Sejarah Ditangan Sejarawan: Studi Mengenai ke-Islamisasi Ilmu Sejarah

“Pelajarilah ilmu-ilmu lama dan hindarilah ilmu-ilmu yang baru”

(Dalam Kitab Ta’limul Muta’alim)

Pengantar

Proses akselerasi antara keilmuan barat dengan keilmuan Islam akan membuat dialektika pengetahuan dan nilai yang selalu menarik diikuti. Dialektika pengetahuan barat mengalami kemajuan dengan menciptakan banyak teknologi yang berguna membantu kerja manusia, namun ilmu pengetahuan barat yang hanya bersumber pada kekuatan akal, menjadikan keilmuan menjadi kering dalam nilai. Keilmuan Islam memiliki keunggulan dalam nilai pengetahuan yang diwujudkan dengan akhlak terpuji dari pengguna ilmu tersebut.

Perbedaan keduanya dengan anggapan bahwa keilmuan barat telah mengalami kegagalan dan saatnya berkembangnya keilmuan Islam, maka Islamisasi dalam ilmu pengetahuan menjadi penting. Islamisasi pengetahuan tidak hanya berkutat dalam ilmunya namun juga pengguna dari ilmu tersebut. Islamisasi pengetahuan bermanfaat untuk pengembangan akal manusia, namun disertai dengan akhlak yang terpuji dalam pemanfaatan ilmu.

 

Sejarah sebagai Ilmu Kontemporer

Sekat-sekat sejarah sebagai ilmu kontemporer terletak pada metode heuristik, verifikasi dan intrepretasi. Kontemporer sejarah diperlihatkan dalam pengumpulan sumber sejarah dengan memperlihatkan sisi pemilihan sumber-sumber sejarah yang berguna dan yang tidak, baik yang primer maupun yang sekunder. Hanya sumber-sumber yang memiliki nilai sejarah sajalah yang patut diperhatikan. Sisi verifikasi sumber diperlihatkan dari sejarawan yang melakukan kritikan. Kritikan yang bersifat keras tentu sudah ada metode yang digunakan, namun untuk kritik lunak tentu berbeda dari setiap sejarawan untuk melakukannnya.

Proses intrepretasi dalam penelitian sejarah akan menimbulkan fakta sejarah. Fakta sejarah muncul sebagai hasil penyelidikan secara kritis yang ditarik dari sumber-sumber sejarah. Fakta merupakan pernyataan, rumusan atau kesimpulan dari kejadian/realitas sehari-hari tersebut. Fakta yang dikeluarkan oleh seorang sejarawan satu dengan yang lainnya tentu saja berbeda. Perbedaan sejarawan dalam intrepretasi karena kondisi kontemporer yang dihadapi oleh sejarawan. Kondisi dari peneliti maupun objek penelitian sangat mempengaruhi fakta yang akan dikeluarkan.

Sejarah dalam penulisannya pun juga memperhatikan hal-hal kontemporer. Sejarah dalam keperluan praktis digunakan untuk memberikan gambaran tentang masa lampau. Tata praktis sejarah digunakan untuk pengambilan keputusan ke depan dengan memperhatikan sejarah yang telah dilalui. Sejarah sebagai pedoman bertindak dalam menghadapi situasi kekinian, walaupun sejarah tidak menawarkan kepastian terhadap perspektif masa depan.[1]

Membangun Perpektif KeIslaman

Ada dua hal yang perlu dipahami dalam mengislamkan ilmu sejarah, yaitu mengenai sejarah sebagai metode penelitian dan sejarah sebagai sebuah ilmu mengenai masa lampau.

Dalam penggunaan metode sejarah, yang perlu ditekankan pertama kalinya adalah mengenai pemilihan topik penelitian. Pemilihan topik dalam pengangkatan “Islamisasi” pengetahuan sungguh penting untuk menunjukkan peran Islam dalam sebuah peristiwa sejarah. Penulisan sejarah yang banyak didominasi oleh sejarah penguasa, pemerintah, negara atau orang yang berpengaruh perlu ada antitesis terhadap penulisan sejarah seperti itu. Antitesis penulisan sejarah tersebut dengan banyak mengangkat tulisan sejarah yang berbau masyarakat. Wacana penulisan sejarah tentang “wong cilik” untuk menuliskan sejarah orang yang tidak memiliki sejarah. Pendekatan sejarah wong cilik akan membangun nilai kesejarahan dengan kerangka analisis yang menjelaskan dinamika dan perkembangan sejarah, khusunya sejarah sosial-politik umat Islam di Indonesia.[2]

Pergumulan sejarah sosial-politik umat Islam tentu memiliki tema-tema mengenai pergumulan antar kelas sosial dan tokoh-tokoh Islam yang berjuang dengan negara. Seperti yang dicontohkan dalam karya karangan Ibrahim Alfian yang berjudul Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912.

Pemilihan tema menjadi sangat penting karena disitulah maksud dan tujuan sejarawan untuk menyampaikan informasi. Penulisan sejarah akan membawa dampak pada yang positif maupun negatif. Pada akhir penulisan karangan sejarah akan memberikan sebuah penilain dari suatu peristiwa. Penilaian suatu peristiwa bersifat subjektif tergantung kepada si pembaca cerita sejarah tersebut.

 

Membangun Kerangka Berpikir Sejarawan

Peristiwa sejarah yang direkontruksi memerlukan midset dari sejarawan sendiri. Islamisasi pengetahuan harus dimulai dari si penulis sejarah. Sejarawan/penulis sejarah sebagai pijakan awal dari terselenggranya penulisan/rekontruksi sejarah. Ilmu yang melatarbelakangi sejarawan akan membuat perbedaan dalam penulisan sejarah. Pandangan sejarawan haruslah dibangun dengan ilmu yang berpijakan tentang worldview Islam. Pijakan awal bagi seorang sejarawan adalah ilmu yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama.

Ilmu agama diperlukan untuk proses penghambaan dan sikap ketawadu’an. Sikap ini yang perlu dikembangkan agar, seorang ilmuwan tidak jatuh dalam jurang kesombongan. Sikap seorang ilmuwan Islam haruslah menunjukkan keislaman dengan cara memiliki tata krama yang baik. Sungguh disayangkan bila seseorang memilik pengetahuan yang hebat namun melakukan tindakan tercela.

Bila dasar seorang peneliti sejarah sudah kuat, maka sejarawan akan memasuki fase berikutnya. Fase berikutnya adalah sejarawan harus memadukan berbagai teori yang telah muncul dari penelitian sebelumnya. Dalam fase ini sejarah harus menjadi rakus dalam melahap berbagai teori baik yang dikeluarkan oleh ilmuwan barat maupun ilmuwan Islam.

Kerakusan terhadap berbagai teori akan membantu dalam penulisan sejarah. Teori-teori yang dipelajari akan membantu sejarawan dalam menganalisis suatu peristiwa. Sebagai salah satu contoh ilmu bantu sejarah adalah ekonomi, sosiologi, politik, arkeologi dan sebagainya. Jadi seolah-olah sejarah adalah suatu ilmu yang bisa dimasuki ilmu lainnya, atau lebih “kasar” lagi adalah sejarah merupakan ilmu yang bisa dikeroyok oleh ilmu yang lainnya. Kegunaan mempelajari ilmu bantu sejarah terutama ilmu-ilmu sosial, berguna sebagai kritik terhadap generalisasi yang biasa dilakukan ilmu-ilmu sosial; kedua, permasalahan sejarah dapat menjadi permasalahan dalam ilmu-ilmu sosial; ketiga, pendekatan sejarah yang lazim bersifat diakronis menambah dimensi baru pada ilmu-ilmu sosial yang umumnya bersifat sinkronis.[3]

Dengan sifat yang fleksibel, sejarah mampu menjawab berbagai masalah yang dihadapi dalam Islamisasi ilmu pengetahuan. Sejarawan yang memiliki banyak ilmu bantu tentu saja bisa mengetahui westernisasi pengetahuan dan menjawab tantangan tersebut dengan konsep keIslaman. Konsep Islam pun bisa diterapkan dalam penulisan sejarah. Sebagai contoh, metode ilmu hadist bisa diterapkan dalam pencarian sumber sejarah terutama sumber sejarah lisan.

Wacana selanjutnya mengenai pendekatan sejarah yang lebih Islam. Islam yang dikenal sebagai agama rahmatan lilalamin menjadikan dasar bahwa segala tingkah laku pemeluknya juga harus rahmatan. Konsep rahmatan dalam bidang sejarah bisa diimplementasikan dalam pendekatan penulisan sejarah. Pendekatan penulisan sejarah yang dahulu lebih condong pada “penulisan sejarah politik” tentu saja harus dirubah dengan paradigma baru dengan banyak menulis “sejarah sosial”.

Sejarah sosial yang banyak menulis mengenai manusia itu sendiri. Sejarah yang menyelidiki dan menyajikan fakta-fakta perkembangan atau perubahan umat manusia dalam dimensi ruang dan waktu dalam aspek kehidupan baik secara individu, maupun kolektif sebagai makhluk sosial dalam kerangka hubungan sebab psiko-fisik. Dari pengertian itu, menunjukkan bahwa ilmu sejarah itu memilik objek kajian, yakni perkembangan dan perubahan umat manusia dengan segala aspek kehidupannya, yang sungguh-sungguh terjadi, berada dalam dimensi ruang dan waktu. Keberadaan unsur manusia sebagai pelaku bisa individu, bisa kelompok.

 

Penutup

“Sejarah” dengan Islamisasi Ilmu Pengetahuan merupakan pekerjaan rumah yang menantang. Sejarah secara perkembangan metode dan metodologinya sudah sangat berkembang jauh. Pekerjaan rumah bagi sejarawan adalah mengembangkan diri dengan nilai-nilai keIslaman. Sejarawan Islam pun harus banyak menyerap ilmu dari berbagai macam ilmu, agar memperkaya pisau analisis dalam penulisan sejarah. Sejarah yang ditulis pun memiliki bobot maksud tujuan untuk mempererat ukhuwah, sehingga Islam menjadi agama yang benar-benar rahmatan lilalamin. Kerahmatan Islam ditunjukan dengan pola pikir sejarawan, akhlak sejarawan, pengetahuan sejarawan, dan manfaat dari ilmu yang dikembangkan oleh sejarawan.

Daftar Pustaka

Ahmad Fatoni, “Menyoal (Kembali) Islamisasi Ilmu”, Harian Umum Pelita, Jumat, 18 Juli 2008.

Ahmad Syafi’i Ma’arif, “Benedetto Croce (1866-1952) dan Gagasan Tentang Sejarah”, Humaniora, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Nomor.10, 1999, hlm. 1-8.

Azyumardi Azra, ”Konsep Kesejarahan Kuntowijoyo (Pentingnya Imajinasi, Emosi, Intuisi, dan Estetika Bahasa yang Khas dalam Penulisan Sejarah)”, dalam Ibda’, No.3, Purwokerto: P3M STAIN Purwokerto, 2005, hlm.170-177.

Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu Epistemologi, Metodologi, dan Etika. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.

_______, Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2013.

Sardiman, Memahami Sejarah. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial UNY dan Bigraf Publishing, 2004.


[1] Ahmad Syafi’i Ma’arif, “Benedetto Croce (1866-1952) dan Gagasan Tentang Sejarah”, Humaniora, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Nomor.10, Januari-April 1999, hlm. 3.

[2] Azumardi Azra, “Konsep kesejarahan Kuntowijoyo (Pentingnya Imajinasi, Emosi, Intuisi, dan Estetika bahasa yang Khas dalam Penulisan Sejarah)”, Ibda’, P3M STAIN Purwokerto, Vol. 3, No.2, Juli-Desember 2005, hlm.3.

[3] Ibid., hlm.4

About sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: