Review artikel Dengan Judul Tihingan: Sebuah desa Di Bali Oleh Clifford Geertz

Tihingan merupakn salah satu desa di bali yang menjadi kajian Clifford Geertz. Desa Tihingan terletak di Swapraja Klungkung. Tihingan memiliki sesuatu yang menarik karena kesatuan-keastuan yang terdapat di Tihingan dibangun atas dasar ekologi.

A. Pemerintahan Tingkat Desa

Struktur pemerinthan desa di Bali ditentukan oleh tipe atau corak desa yang bersangkutan. Corak desa di bali dibedakan menjadi dua, pertama ialah desa yang tergolong tua dan desa yang tergolong muda. Desa yang tergolong tua dalah desa yang masih memiliki sifat kekuno-kunoan dalam pola penetapan, maupun dalam struktur pemerintahannya. Desa yang tergolong muda adalah desa yang sudah terkena pengaruh kebudayaan Majapahit, terutama pada zaman kerajaan Gelgel.

Unit pemerintahan desa adalah banjar[1] yang dipimpin oleh seorang kliyan banjar. Setiap banjar memepunyai tempat pertemuan yang disebut bale banjar, dan dilengkapi dengan sebuah bale kulkul (kentongan), yang berfungsi untuk memberikan tanda kepada masyarakat bahwa ada pertemuan, kebakaran, dan sebagainya. Setiap banjar memiliki awig-awig[2] yang bisa tertulis maupun tidak tertulis. Pergantian kliyan banjar dilakukan dalam pangsengkepan banjar[3] dengan jalan musyawarah, yaitu memilih salah seorang krama banjar (Anggota banjar) berdasarkan prinsisp primus interpares[4].

Setiap banjar masih dibagi lagi menjadi beberapa tempek dan dikepalai oleh kliyan tempek. Masing-masing kliyan tempek membawahi beberapa keluarga (kurena). Kliyan banjar hanya dibantu oleh juru arah atau yang disebut juga saya, yang bertugas mengumumkan sesuatu kepada warga banjar dan menyiapkan sesajen waktu pasangkepen banjar.

Setingkat dengan banjar, masih ada kelembagaan desa, yaitu pemaksan dan subak. Pemaksan adalah organisasi yang dimiliki oleh setiap pura yang ada diwilayah desa. Masing-masing pemaksan dipimpin oleh kliyan pemaksan dan dipilih berdasarkan keturunan. Banyak-sedikitnya jumlah pemaksan dari sebuah pura tergantung pada jumlah penyungsung (orang-orang yang sembahyang) ke pura tersebut. Ada kalanya sebuah pura disungsung oleh beberapa banjar, hal tersebut ditetapkan dalam musyawarah desa. Tugasnya pemaksan antara lain memelihara keselamatan dan kesucian pura, serta menyiapakan segala keperluan pada waktu upacara di pura bersangkutan. Di samping pemaksan, masih ada beberapa orang pemangku yang bertugas dalam upacara.

Organisasi yang mengangai perairan sawah bernama subak. Organisasi ini dikepalai oleh kliyan subak atau disebut pekaseh. Sama halnya dengan organisasi banjar, subak juga terdiri dari beberapa tempek yang dikepalai kliyan tempek. Kliyan subak dipilih oleh krama subak, dan dibantu oleh juru arah yang bertugas mengumumkan sesuatu kepada krama subak. Kewajiabn krama subak antara lain ada yang mempunyai sebagai pengatur pembagaian air yang disebut temuku, dan ada yang menjaga air di tempat pembagaian air secara bergilir, disebeut matelik. Tugas yang dilakukan krama subak secara bergotong-royong adalah membendung sungai, membersihkan selokan dan pematang sawah. Masing-masing subak memiliki juru subak, bernama Pura Ulun Suwi atau disebut juga Pura Ulun Carik.

B. Stratifikasi Sosial

Bali yang banyak mendapatkan pengaruh dari India. Salah satu pengaruhnya yakni pada sistem kodifikasi atau stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial yang dikembangkan di bali berdasarkan sistem kasta dan gelar.

Gelar yang menunjukkan satrtikasi seseorang disebut wangsa. Wangsa diperoleh melalui garis keturunannya berdasarkan garis dari ayah. Gelar wangsa dibagi menjadi dua yakni gelar triwangsa dan gelar jaba. Gelar wangsa terdiri dari brahmana, satria dan waisya. Gelar jaba untuk wangsa keempat yakni sudra.

Gelar wangsa untuk memberikan kedudukan dan status berdasarkan garis keturunan kepad seseorang tnpa terlepas dari alsan-alasan plitik, ekonomi atau kesusilaan. Gelar triwangsa dahulu digunakan sebagi syarat pokok untuk menjabat sebgai pegawai tingkat desa. Hanya untuk pedanda haruslah orang yang berasal dari keturunan brahmana. Namun, hal itu semakin berkurang karena pola tingkah perilaku manusia itu sendiri. Banyak contoha bahwa golongan brahman belum tentu mengerti agama, ada bebrapa keturunan brahman yang menjadi petani. Golongan jaba pun bisa menduduki tempat penting dikepegawaian desa. Perilaku seperti ini merupakn bergeseraan stratifikasi sosial.

Startifikasi sosial seperti ini menyebabkan terjadinya persaingan sosial. Di Tihingan persaingan kelas banyak terjadi antara orang jaba dengan orang jaba, bukan terhadap orang jaba kepada orang triwangsa. Persaingan banyak terjadi dalam masalah perkawinan. Perkawinan ini menjadi hal sensitif karena berpengaruh pada garis keturunan.

C. Desa bali

  1. mencirikan sesuatu yang khas dalam pengelolaan desa. Ciri khas itu berupa sisitem birokrasi, agraria dan kekerabatan.
  2. Hubungan denagn sifat-sifat yang khas akan berganti-ganti menurut situasi yang berbeda.
  3. segala aktivitas memiliki batasan-batasan yang tegas.

Istilah “desa’ di Bali tidak menggambarkan suatu kesatuan wilayah tempat untuk hidup, tetapi suatu lapangan hidup yang luas.


[1] Kampung dalam istilah Bali

[2] Peraturan menurut adat di Balai.

[3] Rapat desa

[4] Yang utama diantara yang utama.

About sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

One response to “Review artikel Dengan Judul Tihingan: Sebuah desa Di Bali Oleh Clifford Geertz”

  1. made darwi says :

    bagus sekali sajan saya ingin tahu sejarah desa kuta dan penduduknya tolong kiriminnn yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: