Oleh: sejarawan | September 29, 2009

Pemerintahan Desa di Bali akhir Abad 19

“Perubahan dalam berbagai aspek akan tampak pada gaya hidup seseorang yaitu suatu totalitas dari berbagai tatacara adat kebiasaan, mentalitas dari suatu golongan sosial secara menyeluruh mempengaruhi kehidupannya sehari-hari.”[1]

  1. A. Pendahuluan

Sistem tanah yang ada di Indonesia.  Muncul pertama sejak zaman Kutai, mengatur tanah sistem agama hindu, dan diatur pada kitab manawa Dharmasastra. Sistem tanah itu yang yang dipaki menyatakan bahwa tanah menjadi milik raja sehingga raja memiliki kekuasan absolute. Kekuasaan raja yang membutuhkan ekonomi. Ekonomi yang dibangun dengan meminta pajak dari rakyat.

Pembangunan sistem yang untuk penarikan pajak. Raja membutuhkan seorang mediator. Mediator inilah sebagai petugas yang menarik pajak dari rakyat.                                                                                    Petugas yang menarik pajak sering dijalankan oleh kepala desa. Pembangunan sisitem inilah yang disebut sebagi sistem birokrasi.

Sistem birokrasi yang dibangun tentu saja akan berbeda. Sistem birokrasi tradisional, struktur hierarki terdiri dari kelas penguasa pada tingkat atas yaitu raja beserta keluarganya dan para birokrat, sampai pada tingkat daerah. Puncak hierarki ditempati oleh raja yang memiliki otoritas tradisional yang telah diterimanya sebagai hak turun-temurun. Pihak penguasa memberi perlindungan dan pengayomaaan, sedangkan rakyat memberikan pelayanan, penghormatan, dan kesetiaan. Pribadi raja adalah sebagai pemilik kekuasaan di seluruh kerajaan, tercermin dalam struktur administrasi sesuai dengan sisitem politik patrimonial.[2]

Pada masa kolonial, pemerintah Hindia Belanda menjalankan sistem indirect rule dengan tujuan memanfaatkan struktur yang seefektif mungkin untuk mempertahankan kedudukan hegemoninya. Dengan demikian Belanda memberikan kesempatan bagi penguasa lokal untuk mempertahankan kedudukan otoritas tradisionalnya. Sistem pemerinthan seperti ini melahirkan dua bentuk pemerintahan yaitu pemerinthan pribumi di bawah seorang raja, dan yang kedua adalah pemerintahan sipil Belanda. Di Bali, puncak pimpinan dipegang oleh seorang residen yang kekuasaanya meliputi Bali dan Lombok, berkedudukan di Singaraja. Di bawah residenn adalah asisten-residen berkedudukan di Denpasar dan di Mataram Lombok, dan di masing-masing kerajaan ditempatkan kontrolir.

Sistem pemerintahan yang dualistik seperti itu berdampak pada perubahn sosial sejalan dengan proses modernisasi dan westernisasi. Pembukan sekolah-sekolah di Bali untuk tenaga-tenaga administratif kolonial, pada perkembangan selanjutnya membentuk klasifikasi golongan elite modern.

Perubahan-perubahan yang terjadi bersamaan dengan masuknya kebudaan barat menimbulkan perubahan-perubahan dalam berbagai aspek. Salah satu aspeknya adalah sistem birokrasi. Sistem birokrasi kolonial, kedudukan kontrolir sebagai pegawai sipil Belanda adalah sebagai penasihat raja dalam melaksanakan pembangunan di daerah dan sebagai perantara raja dengan asisten residen dan residen. Secara hirarki, kedudukan raja ada di bawah asisten residen dan residen sehingga apabila seorang residen atau asisten residen mengadakan kunjungan ke daerah, raja menerimanya di puri dengan upacara kebesaran dan jamuan pesta.

Hal-hal seperti diatas akan banyak mempengaruhai pola pemerintahan di desa. Tulisan ini akan mencoba untuk melihat perubahan-perubahan sistem birokrasi pemerintahan desa pada masa tradisional menuju masa kolonialisme. Baca Lanjutannya…

Akhir abad XIX atau awal abad XX bagi sejarah Indonesia adalah masa perubahan dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Modernisasi yang digalakkkan oleh pemerintah Kolonial mengakibatkan terjadinya perubahan pada struktur sosial masyarakat. Perubahan sosial dikarenakan kebijakan pemerintah dalam intensifikasi politik kolonial Belanda melalui birokrasi, komersialisasi, industrialisasi, edukasi, inovasi, dan renovasi teknologi pertanian. Dengan kata yang singkat adanya sistematisasi kebijakan ekonomi menuju arah kapitalisme.

Dalam konteksi ini perubahan sosial yang diacu adalah kebijakan kolonial tentang perekonomian. perekonomian kolonial sangatlah tergantung dengan pertania maupun perkebuann sehingga pemrintah mengambil kebijakan terutama untuk lahan perkebunan. Melalui perkebunan, terutama tebu menjadi salah satu primadona ekspor masyarakat dunia. Untuk mendapatkan ekspor yang maksimal pemerintah melakukan pembangunan jaringan pabrik didaerah-daerah. Pembanguan pabrik tebu tidak cukup dengan dibangun saja pabrik tebu memerlukan masyarakat sekitar pabrik untuk melakukan proses produksi.

Berkaitan dengan itu, dibutuhkan kerja sama antara pengusah pabrik tebu atau tuan tanah dan aparat birokrasi kolonial atau kaum feodal pribumi. Simbiosis antara ketiganya akan membawa dampak positif dengan menguatnya sistem feodal yang dibentuk. Simbiosis merupakan instrument terpenting dalam menjalankan eksploitasi agraria dengan sejumlah peraturan yang memperlihatkan pada pengertian hadirnya sisitem hukum barat di wilayah Hindia Belanda.

Selain terjalinnya simbiosis yang baik tak lupa lahan pertanian sebagai faktor produksi yang penting. Lahan pertanian terutama di Jawa  pada kurun waktu itu diusahakan oleh pemodal swasta Eropa. Dengan demikian, komunitas desa di Jawa dapat dibedakan menjadi desa perkebunan dan desa non perkebunan, yaitu pedesaan yang tak disewakan oleh perusahaan perkebunan dan pedesaan perkebunan, yaitu pedesaan yang lahan pertanianannya disewa oleh perusahaan perkebunan. Perubahan pada desa mengakibatkan berubahnya pola kehidupan dalam masyarakat.

Dengan perubahan yang terjadi memperlihatkan bagaimana upaya eksploitasi yang dilakukan telah menyentuh inti kehiduupan dalam masyarakat, yakni masyarakat pedesaan.

Perubahan tersebut telah membawa dampak di daerah Afdeling Sidoarjo, Residensi Surabaya akibat adanya kontarak Arends. Kontrak ini berkaitan dengan sisitem sewa tanah, namun kontarak Arends lebih memeprlihatkan pengertian sebagai sisitem eksploitasi daerah persawahan bagi kehidupan perkebunan. Di wilayah ini tanah-tanah persawahan diubah oleh para pemilik pabrik tebu yang bekerja sama dengan para birokrat. Kerjasama yang terjalin antar pejabat tidak selamanya berjalan dengan baik. Konflik kemudian timbul anatar Bupatai Sidoarjo dengan wedana Bulang, yang memunculkan keresahan dan ketidak puasan masyarakat yang berlaku di daerah tersebut. Kenyataan itu akhirnya menimbulakan gejolak dalam masyarakat, sebagai bentuk protes dalam gerakan pemberontakan petani.

Dalam masyarakat Indonesia masa kolonial, peristiwa Gedangan atau Peristiwa Pemberontakan Kyai kaan Moekmin tahun 1904. gerakan tersebut pada dasarnya hanyalah peristiwa lokal, karena terjadi disorganisasi sosial dalam masyarakat di daerah pedesaan Jawa dalam bentuk eksploitasi tanaman agroindustri terhadap daerah persawahan.

Politik penetrasi Belanda yang mengubah tanah lebih industrialis menyebabkan terjadinya pemberontakan tersebut. Pengubahan tanah-tanah banyak terjadi di daerah indutri gula yang menyebabkan tuan-tuan tanah bisa bertindak sewenang-wenang dan seakan-akan penduduk yang menempati tanah tersebut sebagai “budak”. Penindasan yang dilakuan oleh tuan tanah menyebabkan rasa aman dan tentram serta kepercayaan terhadap atasan menjadi berkurang.

Gerakan sosial memuncul bahwa pegawai pemerintah, tuan tanah sebagai sasaran utama bagi luapan rasa benci, dendam dari rakyat yang spontan. Kemudian, munculnya ide-ide tentang keagamaan terutama tentang Ratu adil atau Messianistis. Gerakan yang bersifat magico-religius seperti praktek perdukunan, pemberian jimat-jimat dan penghidupan kembali tokoh zaman kuno.

Urbanisasi Pada Masa Awal Sejarah Jawa

Terjadinya peningkatan populasi di pulau Jawa yang disurvey pertama kali oleh Raffles yakni 4,5 juta kemudian tahun 1900 pula disurvey lagi dengan jumlah penduduk mencapai 30 juta. Hal itu telah menyebabkan terjadinya ledakan pendududk. Ledakan penduduk yang oleh Jan Wissman Chirtie tidak mencakup seluruh wilayah pulau Jawa, namun hanya meliputi jawa rengah dan jawa timur. Chirtie melihat tentang ditribusi populasi di pulau Jawa yang berbeda. Distribusi populasi eliputi wilayah di daerah-daerah partikelir, dan faktor-faktor yang menyebakan urbanisasi.

Reid mengetakan bahwa populasi yang terjadi di tanah-tanah partikelir di Jawa Tengah dan Jawa Timur akaibat dari struktur ekonopmi koloniaol. Struktur ini dibangaun oleh kolonialisme di Asia tenggara pada abad 16 dan abad 17.hal itu disebabakan karena Asia Tenggara sudah menjadi daerah urbanisasi global. Tetapi Chirtie berpendapat bahwa pola pertumbuhan dan populasi di jawa tengah dan Jawa Timur sudah terjadi sebelum masa kolonial.

Menurut data Arkeologis, Jawa telah melakukan perdagangan barang tambang pada abad ke-3 sebeleum masehi dengan daerah di sebelah utara Vietnam. Pada masa perdangan pulau Jawa memiliki peranan penting sebagai daerah “Indianisasi”. Kemudian data yang diambil dari demografi Jawa sendiri memiliki potensi sebagai pengekspor tembaga, piring, dan batu sebagai sumber ekonomi masyarakat Jawa.

Dalam artikel Christie yang diterbitkan oleh Southeast Asia Program Publications at Cornell University membagai dalam tiga pokok bahasan.

Pertama, perkambpungan awal dan kecenderungan demografi. Pada abad ke-9 sampai abad ke-14 manusia jawa tinggal diadaerah yang subur terutama dekat dengan gunung berapi dan delta sungai. Sebelum thaun 929 dominasi kerjaan terletak di daerah gunung berapi di jawa tenfgah, kemudian akibat dari serangan dari Sriwijaya kekuasaan politik dipindahkan ke timur di delta Sungai Brantas. Pusat kekuasaan yang berda di delta sungai brantas melahirkan kerajaan seperti Kediri, Singosari, dan Majapahit.

Dalam perkembangan yang terjadi antara Jawa Tengah dan jawa Timur memiliki kesamaan dalam mobilitas pusat kekusaan. Seperti perpindahan kekuasaan kerajaan-kerajaan di jawa Timur. Kerajaan-kerajaan di Jawa Timur selalu melakukan perpindahan antara pegunungan di Mlanag sampai pada lembah sungai Brantas, lebih tepatnya di sekitar Trowulan. Perpindahan tersebut mengikuti perubahan yang terus-menerus terjadi. Sebagai contoh adalah perkembangan daerah Sima. Sima merupakan daerah yang dipromosikan dan mendapatkan perlkukan khusus mengenai pajak. Sima terbentuk karena perpindahan fungsi hutan menjadi persawahan yang dibatasi oleh jalur utama tau sungai. Kemudian Sima juga dijadikan tempat untuk membangun candi.

Kedua, perkampungan dan kominitas. Bahsan ini menganai perkembangan kampung yang dimulai dengan wnua, thani/karaman, duwan/duhan i dalem thani, paraduwan/paraduhan, dan desa tau dapur.

Wanua terbentuk dalam sebagai wilayah yang dibentuk oleh group-group pada masa awal pembukaan lahan. Group-group ini menetapkan batas-batas wilayah diantar group-group lainnya. Batas wilayah yang dibentuik merupakan batas lama seperti hutan, sungai, bukit, lembah dan sebagainya. Kemudian, wanua dipimpin oleh seorang landlord yang disebut sebagai karaman. Karaman sebagai pemimpin wanua dibantu oleh dewan pertimbangan yang disebut thani. Pada pertengahan abah ke-11 istilah thani diberikan bagi oranag yang memimpin duwan atau duhan, dusun kecil.  Kemudian istilah thani berubah ketika zaman Belanda dengan menggunakan istilah desa yang memiliki arti area.

Penggunaan istilah-istilah yang berbeda-beda dalam penyebutan suatu tempat yang hampir sama menunjukkan terdapat perkembangan. Penyebutan yang berbeda-beda karena area yang dicakup memiliki keluasan wilayah yang besar. Desa-desa tersebut akan membentuk sebuah kerajaan yang dijadikan sebagai tempat administrasi dan akomodasi dari setiap demografi yang berbeda untuk mengakomodasi segala kebutuhan.

Ketiga mengenai desentralisasi ekonomi. Desentralisasi ekonomi perlu dilandasi bahwa setiap derah memiliki sumber daya alam yang berbeda-beda, namun perlu adanya distribusi untuk mencukupi segala kebutuhan. Ekonomi jawa sudah dibangun sejak lama. Jawa melakukan perdagangan tertuama dengan Cina. Perdangan yang dilakukan yakni perdagangan emas dan perak. Barang dagangan dari cina meliputi keramik dan sutra. Hal itu menjadi bukti bahwa sudah terdapat jalur. Jalur perdagangan yang sudah terbentuk membentuk sebuah jaringan yang dikenal dengan istilah bakul. Bakul merupakan orang yang membeli barang dari  petani kemudian dijual kepada konsumen dan menjual barang dari pasar satu ke pasar lainnya. Kemudian istilah bakul berkembang pada sekitar abad ke-10 dengan sebutan abangan bakulan atau abakul. Bakul dalam perdagangannya tidak ditentukan dengan ukuran jumlah, atau spesialisasi pasar. Bakul secara sederhan adalah orang yang mendistribusikan barang.

Pendistribusian barang dagangan inilah yang mengakibatkan terjadinya urbanisasi. Perlu digaris bawahi bahwa proses urbanisasi bukan suatu proses yang terjadi begitu saja namun urbanisasi terjadi karena pertumbahan penduduk dan ekonomi.

Oleh: sejarawan | Juni 26, 2009

Kuliah Umum Dari Sumio Fukami

Ketika memulai seminar Sumio mengajak peserta seminar untuk mendiskusikan tentang tujuan Jepang menduduki asia tenggara? Tujuan jepang menduduki asia tenggara disebabkan oleh beberapa faktor yakni doktrin Hakko I Chiu, untuk memutuskan bantuan negara-negar sekutu terhadap China, dan untuk mendapatkan bahan-bahan perang, karena Jepang sangat membutuhkan minyak tanah.

Jepang sebagai negara indutrialsisasi pertama di Asia sangat membutuhkan barang tambang untuk mendudukung proses produksi. Beberapa barang tambah diimport dari negara-negara asia dan sebagai oleh Amerika serikat. Jepang pada saat itu sangatlah membutuhkan minyak tanah, sehingga jepang mengimport minyak tanah dari Amerika Serikat. Sebagai negara industri, Jepang ingin membangun industri layaknya amerika. Bisa dilihat daya produksi Jepang dan AS 1939 dan 1944

Besi (000 ton) Minyak tanah (juta barel) Listrik (10 juta kilowatt)
Jepang Amerika Beda (lipat) Jepang Amerika Beda (lipat) Jepang Amerika Beda (lipat)
1939 840 57.560 68 2,7 1.265,0 470 246 1.064 4
1940 3.590 95.140 26 0,8 1.677,0 2100 272 1.902 7

Perang yang dialkukan peratam kali oleh jepang adalah perang melawan Cina 1937. Perang ini akibat dari membatsan import minyak tanah dari amerika serikat. Setelah melakukan invasi ke cina jepang mulai melakukan invasi ke ke negara-negara asia tengara. Asia tenggara sebagai objek pendudukan karena asia tenggara memiliki banyak susmber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung perang jepang.

Kemudian sumio membahas tentang istilah atau nama-nama perang yang dilakukan oleh jepang. Sumio memilah nama-nam perang dalam jepang sentris dan amerika sentris.

Amerika sentris Perang Dunia II

Perang Eropah

Perang Pasifik

Perang Asia Timur Raya

Perang Asia Pasifik

1-9-1939 s.d 14-8-1945

1-9-1939 s.d. 7-5-1945

8-12-1941 s.d 14-8-1945

Jepang sentris Peristiwa Cina

Perang Jepang-Cina

Perang Perlawanan Terhadap Invasi Jepang

Perang Asia Timur Raya

7-7-1937 s.d 14-8-1945

Menurut sumio pedapat amerika sentris kurang benar, karena menurut letak geografis asia tenggar terletak diantar samudera pasifik dengan samudera hindia. Perang yang dilakukan pun juga tidak hany terjadi di pasifik saja namun pernag secar keseluruhan di asia tenggara.

Menurut pendapat penulis, bangsa Indonesia tidak mempermaslahkan antara Amerika sentris dengan jepang sentris. Pemahaman bangsa Indoensai seruap yakni pemahamn tentang perang pasifik sama dengan perang asia timur raya. Hal itu, dikarenakan bahwa bangsa Indonesia pada waktu itu tidak melakukan perlawanan terhadap jepang. Bangsa indonesia hanya tahu bahwa jepang melawan sekutu.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori