SOTO AKulTurasi Cina

….tiap kelompok masyarakat selalu punya tradisi tertentu yang berhubungan dengan makanan……

A. Pengantar

Sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang berubah menjadi negara Islam di Nusantara, menyimpan banyak sekali fakta sejarah yang menarik diungkit kembali. Sebagai kerajaan tertua di Jawa, Majapahit bukan cuma menjadi romantisme sejarah dari puncak kemajuan peradaban Hindu-Jawa, melainkan juga bukti sejarah tentang pergulatan politik yang terjadi di tengan Islamisasi pada masa per-alihan menjelang dan sesudah keruntuhannya.

Dalam Buku Slamet Muljana yang berjudul runtuhnya Kerajaan Hindu-jawa dan Timbulnya negara-negara islam di Nusantara, sejarawan dan juga filolog dari Universitas Indonesia ini, selain melacak asal muasal keruntuhan Majapahit, juga mencurahkan perhatian pada peran orang-orang Tionghoa dan proses Islamisasi di Nusantara. Temuan Muljana membantah sekaligus mengkritik tesis yang lazim diterima banyak sejarawan yang menyatakan bahwa Islam Nusantara adalah prototipe lain dari Islam yang berkembang di Jazirah Arab.

Menurut pendapat Muljana, Islam di Nusantara, khususnya di Jawa, bukanlah Islam “murni” dari Arab, melainkan Islam hibrida yang memiliki banyak varian. Berbagai anasir juga menyertai perkembangannya. Salah satu kesimpulan dari Slamet Muljana adalah enam dari Wali Songo berdarah Tionghoa. Terlepas dari kesimpulan Slamet Muljana, proses interaksi masyarakat Nusantara, khususnya Jawa, dengan bangsa Cina terjadi sejak awal abad pertama Masehi. Dalam perjalanan sejarah, interaksi yang berlangsung selama berabad-abad menyebabkan sejumlah budaya Cina meresap dalam kebudayaan dan kehidupan sehari-hari orang Jawa.

Tak pelak, masyarakat Cina memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan budaya di Jawa. Bahkan, sejumlah identitas budaya yang saat ini dikenal menunjukkan kekhasan satu kelompok masyarakat Jawa, awalnya adalah milik orang Cina.

Salah satu interaksinya adalah yakni berupa makanan. Bangsa Cina memang dikenal luas dalam hal selera makanannya. Kepopuleran masakan Cina di Indonesia tampaknya hanya diungguli oleh masakan Padang. Dalam banyak hal, sejumlah makanan Cina telah melebur menjadi identitas Indonesia.

Di mana pun, juga rasanya tidak ada satu pun gang yang tidak dilewati oleh tukang bakso. Menjajakan bakso menjadi salah satu identitas profesi yang khas bagi masyarakat urban Jakarta. Makanan yang terdiri dari campuran mie dan bulatan daging giling dicampur tepung dan berkuah itu asalnya dari Cina. Semua makanan di Indonesia yang menggunakan bahan pokok mie berasal dari Cina.

Namun dalam kesempatan ini penulis ingin melihat soto sebagai salah satu makan yang ter-akulturasikan.

B. PEMBAHASAN

a. SOTO

Asal usul soto dan penyebarannya memang baru sebatas kemungkinan.

Menurut Dennys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya), jelas ditulis dibuku tersebut asal mula Soto adalah makanan Cina bernama Caudo, pertama kali populer di wilayah Semarang. Dari Caudo lambat laun menjadi Soto, klop bukan? Orang Makassar menyebutnya Coto, dan orang Pekalongan menyebutnya Tauto.

Makanan yang asalnya juga khas Cina ini telah menjadi bagian dari makanan masyarakat Indonesia. Dengan menyesuaikan olahan bumbu agar pas dengan lidah orang Indonesia, lahirlah kemudian Soto Semarang, Soto Kudus, Soto Madura, Soto Bangkong, dan sebagainya.

Antropolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr Lono Simatupang, menurut dia, soto merupakan campuran dari berbagai macam tradisi. Di dalamnya ada pengaruh lokal dan budaya lain. Mi atau soun pada soto, misalnya, berasal dari tradisi China. China-lah yang memiliki teknologi membuat mi dan soun, ujarnya.

Soto juga kemungkinan mendapat pengaruh dari budaya India. Ada beberapa soto yang menggunakan kunyit. Ini seperti kari dari India, ujarnya. Karena soto merupakan campuran dari berbagai tradisi, ungkap Lono, asal usulnya menjadi sulit ditelusuri. Soto itu seperti dangdut yang mendapat pengaruh dari berbagai tradisi. Ya, sudah kita terima saja.

Bagaimana soto bisa menyebar ke berbagai daerah di Indonesia? Secara antropologi, sebuah makanan menyebar seiring dengan penyebaran manusia. Makanan yang tersebar itu kemudian bisa diterima di tempat lain. Selain itu, makanan juga menyebar karena ada proses industri. Penyebaran ini, lanjut Lono, diikuti dengan upaya pelokalan. Proses pelokalan soto mungkin sama seperti pelokalan Islam maupun Kristen di Indonesia. Inilah yang mengakibatkan muncul berbagai jenis soto di Indonesia.

b. SOTO KUDUS

Bila ingin soto kudus tidak perlu jauh-jauh datang ke kudus, di Yogyakarta pun ada orang jualan Soto Kudus. Kenapa Kudus? Budaya Kudus menjadi unik karena terdapat percampuran dari berbagai macam budaya, yakni budaya Hindu, budaya Jawa, dan budaya Tionghoa. Walaupun perbedaan seringkali diperdebatkan, namun di banyak tempat di Indonesia, terbukti bahwa jika perbedaan bisa berjalan selaras, maka akan terbentuk suatu paduan unik yang tiada duanya. Contoh yang paling sederhana adalah semangkuk soto (diluar Kudus dikenal dengan nama soto kudus) di soto kudus kang mi’un.

Soto Kudus Kelihatannya sederhana: kuah soto yang berwarna kuning dengan tarikan rasa yang asam, berisi tauge dan serbuk koya, dengan pilihan daging ayam atau daging kerbau. Sebagai pelangkap disediakan kecap, jeruk limau, dan irisan bawang putih yang digoreng kering.

c. Akulturasi

Mari kita amati, ada berapa budaya yang terlibat dalam semangkuk soto ini?

1. Warisan budaya Hindu

disimbolkan dengan pilihan daging ayam dan kerbau. Di seluruh wilayah kota Kudus, ada larangan untuk memotong sapi. Orang Kudus sendiri tidak suka menyantap sapi, namun lebih suka menyantap daging kerbau. Alhasil, segalanya serba kerbau: sate kerbau, pindang kudus daging kerbau, dan tentu saja soto kudus daging kerbau. Konon, budaya ini adalah warisan budaya Hindu Jawa yang menganggap sapi sebagai hewan suci, sehingga tidak boleh dimakan. Walaupun budaya Hindu sudah hilang pengaruhnya sejak kira-kira 700 tahun yang lalu, kebiasaan tidak memakan sapi masih diwariskan hingga sekarang!.

2.Orang Tionghoa Tidak makan daging kerbau

Orang cina memiliki aturan dalam makan, seperti, larangan makan daging kerbau, larangan menyisakan makan terutama nasi. Aturan itu merupakn aturan lam yang sudah ditinggalkan oleh orang Cina saat ini.

3. Budaya Jawa yang mendominasi

Tentu saja bisa ditemukan dalam soto kudus. Kuah soto sendiri adalah representasi dari soto ala Jawa, yang bening, sedikit berminyak, dengan tarikan rasa asam. Bumbu-bumbu yang digunakan pun bercita rasa Jawa, seperti penggunaan kemiri dan peresan jeruk limau sebagai kondimen. Penghidangannya bisa dipilih, apakah langsung dicampur dengan nasinya atau dipisah. Penyajian yang asli adalah dimana nasinya langsung dicampur dengan soto, sesuai dengan selera Jawa yang selalu menyajikan nasi sebagai makanan pokok.

4.Serbuk koya

Serbuk koya yang juga ditemukan di lontong cap go meh adalah budaya kuliner Tionghoa peranakan. Serbuk ini dibuat dari santan kelapa yang dikeringkan, berfungsi sebagai penyedap rasa dan penambah tekstur. Berbeda dengan soto ayam Lombok di Malang, koyanya disini sudah ditakar dan tidak biasa ditakar sendiri

5.Bawang putih goreng.

Irisan bawang putih yang digoreng kering, juga merupakan jejak budaya Tionghoa. Cara memasak seperti ini jelas merupakan selera Tionghoa, seperti ditemukan di masakan Tionghoa Pontianak. Masakan Jawa biasanya menggunakan bawang merah, bukan bawang putih, untuk digoreng kering dan digunakan sebagai kondimen. Namun, di soto kudus, gorengan bawang putihlah yang disajikan. Alhasil, representasi masing-masing budaya ini berujung pada semangkuk soto dengan rasa yang unik, yang dikenal dengan nama soto kudus.

5.Pikulan

Pikulan adalah salah satu akulturasi yang terjadi. Pikulan ini sering dipakai oleh orang cina dahulu, namun untuk sejarahnya sendiri kurang diketahuai oleh penulis. Saat orang cina bertransmigrasi ke sini orang Cina banyak yang berjualan dengan cara eceran. Orang-orang Cina-lah yang mendistribusikan banyak mendistribusikan baraang. Jadi, posisi orang Cina kebanyakan sebagai distributor antara orang Belanda sebagai produsen dan orang pribumi sebagai konsumen.

6.Sendok bebek+mangkok

Sendok bebek dan mangkok merupakan alat makan yang diduga berasal dari Cina. Alat-alat seperti sendok bebek sering digunakan sebagai alat maakan sup di Cina.

C. KATA PENUTUP

Daftar warisan bangsa Cina dalam lapisan kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa, masih demikian panjang untuk diuraikan. Mulai dari tanaman, pengolahan tebu, gula, arsitektur, sampai sejumlah ritual keagamaan dan kebiasaan sehari-hari yang menyusup demikian halus.

Lombard ,Denys, Nusa Jawa: Silang Budaya

Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Yogyakarta:LkiS, 2005.

” Jalanologi – Awas Barang Tiruan!”, http://www.jalansutra.or.id. (dl:22 Mei 2008).

”Dianggap Bukan Kekayaan Budaya”, http://kulinerkita.multiply.com/ reviews/item/341. (dl:22 Mei 2008).

”Onghokham makanan juga, http: //www.surabayapost.co.id/96/10/20/04ONG1. HTML. (dl:18 Mei 2008)

About sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

5 responses to “SOTO AKulTurasi Cina”

  1. Anta says :

    Salam dan smoga sejahtera,
    Selama ini penasaran dengan asal muasal soto, nyari-nyari buku jg gak nemu2…
    maklum saya ini pedagang soto, jd kupikir ya kudu tau asal usul soto ya…
    Baca blog mbak(?) tanaya YUKA ku makasih banget udah mengobati rasa ingin tau n nambah pengetahuanku..boleh ga mbak, ku mengkopi sejarah sotonya mbak Yuka buat arsip ku..insya Allah manfaat untuk semua yang baca..

    semoga sehat selalu…n tambah berkah dariNYA..

  2. madinah says :

    Salam hangat dan sejahtera

    Selama ini saya sangat gemar makan makanan yang bernama soto dan jadi penasaran dan rasa ingin tahu dari mana soto itu berasal tp sekarang saya sedikit puas walaupun belum tahu soto dari setiap daerah asal muasalnya dari mana ?

  3. morq says :

    Tanya yo, kenapa Soto Mbandung paling beda, dagingnya sapi, bertaburan kedele goreng kuahnya super bening, gak pake bihun soun dsb dan lebih aneh lagi sayuran penyertanya adalah Lobak ! (masakan Indonesia mana lagi yang bahan bakunya lobak ?) Di China sendiri lobak lebih umum sebagai makanan babi, tapi di Jepang lobak umum dimakan manusia. Jadi ?!

  4. Evri says :

    ternyata Soto dari Cina.. tak pikir dari India….makasih ya dek.. atas infonya….

  5. febry says :

    Terimakasih atas tulisan yang sangat berharga ini. Apakah ada sumber selain diatas yang menyebutkan asal mula soto ditinjau dari sejarah dan antropologi nya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: