“Pendidikan Sebagai Ilmu dan Sebagai Sistem” Oleh Dwi Siswoyo

A. Pendidikan Sebagai Ilmu

Pendidikan adalah fenomena yang fundamental atau asasi dalam kehidupan manusia. Ketika ada kehidupan manusia, disitu terdapat pendidikan. Pendidikan diselenggarakan untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia. Paham seperti inilah yang selalu dipegah oleh kalangan pendidik.

Dengan seperti itu, maka muncullah tuntutan akan adanya pendidikan yang terselenggar dengan baik, lebih teratur, dan didasarkan atas pemikiran yang matang. Pada gilirannya, pandangan pentingnya pendidikan membawa manusia melahirkan teori-teori tentang pendidikan.

Telaah yang dilakukan oleh para ahli berkaitan dengan ilmu pendidikan dapat disimpulkan bahwa ilmu pendidikan adalah ilmu yang menelaah fenomena pendidikan dalam perpektif yang luas dan integratif.  Fenomena pendidikan yang dimaksudkan bukan hanya gejala yang melekat pada manusia. Fenomena-fenomena dalam pendidikan yang muncul di upayakan juga dalam pembentukan untuk memanusiakan manusia agar menjadi sebenar-benarnya manusia. Upaya tersebut terintegrasikan dalam kajian pendidikan tentang pendidikan seperti kajian historis, filosofis, psikologis, dan sosiologis. Aktivitas yang dilakukan juga tak terlepas dari aktivitas pendidikan yaitu aktivitas mendidik dan dididik dan pemikiran yang sistematis tentang pendidikan.

Pendidikan sebagai disiplin ilmu harus memiliki tiga syarat yaitu memiliki obyek studi (obyek material dan obyek formal), memiliki sistematika, dan memiliki metode. Pertama, kajian ilmu pendidikan memiliki obyek meterial yang disebut sebagai perilaku manusia. Perilaku manusia yang hidup dalam masyarakat pun bisa juga bisa dilihat dari segi-segi lainnya seperti psikologis, sosiologis dan antoropologis. Obyek formal ilmu pendidikan adalah menelaah fenomena pendidikan dalam perpektif yang luas dan integratif.

Kedua, ilmu pendidikan harus memiliki sistematika. Sistematika dalam ilmu pendidikan dibedakan dalam tiga tinjauan. Ketiga tinjauan itu adalah melihat gejala pendidikan sebagai gejala manusiawi, melihat pendidikan sebagai upaya sadar, dan upaya melihat pendidikan sebagai gejala manusiawi, sekaligus upaya sadar untuk mengantisipasi perkembangan sosio-budaya di masa depan.

Ketiga, ilmu pendidikan harus memiliki metode. Metode merupakan jalan atau upaya ilmiah untuk memahami dan mengembangkan ilmu yang bersangkutan. Metode yang sering dipakai dalam ilmu pendidikan seperti metode naratif, metode eksplanatori, metode teknologis, metode deskriptif-fenomenologis, metode hermeneutis dan metode analisis krits (filosofis).

Pengembangan ilmu pendidikan juga tidak terlepas dari sifat-sifat ilmu tersebut. Ilmu pendidikan sebagai ilmu juga memiliki sifat empiris, rokhaniah, normatif, historis, teoriotis, dan praktis. Sifat-sifat keilmuan yang terdapat dalam ilmu pendidikan berusaha untuk menempatkan diri di dalam fenomena atau situasi pendidikan yang mengarahkan diri pada perwujudan atau realisasi dari ide-ide yang dibentuk dan kesimpulan-kesimpulan yang diambil.

Perwujudan dari ide-ide tersebut diarahkan agar ilmu pendidikan mampu untuk berkembang dan bisa menjawab segala tantangan dari masyarakat itu sendiri. Perkembangan ilmu pendidikan dengan menkaji fondasi-fondasi pendidikan yang berprinsip pada studi tentang fakta-fakta, prinsip dasar yang melandasi pencarian kebijakan dan prkatik pendidikan yang berharga dan efektif. Fondasi pendidikan berupa kajian-kajian ilmu pendukung seperti sejarah, filsafat, sosiologi dan psikologi hanyalah sebagai teori-teori terpelajar. Ilmu pendidikan mengembangkan untuk membawa teori-teori kajian tersebut lebih berarti bagi kehidupan, terutama sekali kehidupan bagi orang dewasa dan anak-anak di sekolah.

B. Pendidikan Sebagai Sistem

Sistem merupakan suatu rangkaian keseluruhan kebulatan kesatuan dari komponen-komponen yang saling berinteraksi atau interdependensi dalam mencapai tujuan. Sistem dikembangkan dengan mengandung unsur-unsur seperti, adanya kesatuan organis; adanya komponen-komponen yang membentuk kesatuan organis; adanya hubungan keterkaitan anatara komponen satu dengan lain maupun antara komponen dengan keseluruhan; adanya gerak dan dinamika; dan adanya tujuan yang ingin dicapai.

Dengan pengertian kata “sistem” di atas, sistem pendidikan nasional sebagai bagian dan sistem nasional, yaitu sistem kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sistem yang diciptakan dalah sesuatu yang aktif, bergerak, dan menuju ke arah dan produk tertentu. Sistem sesuatu yang bergerak untuk mencapai tujuan yang diinginkan, secara terus-menerus suatu sistem pendidikan akan selalu bersifat dinamis kontekstual dan untuk itu sistem pendidikan haruslah terbuka terhadap tuntutan kualitas (tingkat baik buruknya sesuatu) dan relevansi (kegunaan secara langsung).

Upaya untuk menggerakkan sistem pendidikan di upayakan dengan tiga komponen sentral yaitu peserta didik, pendidik dan tujuan pendidikan. Proses pendidikan terjadi karena adanya interaksi antara peserta didik dan pendidik dalam mencapai tujuan pendidikan.

Proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan terjadi bila antara komponen pendidikan yang ada  di dalam upaya pendidikan itu saling berhubungan secara fungsional dalam satu kesatuan yang terpadu.  Kompoenen pendidikan yang vital adalah tujuan pendidikan, peserta didik, pendidik, isi pendidikan, metode pendidikan, alat pendidikan dan lingkungan pendidikan. Kesatuan yang terpadu diwujudkan dalam proses pendidikan, pendidik (dan juga peserta didik) memiliki tujuan pendidikan tertentu hendaknya dicapai untuk kepentingan peserta didik. Untuk mencapai tujuan ini disamping ada berbagai sumber yang dapat dimanfaatkan oleh pendidik dan peserta didik untuk memperkaya ini kependidikan, pendidik juga menggunakan metode dan alat kependidikan, yang kesemuanya menunjang pencapaian tujuan pendidikan yang dimaksudkan.

Kemampuan-kemampuan sistem untuk mencapai tujuan yang diharapkan didukung dengan komponen pendidikan yang lebih luas. Komponen yang lebih luas itu terdiri dari tujuan dan prioritas, peserta didik, pengelolaan, struktur dan jadwal, isi pendidikan, pendidik, alat bantu belajar, fasilitas, teknologi, pengawsan mutu, penelitian dan biaya.

Jadi, sistem  yang merupakan rangakaian keseluruhan dan kebulatan kesatuan dan komponen-komponen yang saling berinteraksi atau interdependensi dalam mencapai tujuan. Sistem pendidikan yang bersifat dinamis, kontekstual dan terbuka memerlukan proses pendidikan. Proses pendidikan apabila ada interaksi antara komponen pendidikan yang saling terhubung secara fungsional dalam kesatuan yang terpadu. Seluruh sistem dan komponen diupayakan dalam pendidikan nasional  guna mendukung sistem nasional dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sehingga dapat dipahami bahwa sistem pendidikan itu, disamping tidak bebas nilai atau bebas budaya, juga terkait dengan komunitas lokal, komunitas nasional dan komunitas global. Sehingga diharapkan setiap bangsa  yang ingin mempertahankan serta mengembangkan eksisitensinya hendaknya senantiasa berupaya untuk menjadikan sistem pendidikan yang dimiliki lebih dinamis dan lebih responsif terhadap perubahan-perubahan serta kecenderungan-kecenderungan yang sedang berlangsung.

About sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: