putri Gus Dur),
M Imam Aziz, Kill the DJ, Meth Kusumahadi, dan Bondan Nusantara.

Penulis: Kristantyo Wisnubroto

POSTER ‘Dari Yogyakarta untuk Indonesia Bineka’

Beberapa poster untuk aksi budaya ‘Dari Yogyakarta untuk Indonesia Bineka’, Minggu 24 Juni 2012. SIlahkan unduh, sebarkan, cetak, dan bawa pada aksi besok tanggal 24 Juni 2012  pukul 14.30 WIB di depan Gedung Agung/Istana Presiden!                         

Toleransi Beragama Pada Zaman Dulu, Sekarang dan Masa Depan.

PADA JAMAN DULU

Sebagaimana dilaporkan dalam Perjanjian Lama , raja Persia Cyrus Agung diyakini telah merilis Yahudi dari pembuangan di 539-530 SM, dan mengizinkan mereka kembali ke tanah air mereka.

Para Helenistik kota Alexandria , yang didirikan 331 SM, berisi komunitas Yahudi besar yang hidup dalam damai dengan populasi Yunani dan Mesir ekuivalen ukuran. Menurut Michael Walzer , kota ini diberikan “contoh yang berguna dari apa yang kita pikir sebagai versi kekaisaran multikulturalisme.”  Para Kekaisaran Romawi menaklukkan mendorong masyarakat untuk terus menyembah dewa mereka sendiri. “Bagian penting dari propaganda Romawi adalah undangan untuk para dewa dari wilayah ditaklukkan untuk menikmati manfaat ibadah dalam kekaisaranitu.”  Kristen yang dipilih untuk penganiayaan karena penolakan mereka sendiri panteisme Romawi dan penolakan untuk menghormati kaisar sebagai tuhan.  Pada 311 Masehi, Kaisar Romawi Galerius mengeluarkan umum dekrit toleransi agama Kristen, atas namanya sendiri dan pada mereka dari Licinius dan Konstantin I (yang menjadi Kristen pada tahun berikutnya).

Baca Lanjutannya…