Sepuluh Ide dalam Bab III Masalah Sekitar Penempatan VOC dan Kekuasan Belanda Dalam Sejarah Indonesia Buku Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia Karangan R. Moh. Ali :

1. Masalah penempatan zaman kolonial pada periodisasi sejarah Indonesia
Periodisasi sangatlah penting dalam penulisan sejarah. Periodisasi dijadikan sebagai dasar dalam penulisan sejarah terutama untuk menulis buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Perbedaan itu didasari atas rasa nasionalisme kebangsaan. Nasionalisme yang digunakan untuk periodisasi sejarah Indonesia, tentu akan berbeda dengan periodisasi menurut sejarah Belanda.

2. Perbedaan tradisi sejarah Indonesia dengan tradisi ilmiah modern
Tradisi ilmiah mengenai penulisan sejarah menurut aturan barat belum ada sama sekali. Kesukaran tradisi ilmiah tersebut dikarenakan pada “proses” akulturasi dari peralihan historiografi “daerah” melalui historiografi barat ke arah historiogarafi tradisi ilmiah. Sehingga hal itu berpengaruh pada penyusunan sejarah Indonesia karena terbatasnya jumlah fakta yang “dimasak” oleh penulis Belanda.

3. Kekurangan dalam penulisan sejarah Indonesia “tradisi” ditambal dengan isolasi sejarah kolonial.
Penulisan sejarah Indonesia yang menurut tradisi terdapat kekuranagn disana-sini. Kekurangan itu seperti kekurangan fakta, kekurangan penyelidik, tidak adanya tradisi ilmiah, sambung-menyambung menjadi lingkaran yang tidak terkuak. Kekurangan yang terjadi dalam penulisan sejarah Indonesia merupakan kelebihan dari penulisan sejarah Belanda. Karena hal itu maka penulisan sejarah Indonesia sebaiknya diadakan sebuah pembatasan sejarah Belanda atau isolasi dari sejarah Indonesia. Hal itu akan menyebabkan terjadinya dua jenis sejarah yang terjadi di Indonesia. Penjelasan tersebut bisa diatasi dengan mengikuti cara atau metode penelitian sejarah.

4. Pemberian batasan mengenai penjajahan.
Pemberian batasan dalam kata “penjajahan” sangatlah penting. Pemberian batasan itu merupakan sebuah proses dijajahnya “Indonesia sejak zaman VOC hingga Jepang”. Dalam konteks ini “penjajahan” adalah proses penguasaan terhadap wilayah lain. Namun dalam proses “penjajahan” itu terdapat proses hegemoni kekuasaan (peperangan), dan proses hubungan pertuanan.

5. Penulisan sejarah Indonesia adalah sejarah dari daerah-daerah tertentu.
Sejarah Indonesia sangatlah kompleks, Indonesia yang terdiri dari daerah-daerah seakan-akan menyatu dalam satu ikatan yaitu “indonesia”. Bila sejarah Indonesia dilihat berdasarkan sifat kedaerahan, maka setiap daerah memiliki perbedaan dalam perjalanan sejarah penjajahan. Daerah-daerah tersebut dilihat menurut hubungan negara-belanda. Perlu diketahui bahwa ada beberapa kerajaan yang tidak berada langsung dibawah bagian dari Belanda, dan ada beberapa kerajaan yang berada langsung dibawah kekuasaan belanda. Masalah waktu juga tidak kalah pentingnya dalam proses penjajahan. Waktu itu berpengaruh terdapat kerajaan yang dijajah sejak 1605 atau baru dijajah setelah 1911.

6. Generalisasi sejarah Belanda di Indonesia.
Belanda menyakini bahwa istilah Hindia-Belanda merupakan penyebutan satu kesatuan wilayah kepulauan Indonesia sebagai tanah milik Belanda. Perspektif inilah yang memunculkan bahwa Belanda memandang sejarah Indonesia dari “geladak kapal kompeni”. Sehingga sejarah Indonesia seakan-akan dipengaruhi sikap Belanda-sentris.

7. Antitesis terhadap Belanda
Sikap belanda-sentris menimbulkan antitesis bahwa bangsa Indonesia yang selalu menentang Belanda. Penentangan terhadap Belanda dalam sejarah masa penjajahan dilukiskan sebagai zaman keemasan, kebangsaan bersatu dan bahagia. Antitesis itu sebagai penilaian sejarah penjajahan pada sejarah daerah-daerah.

8. Pencampuran fakta-fakta
Pencampuran fakta-fakta merupakan salah satu cara dalam penulisan sejarah indonesia. Fakta-fakta sejarah itu berasal dari fakta sejarah kolonial dan fakta-fakta dari sejarah daerah. Walaupun berbeda, namun kedunya bisa melengkapi. Historiografi barat sebagai acuan sifat-sifat dunia-ilmiah barat, dan historiografi daerah yang memiliki tujuan tertentu. Sehingga memungkinkan untuk timbul tiga historiografi: historiografi barat, historiografi daerah, atau historiografi indonesia.

9. Penyelidikan fakta-fakta terhadap historiografi Indonesia.
Pengunaan fakta-fakta perlu malalui penyelidikan yang sangatlah teliti. Penyelidikan fakta dari ahli sejarah kolonial dengan memperbandingkan antara fakta-fakta yang diketemukan. Penyelidikan itu juga bisa dipakai dalam penyelidikan fakta sejarah daerah. Walaupun penyelidikan fakta-fakta sejarah daerah perlu adanya interpretasi tertentu dan melepaskan fakta-fakta dari hal-hal yang berbau mitos.

10. Perubahan dari xenosentris menuju indonesia-sentris
Perubahan cara pandang sejarah bahwa sejarah Indonesia merupakan sejarah atas kebencian Belanda diubah menjadi sejarah yang bersifat ke-Indonesia-an. Sifat indonesia-sentis akan menampung fakta sejarah indonesia, sejarah kolonial, dan sejarah-sejarah daerah. Sehingga dalam penulisan sejarah Indonesai memiliki unsur sejarah kolonial, sejarah-sejarah daerah, walaupun sejarah-sejarah itu tidak identik dengan sejarah Indonesia. Serta persoalan historiografi tidak hanya sebagai masalah metode, namun masalah itu telah sampai pada masalah mengenai pandangan hidup.

About sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

One response to “Sepuluh Ide dalam Bab III Masalah Sekitar Penempatan VOC dan Kekuasan Belanda Dalam Sejarah Indonesia Buku Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia Karangan R. Moh. Ali :”

  1. melya sweet says :

    tah mana jawaban_A . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: