Ramadhan Dalam Implementasi Pemikiran Martin Buber

martin buber

Di tengah-tengah bulan yang mulia yakni Ramadhan, banyak hal yang bisa dipelajari dan diambil hikmahnya. Ramadhan telah mengajarkan banyak hal mulai dari ketaqwaan dan solidaritas sosial. Ramadhan mengajarkan untuk memperbaiki hubungan vertikal dan horizontal. Hubungan vertikal yakni hubungan dengan Tuhan diperbaiki dengan banyak melakukan amaliyah sunnah seperti dzikir, shalat sunnah dan membaca Al-Qur’an. Hubungan Horizontal direpresentasikan dengan memberikan makan bagi orang yang berpuasa serta mengeluarkan zakat bagi yang mampu. Kesemuanya berguna untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah.

Dalam beberapa hal, pernah terjadi kasus pembagian zakat yang mengakibatkan tewasnya para penerima zakat akibat berdesak-desakan. Kasus seperti itu haruslah tidak berulang setiap tahunnya. Pembagian zakat merupakan sesuatu hal yang baik dan sangat dicintai oleh Allah, namun pelaksanaan pembagian zakat perlulah ditata. Kasusu intolerir dalam beragama sudah sering diberitakan diberbagai media massa yang menyulut pada tindak kekerasan. Bahkan dibeberapa wilayah terdapat aksi trawuran warga ditengah-trengah bulan suci seperti ini.

Ketaatan di dalam bulan Ramadhan yang tidak hanya dalam artian sempit yakni hanya dalam menjalankan syariat belaka. Namun, ketaatan kepada Allah bisa diwujudkan dengan relasi sosial. Banyak orang yang lupa bahwa memperlakukan orang lain dengan baik merupakan sebuah ketaatan yang ditujukan untuk Allah.

Seorang filsuf yang bernama Martin Buber mengatakan bahwa manusia akan menjadi manusia yang sesungguhnya hanya bila ia memperlakukan orang lain atau sesuatu sebagai subjek atau pribadi, tanpa maksud memperalat. Kenyataan yang terjadi hingga saat ini justru sebaliknya. Manusia memperalat manusia lainnya, manusia tidak memberikan penghargaan kepada manusia lain bahkan cenderung untuk mengekploitasi.

Hubungan manusia menurut Buber tercermin dalam tiga hal yakni, hubungan manusia yang bersifat eksploitasi; hubungan manusia yang bersifat relasi dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Hubungan manusia yang bersifat ekploitasi berarti sama halnya merendahkan derajat manusia diantara manusi lainnya. Hubungan ini seperti ini bisa menimbulkan friksi-friksi ketidakpuasan dan bisa berujung pada pertikaian. Hubungan yang bersifat relasi adalah hubungan memanusiakan manusia lainnya. Hubungan yang dilandasi dengan sikap kasih sayang dan cinta kasih sehingga antar manusia tidak merasa diperalat maupun direndahkan. Hubungan yang terakhir adalah hubungan manusia dengan Tuhannya yang banyak diatur dalam aturan beragama dan aturan-aturan sosial.

Di bulan Ramadhan ini banyak hal yang telah dilakukan manusia terutama untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhannya. Namun, seyogyanya manusia juga memperbaiki hubungan antar sesama manusia agar ketaatan menjadi lebih sempurna

Dalam Al-Qur’an juga telah diterangkan, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebijakan, memberi kepada kamu kerabat, dan Allah  melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Surah 16: 90)”.

Pergumulan antar manusia pun telah diatur oleh Allah. Hubungan antara manusia haruslah dilandasi dengan sikap kasih sayang, keadilan dan kebijaksanaan. Sesama manusia juga dilarang untuk saling menyakiti satu sama lainnya sehingga bisa terhindar dari permusuhan. Serta, manusia selalu harus belajar dari masa lampau. Dengan belajar dari masa lampau manusia telah berusaha agar hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Sesungguhnya rugi manusia yang telah menyianyiakan masa yang telah lewat tanpoa mengambil pelajaran dari masa lampau.

Hubungan ketaqwaan sosial yang selalu diupayakan untuk dijalankan dan disertai dengan mengambil pengalaman yang telah dilalui diharapkan manusia bisa “berjumpa” dengan Tuhannya. Perjumpaan dengan Tuhan tidak hanya melalui ritual-ritual belaka yang rutin dan “kering”. Ritual-ritual yang dilakukan amat rutin memungkinkan seseorang tidak “berjumpa” dengan Tuhannya sehingga bisa menyebabkan frustasi. Oleh sebab itu, baik lembaga keagamaan, masyarakat dan manusia itu sendiri seyogyanya untuk kembali menyelaraskan kehidupan dengan manusia lainnya dan bisa memberikan manfaat berkesinambungan bagi manusia lainnya.

About sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: