Sarjana Sigit Wahyudi, Dampak Agro Industri di Daerah Persawahan di Jawa, Semarang: Mimbar, 2000.

Akhir abad XIX atau awal abad XX bagi sejarah Indonesia adalah masa perubahan dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Modernisasi yang digalakkkan oleh pemerintah Kolonial mengakibatkan terjadinya perubahan pada struktur sosial masyarakat. Perubahan sosial dikarenakan kebijakan pemerintah dalam intensifikasi politik kolonial Belanda melalui birokrasi, komersialisasi, industrialisasi, edukasi, inovasi, dan renovasi teknologi pertanian. Dengan kata yang singkat adanya sistematisasi kebijakan ekonomi menuju arah kapitalisme.

Dalam konteksi ini perubahan sosial yang diacu adalah kebijakan kolonial tentang perekonomian. perekonomian kolonial sangatlah tergantung dengan pertania maupun perkebuann sehingga pemrintah mengambil kebijakan terutama untuk lahan perkebunan. Melalui perkebunan, terutama tebu menjadi salah satu primadona ekspor masyarakat dunia. Untuk mendapatkan ekspor yang maksimal pemerintah melakukan pembangunan jaringan pabrik didaerah-daerah. Pembanguan pabrik tebu tidak cukup dengan dibangun saja pabrik tebu memerlukan masyarakat sekitar pabrik untuk melakukan proses produksi.

Berkaitan dengan itu, dibutuhkan kerja sama antara pengusah pabrik tebu atau tuan tanah dan aparat birokrasi kolonial atau kaum feodal pribumi. Simbiosis antara ketiganya akan membawa dampak positif dengan menguatnya sistem feodal yang dibentuk. Simbiosis merupakan instrument terpenting dalam menjalankan eksploitasi agraria dengan sejumlah peraturan yang memperlihatkan pada pengertian hadirnya sisitem hukum barat di wilayah Hindia Belanda.

Selain terjalinnya simbiosis yang baik tak lupa lahan pertanian sebagai faktor produksi yang penting. Lahan pertanian terutama di Jawa  pada kurun waktu itu diusahakan oleh pemodal swasta Eropa. Dengan demikian, komunitas desa di Jawa dapat dibedakan menjadi desa perkebunan dan desa non perkebunan, yaitu pedesaan yang tak disewakan oleh perusahaan perkebunan dan pedesaan perkebunan, yaitu pedesaan yang lahan pertanianannya disewa oleh perusahaan perkebunan. Perubahan pada desa mengakibatkan berubahnya pola kehidupan dalam masyarakat.

Dengan perubahan yang terjadi memperlihatkan bagaimana upaya eksploitasi yang dilakukan telah menyentuh inti kehiduupan dalam masyarakat, yakni masyarakat pedesaan.

Perubahan tersebut telah membawa dampak di daerah Afdeling Sidoarjo, Residensi Surabaya akibat adanya kontarak Arends. Kontrak ini berkaitan dengan sisitem sewa tanah, namun kontarak Arends lebih memeprlihatkan pengertian sebagai sisitem eksploitasi daerah persawahan bagi kehidupan perkebunan. Di wilayah ini tanah-tanah persawahan diubah oleh para pemilik pabrik tebu yang bekerja sama dengan para birokrat. Kerjasama yang terjalin antar pejabat tidak selamanya berjalan dengan baik. Konflik kemudian timbul anatar Bupatai Sidoarjo dengan wedana Bulang, yang memunculkan keresahan dan ketidak puasan masyarakat yang berlaku di daerah tersebut. Kenyataan itu akhirnya menimbulakan gejolak dalam masyarakat, sebagai bentuk protes dalam gerakan pemberontakan petani.

Dalam masyarakat Indonesia masa kolonial, peristiwa Gedangan atau Peristiwa Pemberontakan Kyai kaan Moekmin tahun 1904. gerakan tersebut pada dasarnya hanyalah peristiwa lokal, karena terjadi disorganisasi sosial dalam masyarakat di daerah pedesaan Jawa dalam bentuk eksploitasi tanaman agroindustri terhadap daerah persawahan.

Politik penetrasi Belanda yang mengubah tanah lebih industrialis menyebabkan terjadinya pemberontakan tersebut. Pengubahan tanah-tanah banyak terjadi di daerah indutri gula yang menyebabkan tuan-tuan tanah bisa bertindak sewenang-wenang dan seakan-akan penduduk yang menempati tanah tersebut sebagai “budak”. Penindasan yang dilakuan oleh tuan tanah menyebabkan rasa aman dan tentram serta kepercayaan terhadap atasan menjadi berkurang.

Gerakan sosial memuncul bahwa pegawai pemerintah, tuan tanah sebagai sasaran utama bagi luapan rasa benci, dendam dari rakyat yang spontan. Kemudian, munculnya ide-ide tentang keagamaan terutama tentang Ratu adil atau Messianistis. Gerakan yang bersifat magico-religius seperti praktek perdukunan, pemberian jimat-jimat dan penghidupan kembali tokoh zaman kuno.

About sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: