Sarjana Sigit Wahyudi, Dampak Agro Industri di Daerah Persawahan di Jawa, Semarang: Mimbar, 2000.

Akhir abad XIX atau awal abad XX bagi sejarah Indonesia adalah masa perubahan dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Modernisasi yang digalakkkan oleh pemerintah Kolonial mengakibatkan terjadinya perubahan pada struktur sosial masyarakat. Perubahan sosial dikarenakan kebijakan pemerintah dalam intensifikasi politik kolonial Belanda melalui birokrasi, komersialisasi, industrialisasi, edukasi, inovasi, dan renovasi teknologi pertanian. Dengan kata yang singkat adanya sistematisasi kebijakan ekonomi menuju arah kapitalisme.

Dalam konteksi ini perubahan sosial yang diacu adalah kebijakan kolonial tentang perekonomian. perekonomian kolonial sangatlah tergantung dengan pertania maupun perkebuann sehingga pemrintah mengambil kebijakan terutama untuk lahan perkebunan. Melalui perkebunan, terutama tebu menjadi salah satu primadona ekspor masyarakat dunia. Untuk mendapatkan ekspor yang maksimal pemerintah melakukan pembangunan jaringan pabrik didaerah-daerah. Pembanguan pabrik tebu tidak cukup dengan dibangun saja pabrik tebu memerlukan masyarakat sekitar pabrik untuk melakukan proses produksi.

Berkaitan dengan itu, dibutuhkan kerja sama antara pengusah pabrik tebu atau tuan tanah dan aparat birokrasi kolonial atau kaum feodal pribumi. Simbiosis antara ketiganya akan membawa dampak positif dengan menguatnya sistem feodal yang dibentuk. Simbiosis merupakan instrument terpenting dalam menjalankan eksploitasi agraria dengan sejumlah peraturan yang memperlihatkan pada pengertian hadirnya sisitem hukum barat di wilayah Hindia Belanda.

Selain terjalinnya simbiosis yang baik tak lupa lahan pertanian sebagai faktor produksi yang penting. Lahan pertanian terutama di Jawa  pada kurun waktu itu diusahakan oleh pemodal swasta Eropa. Dengan demikian, komunitas desa di Jawa dapat dibedakan menjadi desa perkebunan dan desa non perkebunan, yaitu pedesaan yang tak disewakan oleh perusahaan perkebunan dan pedesaan perkebunan, yaitu pedesaan yang lahan pertanianannya disewa oleh perusahaan perkebunan. Perubahan pada desa mengakibatkan berubahnya pola kehidupan dalam masyarakat.

Dengan perubahan yang terjadi memperlihatkan bagaimana upaya eksploitasi yang dilakukan telah menyentuh inti kehiduupan dalam masyarakat, yakni masyarakat pedesaan.

Perubahan tersebut telah membawa dampak di daerah Afdeling Sidoarjo, Residensi Surabaya akibat adanya kontarak Arends. Kontrak ini berkaitan dengan sisitem sewa tanah, namun kontarak Arends lebih memeprlihatkan pengertian sebagai sisitem eksploitasi daerah persawahan bagi kehidupan perkebunan. Di wilayah ini tanah-tanah persawahan diubah oleh para pemilik pabrik tebu yang bekerja sama dengan para birokrat. Kerjasama yang terjalin antar pejabat tidak selamanya berjalan dengan baik. Konflik kemudian timbul anatar Bupatai Sidoarjo dengan wedana Bulang, yang memunculkan keresahan dan ketidak puasan masyarakat yang berlaku di daerah tersebut. Kenyataan itu akhirnya menimbulakan gejolak dalam masyarakat, sebagai bentuk protes dalam gerakan pemberontakan petani.

Dalam masyarakat Indonesia masa kolonial, peristiwa Gedangan atau Peristiwa Pemberontakan Kyai kaan Moekmin tahun 1904. gerakan tersebut pada dasarnya hanyalah peristiwa lokal, karena terjadi disorganisasi sosial dalam masyarakat di daerah pedesaan Jawa dalam bentuk eksploitasi tanaman agroindustri terhadap daerah persawahan.

Politik penetrasi Belanda yang mengubah tanah lebih industrialis menyebabkan terjadinya pemberontakan tersebut. Pengubahan tanah-tanah banyak terjadi di daerah indutri gula yang menyebabkan tuan-tuan tanah bisa bertindak sewenang-wenang dan seakan-akan penduduk yang menempati tanah tersebut sebagai “budak”. Penindasan yang dilakuan oleh tuan tanah menyebabkan rasa aman dan tentram serta kepercayaan terhadap atasan menjadi berkurang.

Gerakan sosial memuncul bahwa pegawai pemerintah, tuan tanah sebagai sasaran utama bagi luapan rasa benci, dendam dari rakyat yang spontan. Kemudian, munculnya ide-ide tentang keagamaan terutama tentang Ratu adil atau Messianistis. Gerakan yang bersifat magico-religius seperti praktek perdukunan, pemberian jimat-jimat dan penghidupan kembali tokoh zaman kuno.

Resensi atas artikel State Without Cities:Demographic Trends in Early Java oleh Jan Wissman Chhristie

Urbanisasi Pada Masa Awal Sejarah Jawa

Terjadinya peningkatan populasi di pulau Jawa yang disurvey pertama kali oleh Raffles yakni 4,5 juta kemudian tahun 1900 pula disurvey lagi dengan jumlah penduduk mencapai 30 juta. Hal itu telah menyebabkan terjadinya ledakan pendududk. Ledakan penduduk yang oleh Jan Wissman Chirtie tidak mencakup seluruh wilayah pulau Jawa, namun hanya meliputi jawa rengah dan jawa timur. Chirtie melihat tentang ditribusi populasi di pulau Jawa yang berbeda. Distribusi populasi eliputi wilayah di daerah-daerah partikelir, dan faktor-faktor yang menyebakan urbanisasi.

Reid mengetakan bahwa populasi yang terjadi di tanah-tanah partikelir di Jawa Tengah dan Jawa Timur akaibat dari struktur ekonopmi koloniaol. Struktur ini dibangaun oleh kolonialisme di Asia tenggara pada abad 16 dan abad 17.hal itu disebabakan karena Asia Tenggara sudah menjadi daerah urbanisasi global. Tetapi Chirtie berpendapat bahwa pola pertumbuhan dan populasi di jawa tengah dan Jawa Timur sudah terjadi sebelum masa kolonial.

Menurut data Arkeologis, Jawa telah melakukan perdagangan barang tambang pada abad ke-3 sebeleum masehi dengan daerah di sebelah utara Vietnam. Pada masa perdangan pulau Jawa memiliki peranan penting sebagai daerah “Indianisasi”. Kemudian data yang diambil dari demografi Jawa sendiri memiliki potensi sebagai pengekspor tembaga, piring, dan batu sebagai sumber ekonomi masyarakat Jawa.

Dalam artikel Christie yang diterbitkan oleh Southeast Asia Program Publications at Cornell University membagai dalam tiga pokok bahasan.

Pertama, perkambpungan awal dan kecenderungan demografi. Pada abad ke-9 sampai abad ke-14 manusia jawa tinggal diadaerah yang subur terutama dekat dengan gunung berapi dan delta sungai. Sebelum thaun 929 dominasi kerjaan terletak di daerah gunung berapi di jawa tenfgah, kemudian akibat dari serangan dari Sriwijaya kekuasaan politik dipindahkan ke timur di delta Sungai Brantas. Pusat kekuasaan yang berda di delta sungai brantas melahirkan kerajaan seperti Kediri, Singosari, dan Majapahit.

Dalam perkembangan yang terjadi antara Jawa Tengah dan jawa Timur memiliki kesamaan dalam mobilitas pusat kekusaan. Seperti perpindahan kekuasaan kerajaan-kerajaan di jawa Timur. Kerajaan-kerajaan di Jawa Timur selalu melakukan perpindahan antara pegunungan di Mlanag sampai pada lembah sungai Brantas, lebih tepatnya di sekitar Trowulan. Perpindahan tersebut mengikuti perubahan yang terus-menerus terjadi. Sebagai contoh adalah perkembangan daerah Sima. Sima merupakan daerah yang dipromosikan dan mendapatkan perlkukan khusus mengenai pajak. Sima terbentuk karena perpindahan fungsi hutan menjadi persawahan yang dibatasi oleh jalur utama tau sungai. Kemudian Sima juga dijadikan tempat untuk membangun candi.

Kedua, perkampungan dan kominitas. Bahsan ini menganai perkembangan kampung yang dimulai dengan wnua, thani/karaman, duwan/duhan i dalem thani, paraduwan/paraduhan, dan desa tau dapur.

Wanua terbentuk dalam sebagai wilayah yang dibentuk oleh group-group pada masa awal pembukaan lahan. Group-group ini menetapkan batas-batas wilayah diantar group-group lainnya. Batas wilayah yang dibentuik merupakan batas lama seperti hutan, sungai, bukit, lembah dan sebagainya. Kemudian, wanua dipimpin oleh seorang landlord yang disebut sebagai karaman. Karaman sebagai pemimpin wanua dibantu oleh dewan pertimbangan yang disebut thani. Pada pertengahan abah ke-11 istilah thani diberikan bagi oranag yang memimpin duwan atau duhan, dusun kecil.  Kemudian istilah thani berubah ketika zaman Belanda dengan menggunakan istilah desa yang memiliki arti area.

Penggunaan istilah-istilah yang berbeda-beda dalam penyebutan suatu tempat yang hampir sama menunjukkan terdapat perkembangan. Penyebutan yang berbeda-beda karena area yang dicakup memiliki keluasan wilayah yang besar. Desa-desa tersebut akan membentuk sebuah kerajaan yang dijadikan sebagai tempat administrasi dan akomodasi dari setiap demografi yang berbeda untuk mengakomodasi segala kebutuhan.

Ketiga mengenai desentralisasi ekonomi. Desentralisasi ekonomi perlu dilandasi bahwa setiap derah memiliki sumber daya alam yang berbeda-beda, namun perlu adanya distribusi untuk mencukupi segala kebutuhan. Ekonomi jawa sudah dibangun sejak lama. Jawa melakukan perdagangan tertuama dengan Cina. Perdangan yang dilakukan yakni perdagangan emas dan perak. Barang dagangan dari cina meliputi keramik dan sutra. Hal itu menjadi bukti bahwa sudah terdapat jalur. Jalur perdagangan yang sudah terbentuk membentuk sebuah jaringan yang dikenal dengan istilah bakul. Bakul merupakan orang yang membeli barang dari  petani kemudian dijual kepada konsumen dan menjual barang dari pasar satu ke pasar lainnya. Kemudian istilah bakul berkembang pada sekitar abad ke-10 dengan sebutan abangan bakulan atau abakul. Bakul dalam perdagangannya tidak ditentukan dengan ukuran jumlah, atau spesialisasi pasar. Bakul secara sederhan adalah orang yang mendistribusikan barang.

Pendistribusian barang dagangan inilah yang mengakibatkan terjadinya urbanisasi. Perlu digaris bawahi bahwa proses urbanisasi bukan suatu proses yang terjadi begitu saja namun urbanisasi terjadi karena pertumbahan penduduk dan ekonomi.

Resume Artikel: Wahid Hasyim, “Kebangkitan Dunia Islam”, dalam Mimbar Agama, Tahun II, No 3-4 Maret-April 1951.

Semua Sudah Digariskan Islam sebagai sebuah cahay yang datang bagi zaman kegelapan jahiliyah. Zaman Jahiliyah yang berarti masyarakat kebodohan dan keburukan. Zaman jahiliayh yang diukur menurut kecakapan menindas, berlaku curang dan harkat maupun pangkat. Tentu saja, pola dan cara berpikir zaman itu yang utama adalah hawa nafsu. Alhamdulillah, kehancuran masyarakat jahiliayh bisa ditolong oleh cahaya Islam. Cahaya Islam datang dibawa oleh utusan Allah yakni Muhammad. Sejak Muhammad hingga kekaisan Cordoba, Islam mencukur dunia dan menyebarkan peradabannya. Peradaban yang didasarkan keadilan, kemanusiaan dan persaudaraan. Akibat kesalahan dari pemuka Islam maka keluhuran dan kemuliannya itu berangsur hilang. Setelah duduk di kursi kemuliaan dan kejayaan mak akhlak luhur dan budi pekerti baik mereka, mulai luntur dan terjun ke bawah sifat-sifat yang menjadi kekuatan mereka berubah menjadi sikap nafsi-nafsi , akhirnya kegemilangan mereka lenyap. Kapan islam akan bangkit? Kejatuhan Islam akibat dari pribadi mereka sendiri-sendiri; pribadi-pribadi yang memmentingkan rasionalisme dan terjebak pada hawa nafsu. Kebangkitan itu akan muncul ketika pikiran telah tertumbuk rasionalisme tidak dapat dipaki lagi dan masih ada jalan yang tidak pernah tertutup yakni berharapo pertolongan Allah. Dalam Islam sendiri, tahu bahwa akan dan otak yang sehat sangat dihargai. Muhammad bersabda, “Tidak terdapat agama, bagi yang tidak berakal?”. Islam tahu bahwa ajaran-ajarannya adalah tahan uji sehingga bibit Islam kuat yakni pada Ali Imran 159, “Jika Engkau telah mengambil kepastian maka tawakallah pada Allah”. Hal ituhal itu sangat tergantung terhadap waktu kapan Islam akan kembali berjaya. Dunia yang tidak tetap, dunia silih berganti, sudah di jelaskan dalam Al Qur’an Ali Imran 140, “Bahwasanya masa kemuliaan itu kami buat berganti-ganti di antara semua manusia. Dengan keadaan seperti itu kita perlu bersyukur. Seperti halnya peperangan, peperangan tidak sebagai sudut yang gelap. Namun, peperangan sebagi hal yang harus disambut dengan penuh sukacita. Dalam Al-Baqoroh 251, “Kalau Allah tidak mentakdirkan manusia semua tolak-menolak (peperangan) anatar golongan satu dengan lainnya tentu bumi akan rusak. Jadi, sisi baik perang adalah tidak adanya golongan yang terus-menerus berkuasa atau menindas. Dengan perang, bangsa barat yang selama ini menindas akan lemah jiwanya. Lemah jiwanya bangsa barat akan membuat besar hati bangsa Timur, khusunya umat Islam. Negeri-negeri yang lemah akan menjadi besar, seperti dalam surat Al-Qasash ayat 5,”Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”, Sebagai penutup Suarat An-Nahl, “dan ucapkanlah, hai Muhammad bahwasanya segal pujian bagi Allah, ia akan menunjukkan tanda-tanda (kebesaran-Nya) dan kamu sekalian tentu akan mengetahui tanda-tanda itu. Tuhan-Mu tidaak akan lupa perbuatan-perbuatan yang dilakukan mereka itu?”. Semuanya tergantung akan waktu bila Islam akan bangkit. Belum dijabarkan tentang kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh umat Islam sehingga mengalami kemunduran. Bila ingin mewujudkan kembali kejayaan islam, konsep “perang” perlu diperbaharui. Hal ini, terkait dengan kemajuan zaman. Saat ini yang bisa dilakukan adalah “perang” dalam pengertian seluas-luasnya (perang bukan dalam wujud fisik) dan yakin terhadap firman Tuhan (tawakkal) serta menunggu dengan penuh keyakinan bahwa kejayaan pasti akan datang.

Urbanisasi Pada Masa Awal Sejarah Jawa

TANAYA YUKA P/13592 <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } -

Resensi atas artikel State Without Cities:Demographic Trends in Early Java oleh Jan Wissman Chhristie

Urbanisasi Pada Masa Awal Sejarah Jawa

Terjadinya peningkatan populasi di pulau Jawa yang disurvey pertama kali oleh Raffles yakni 4,5 juta kemudian tahun 1900 pula disurvey lagi dengan jumlah penduduk mencapai 30 juta. Hal itu telah menyebabkan terjadinya ledakan pendududk. Ledakan penduduk yang oleh Jan Wissman Chirtie tidak mencakup seluruh wilayah pulau Jawa, namun hanya meliputi jawa rengah dan jawa timur. Chirtie melihat tentang ditribusi populasi di pulau Jawa yang berbeda. Distribusi populasi eliputi wilayah di daerah-daerah partikelir, dan faktor-faktor yang menyebakan urbanisasi.

Reid mengetakan bahwa populasi yang terjadi di tanah-tanah partikelir di Jawa Tengah dan Jawa Timur akaibat dari struktur ekonopmi koloniaol. Struktur ini dibangaun oleh kolonialisme di Asia tenggara pada abad 16 dan abad 17.hal itu disebabakan karena Asia Tenggara sudah menjadi daerah urbanisasi global. Tetapi Chirtie berpendapat bahwa pola pertumbuhan dan populasi di jawa tengah dan Jawa Timur sudah terjadi sebelum masa kolonial.

Menurut data Arkeologis, Jawa telah melakukan perdagangan barang tambang pada abad ke-3 sebeleum masehi dengan daerah di sebelah utara Vietnam. Pada masa perdangan pulau Jawa memiliki peranan penting sebagai daerah “Indianisasi”. Kemudian data yang diambil dari demografi Jawa sendiri memiliki potensi sebagai pengekspor tembaga, piring, dan batu sebagai sumber ekonomi masyarakat Jawa.

Dalam artikel Christie yang diterbitkan oleh Southeast Asia Program Publications at Cornell University membagai dalam tiga pokok bahasan.

Pertama, perkambpungan awal dan kecenderungan demografi. Pada abad ke-9 sampai abad ke-14 manusia jawa tinggal diadaerah yang subur terutama dekat dengan gunung berapi dan delta sungai. Sebelum thaun 929 dominasi kerjaan terletak di daerah gunung berapi di jawa tenfgah, kemudian akibat dari serangan dari Sriwijaya kekuasaan politik dipindahkan ke timur di delta Sungai Brantas. Pusat kekuasaan yang berda di delta sungai brantas melahirkan kerajaan seperti Kediri, Singosari, dan Majapahit.

Dalam perkembangan yang terjadi antara Jawa Tengah dan jawa Timur memiliki kesamaan dalam mobilitas pusat kekusaan. Seperti perpindahan kekuasaan kerajaan-kerajaan di jawa Timur. Kerajaan-kerajaan di Jawa Timur selalu melakukan perpindahan antara pegunungan di Mlanag sampai pada lembah sungai Brantas, lebih tepatnya di sekitar Trowulan. Perpindahan tersebut mengikuti perubahan yang terus-menerus terjadi. Sebagai contoh adalah perkembangan daerah Sima. Sima merupakan daerah yang dipromosikan dan mendapatkan perlkukan khusus mengenai pajak. Sima terbentuk karena perpindahan fungsi hutan menjadi persawahan yang dibatasi oleh jalur utama tau sungai. Kemudian Sima juga dijadikan tempat untuk membangun candi.

Kedua, perkampungan dan kominitas. Bahsan ini menganai perkembangan kampung yang dimulai dengan wnua, thani/karaman, duwan/duhan i dalem thani, paraduwan/paraduhan, dan desa tau dapur.

Wanua terbentuk dalam sebagai wilayah yang dibentuk oleh group-group pada masa awal pembukaan lahan. Group-group ini menetapkan batas-batas wilayah diantar group-group lainnya. Batas wilayah yang dibentuik merupakan batas lama seperti hutan, sungai, bukit, lembah dan sebagainya. Kemudian, wanua dipimpin oleh seorang landlord yang disebut sebagai karaman. Karaman sebagai pemimpin wanua dibantu oleh dewan pertimbangan yang disebut thani. Pada pertengahan abah ke-11 istilah thani diberikan bagi oranag yang memimpin duwan atau duhan, dusun kecil. Kemudian istilah thani berubah ketika zaman Belanda dengan menggunakan istilah desa yang memiliki arti area.

Penggunaan istilah-istilah yang berbeda-beda dalam penyebutan suatu tempat yang hampir sama menunjukkan terdapat perkembangan. Penyebutan yang berbeda-beda karena area yang dicakup memiliki keluasan wilayah yang besar. Desa-desa tersebut akan membentuk sebuah kerajaan yang dijadikan sebagai tempat administrasi dan akomodasi dari setiap demografi yang berbeda untuk mengakomodasi segala kebutuhan.

Ketiga mengenai desentralisasi ekonomi. Desentralisasi ekonomi perlu dilandasi bahwa setiap derah memiliki sumber daya alam yang berbeda-beda, namun perlu adanya distribusi untuk mencukupi segala kebutuhan. Ekonomi jawa sudah dibangun sejak lama. Jawa melakukan perdagangan tertuama dengan Cina. Perdangan yang dilakukan yakni perdagangan emas dan perak. Barang dagangan dari cina meliputi keramik dan sutra. Hal itu menjadi bukti bahwa sudah terdapat jalur. Jalur perdagangan yang sudah terbentuk membentuk sebuah jaringan yang dikenal dengan istilah bakul. Bakul merupakan orang yang membeli barang dari petani kemudian dijual kepada konsumen dan menjual barang dari pasar satu ke pasar lainnya. Kemudian istilah bakul berkembang pada sekitar abad ke-10 dengan sebutan abangan bakulan atau abakul. Bakul dalam perdagangannya tidak ditentukan dengan ukuran jumlah, atau spesialisasi pasar. Bakul secara sederhan adalah orang yang mendistribusikan barang.

Pendistribusian barang dagangan inilah yang mengakibatkan terjadinya urbanisasi. Perlu digaris bawahi bahwa proses urbanisasi bukan suatu proses yang terjadi begitu saja namun urbanisasi terjadi karena pertumbahan penduduk dan ekonomi.

Biografi Singkat: Adolf “Jagal dari Jerman” Hitler

Agustinus Pambudi, The Death of Adolf Hitler Kematian Adolf Hitler, Yogyakarta: Narasi, 2005.

Buku ini merupakan buku yang ditujukan untuk pembaca narasi sejarah tanpa adanya analisis sejarah. Buku yang menularkan cerita mengalir saja bagaikan air. Buku ini lebih kepada biograpfi Adolf Hitler yang disajikan secara singkat. Perlu diakui ketika pertam kali membuka sampul buku ini, tidak terdapat ISBN, katalog perpustakaan nasional, kata pengantar dan pendahuluan. Bisa dikatakan bahwa buku ini adalah buku “siluman” dan buku populer saja. Bagian-bagian yang ditinggalkan terutama untuk kat pengantar dan pendahuluan/sebab musabab buku ini ditulis menyebabkan pembaca meraba-raba isi buku lebih dalam sehingga membuat ketertarikan bagi pembaca.

Buku ini merupakan biografi singkat dari Adolf Hitler. Buku ini secara baik telah membagi perjalan hidup Hitler dalam tiga babak kehidupan.

Ketiga babak kehidupan Hitler yakni.

Babak pertama adalahdari Wina ke seluruh Eropa (1889-1944). Hitler lahir Hitler lahir pada 20 April 1889 pukul 18.30, di Brunau yang terletak di pinggir Sungai Inn. Tempat kelahiran Hitler adalah sisi sungai yang termasuk kawasan Austria, sedangkan sisi lainnya di seberang sungai merupkan wilayah Jerman. Hitler tumbuh berkembang dengan cara bersusah payah untuk hidup. Masa-masa kesusahan Hitler terjadi ketika ia masih kanak-kanak hingga remaja. Kemudian ia mulai terjun ke dunia politik pad tahun 1919 dengan bergabung ke dalam partai buruh jerman—yang kelak berubah menjadi NAZI. Pada tahun 1923 Hitler melakukan pemberontakan yang meyebakan ia dipenjara. Di dalam penjara inilah Hitler menulis buku Mein Kampf (Perjuanganku) yang memuat ide-ide gila Hitler. Serta akhirnya, Hitler mampu meraih membentuk pasukan SS (Schutzstaffel). Pasukan yang memberikan kontribusi bagi Hitler untuk meraih kekuasaan Jerman. Setelah berhasil meraih kekuasaan Jerman Hitler segera melakukan tindakan-tindakan militer untuk menkalukkan Eropa. Pertam Hitler menaklukkan Austria dan Cekoslovakia, melakukan perjanjian tidak saling menyerang dengan Rusia, meyrang Polandia dengan istilah blitzkrieg (serangan kilat)

Babak kedua kehidupan Hitler adalah babak Kehancuran dan Pengkhianatan. Pengkhianatan dimulai dengan komplotan stauffenberg, yakni komplotan yang menginginkan kematian Hitler. Kehancuran-kehancuran Hitler mulai nampak ketika pasukan Inggris-Amerika dan Rusia mendekati pusat kekuasaan pada April 1945. dalam bab ini tidak hanya masalah perang saja yang dibicarakan dalam menunggu detik-detik kehancuran Hitler. Ada beberapa bab yang bisa digambarkan tidak sesuai dengan Bbai ini seperti cerita tentang ramalan Horoskop terhadap keyakinan bahwa Hitler akan membawa Jerman pada masa gemilang setelah Roosevelet meninggal, kemudian diceritakan pula tentang Eva Braun yang merupakan teman wanita Hitler. Setelah diajak keluar dari pembahasan. Pembaca dikembalikan lagi dengan suasana pertempuran detik-detik kehancuran Hitler. Mulai dari Serangan Baik dari pihak Sekutu untuk meruntuhkan Hitler sampai pada upaya pengkhianatan dari orang-orang kepercayaan Hitler. Orang-orang kepercayaan Hitler seperti Goering dan Himmler mulai melakukan pengkhianatan dengan menyatakan menyerah kepada Sekutu. Cerita-cerita ang dibenagun pada bab ini sungguhlah menarik dan enak dibaca. Terutam apada bagain pengkhianatan dan reaksi Hitler menjelang kekalahannya.

Pada pembahsan terakhir buku ini membahas mengenai Hemusan Nafas Terakhir. Hembusan Nafas terakhir ynag dimaksudkan adalah detik-detik terakhir sebelum Hitler mengakhiri kehidupannya dengan bunuh diri. Pada Bab ini yang paling miris dalah cerita tentang pembunuhan anak-anak Goebbels yang dibunuh dengan disuntik racun atas perintah aayahnya sendiri. Bab ini menceritakan hal-hal pilu seperti mayat Hitler, Eva Braun dan keluarga Goebbles kesemuanya dibakar untuk meninggalkan jejak bagi Sekutu. Setelah kematian Hitler inilah melalui jenderal Doenitz akhirnya Jreman menyerak kepad sekutu pada 7 Mei 1945. Dengan berkhirnya era Hitler mak berkahirnya sejarah kelan perang Dunia II yang terjadi di Eropa. Tak hanya itu saja, Hitler dianggap sebagai pencapaian terbesar dalam sejarah umat manusia yang tak akan bisa dicapai oleh Napoleon Bonaparte sekalipun dalam bidang wilayah taklukan Jerman pada masa kepemimpinan Hitler di Jerman.

Dengan begitu, buku ini perlu tinjaun lebih jauh lagi agar sesuai dengan kode etik penerbitan buku. Serta, buku ini bisa dijadikan sebagi bahan bacaan yang ringan dalam melihat kepemimpinan Adolf Hitler.