SUMBANGAN KOK DIPERIKSA

Ironi sekali ketika melihat berita bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono X memenuhi panggilan KPK untuk diperiksa mengenai “amplop” saat pernikahan putrinya. Sangatlah lucu bila seseorang yang mengadakan hajatan diberi sumbangan atau “amplop” oleh tamunya.

Sumbangan untuk pesta pernikahan bisa diklasifikasikan bahwa ada sumbangan berupa barang daan sumbangan berupaa uang. Sumbangan berupa barang ditunjukkan dengan adanya sumbangan berupa hasil pertanian dari masing-masing kabupaten di Yogyakarta. Sedangkan, sumbangan berupa uang diberikan oleh individu-individu kepada si empunya hajat. Pemberian sumbangan didasari atas orang yang menyumbang itu sendiri. Bila seseorang mampu menyumbang barang mereka akan menyumbang barang namun bila seseorang mampu untuk menyumbang uang maka mereka akan menyumbang uang.

Sumbangan yang diberikan saat pernikahan putri keraton tersebut sangatlah variatif. Sumbangan berupa hasil pertanian oleh berbagai kabupaten di yogyakarta, sumbangan tenaga oleh keluarga bagi abdi dalem, dan sumbangan uang dari orang-orang yang “berduit”.

KPK sebagai ujung tombak pemberantasan KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) perlu memilah-milah antara kegiatan melanggar hukum dengan tindakan berupa sumbangan, terlebih lagi sumbangan yang ditujukan oleh kepada Sultan. Sultan adalah panutan dari masyarakat Jogyakarta karena hal sepele Sultan diperiksa. Peristiwa pernikahan ini bisa dikomperasikan dengan pernikahan Putra Presiden yakni Agus harimurti dengan annisa Pohan. Pernikahan yang dilaksanakan di Istana Bogor begitu meriahnya. Namun, SBY sendiri tidak diperiksa mengenai “amplop” yang didapatkan dari pernikahan putranya. Sebagai pemimpin bangsa sendiri SBY-lah yang harus memberanikan diri untuk diperiksa pertama kali oleh KPK.

Kemeriahan pesta pernikahan bagi setiap orang sangatlaah berbeda. Kemeriahan pesta pernikahan merupakan wujud dari prestige seseorang. Prestige inilah yang tidak bisa diukur dengan materiil. Pesta pernikahan anak seorang bupati tentu beda dengan pesta anak seorang gubernur, misalnya. Pesta pernikahan yang diadakan keraton adalah pesta pernikahan yang harus disesuaikan oleh adat istiadat jawa yaang sangat komplek.

Tidak bisa dipungkiri bahwa keraton yogyakarta adalah pusat dari kebudayaan jawa. Pesta pernikahan yang diadakan keraton akan menjadi contoh bagi pesta pernikahan orang-orang diluar keraton. Keraton harus menjalankan aturan-aturan atau prosesi pernikahan

About sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: