menak kuristam

Pendahuluan
Historiografi adalah gambaran pandangan suatu masa pada sejarahnya. Ia bisa dirunut melalui tradisi lisan, karya sejarah, bahkan pada taraf tertentu bisa tercermin dari karya sastra. Untuik merunut pandangan sejarah suatu masa, maka kita bisa menyelidikinya melalui karya sejarah dan sastra yang ditulis pada zaman tersebut.
Historiografi dapat diartikan sebagai pencarian terhadap pemikiran dan intelektualitas pemegang sejarah, bisa berupa sejarawan, masyarakat, maupun penutur lisan. Historiografi mencari tentang ide, subyektifitas, dan interpretasinya. Sebagai sebuah alat untuk melihat sejarah intelektual atau mentalis seorang sejarawan, maka haruslah dilakukan sebuah studi mengenai karya-karyanya.
Sejarawan hidup dan berinteraksi dalam lingkungan yang mengalami tarikan-tarikan sosial dan politik. Oleh karena itu sejarawan dapat dikatakan tidak bebas dari pengaruh lingkungannya, yang juga berimplikasi dengan karya-karya sejarahnya. Oleh karena itu sejarawan mewakili pandangan lingkungan dan zamannya.1
Ada berbagai macam, kesusastraan Jawa seperti Serat, yang merupakan saduran-saduran dari bahasa Jawa Kuno, dialih bahasakan kedalam bahasa Jawa Modern. Contohnya, Serat Rama, Serat Bratayudha, dan Serat Arjuna Sastrabahu. Kesusastraan Jawa juga mengenal karya-karya yang bertemakan tasawuf Islam. Karya ini bila ditulis dalam bentuk prosa yang bercerita tentang roman jawa disebut sebagai menak, sedangkan ditulis dalam bentuk lagu disebut sebagai suluk. Yang termasuk didalamnya seperti menak Amir Hamzah, Yusup, dan ahmad hanapi.
Dia antara karya kesususastraan Jawa yang penting adalah babad. Babad merupakan kronik-kronik yang panjangdan terperinci yang ditulis dalam sajak yang sangat panjang dan terperinci yang diketemukan dalam bahasa jawa baru dan tidak diketemukan dalam Bahasa Jawa Kuno.2 Babad banyak menceritakan tentang sejarah kerajaan-kerajaan dan kejadian-kejadian tertentu, terutama melalui penceritaan para pahlawannya. Namun Babad sering tidak konsisten dalam pemaparan urutan kronologisnya, maupun fakta-fakta yang diungkapkannya. Terkadang dalam penyalinannya pun terjadi perubahan-perubahan yang menyebabkan terdapat beberapa versi dari sebuah judul yang sama.
Sifat produksi dan reproduksi karya sastra Jawa, baik karya sejarah maupun karya murni satra, yang tidak terlalu ketat dalam penyusunan kronologisnya terkadang membuat sejarawan merendahkan kedudukannya sebagai suatu sumber sejarah. Karya-karya yang tidak merujuk langsung pada kajadian faktual sering dianggap tidak memiliki nilai dalam rekonstruksi masa lalu.3
Meski begitu, seperti diuraikan sebelumnya, seharusnya karya-karya tersebut dapat merefleksikan suatu jiwa zaman ketika ia diciptakan. Ini bisa kita lihat sebagai sebuah proses reaksi dari intelektual masa tersebut (pujangga) dalam menerima, mengakomodasi, atau bahkan menolak keadaan yang terjadi pada masa lalu dan masanya.
Oleh karena itu karya-karya berbentuk serat, suluk, babad, dan hikayat sebenarnya memiliki posisinya dalam mencerminkan pandangan inteletual(masa itu) pada sejarah dan zamannya. Ia adalah bahan yang sangat baik dalam menyelidiki kondisi historiografi masa lalu.
Menak Kuristam sebagai salah satu karya sastra Jawa pada masa Islam tentu memiliki nilai-nilai tertentu yang dicoba untuk diungkapkan oleh penulisnya. Penyalinan Serat Menak Kuristam yang dilakukan pada masa Kolonial dapat dipastikan memberi warna lain pada salinan Serat Menak Kuristam yang kini kita kenal tersebut.

Ringkasan Menak Kuristam

Cerita dimulai dengan berita didudukinya negara Kaos oleh Amir Ambyah, didengar pula oleh raja Jobin. Ia segera memberitahukan kepada raja Nusirwan, bahwa Bahwan, raja Kuristam sanggup membinasakan Amir Ambyah, dan mengharapkan kedatangan raja Nusirwan ke Kuristam. Atas anjuran patih Bestak, Nusirwan ke Kuristam.
Raja Bahman segera menantang Amir Ambyah dan memberitahukan kalau raja Nusirwan telah berada di Kuristam. Amir Ambyah menerima tantangan tersebut dan mengerahkan pasukan menyerang Kuristam. Sebelum berangkat, Kobatsarehas lebih dulu dinobatkan menjadi raja.
Pertempuran berkobar dengan hebatnya, yang berakhir dengan kemengan pasukan Amir Ambyah. Raja Bahman tunduk, demikian pula raja Jobin. Raja Nusirwan segera kembali ke Medayin, sedangkan Amir Ambyah dan pasukannya kembali ke Kaos.
Mengetahui kegagalan raja Kuristam mengalahkan Amir Ambyah, patih Bestak segera minta bantuan Sadatkabulumar, raja Abesi, yang lengsung mengirim pasukan mengepung Mekah. Mendengar Mekah dikepung pasukan Abesi, Amir Ambyah dan Umarmaya segera meninggalkan Kaos menuju Mekah. Pertempuranpun berkobar. Pasukan Avesi kalah dan Sadatkabulumar menyatakan tunduk pada Amir Ambyah.
Merasa dirinya tertipu dan diperalat, Sadatkabulumar menagkap raja Nusirwan, dan dipenjarakan di Negara Abesi. Padahal sesungguhnya Nusirwan tidak tahu apa-apa, semua itu karena ulah patih Bestak.
Dari Mekah, Amir Ambyah kemudian menyerang Negara Kuparman. Nurham, raja Kuparman tewas dalam pertempuran, pasukannya menyerah dan Negara Kuparman diduduki Amir Ambyah. Sejak saat itu Amir Ambyah mendapat gelar Sultan Kuparman.
Beberapa waktu kemudian. Kaladaran, raja Indi mengerahkan pasukannya untuk menyerang Kuparman, namun ia tewas dalam peperangan dan pasukannya tunduk pada Amir Ambyah. Sementara itu, Gulangge, raja Negara Rokam, yang mendengar keluhuran budi Amir Ambyah ingin bertemu dengan Amir Ambyah. Dalam perjalanan ke Kuparman bertemu dengan raja Kikail dari Negara Parangawu, yang bermaksud menyerang Negara Kuparman. Karena tujuan berbeda, perangpun tak bisa dielakkan.
Amir Ambyah yang mendengar berita pertempuran tersebut segera mengirim pasukan untuk membantu raja Gulangge, yang akhirnya dapat mengalahkan raja Kikail dan memukul mundur pasukan Parangawu. Dengan selamat raja Gulangge sampai di Negara Kuparman, dan diterima dengan baik oleh Amir Ambyah.

Menak Kuristam diantara Sastra Jawa Lainnya
Menak Kuristam merupakan salah satu bagian dari cerita-cerita karya pujangga Jawa yang sering disebut Serat Menak. Cerita-cerita ini tidak berdasarkan kejadian nyata sebagaimana Babad, tetapi secara longgar bisa disebut merupakan modifikasi dari sejarah Islam.
Ini berarti rangkaian karya seperti Menak Kuristam menandai karya sastra Jawa yang tidak berdasarkan mitologi Hindu-Buddha tetapi didasarkan pada Islam. Tema-tema utamanya adalah peperangan (jihad) yang kemudian diikuti oleh konversi ke Islam atau takluknya negeri lawan.
Pesan dari kisah-kisah tersebut adalah kekuatan Islam sebagai adalah pemersatu berbagai kekuatan di dunia. Bahkan dalam teks sendiri disebut kekuatan Amir Ambyah sebagai overlord dari beraneka kekuatan dunia, dari Aceh, Yunnan, dan bahkan kekuatan ke Eropa. Teks menyebut pasukan-pasukan Inggris(Anggris), Spanyol(Sepanyol), dan Perancis(Paranji) sebagai bagian dari jutaan pasukan Amir Ambyah.
Jika bercermin dari keadaan pada masa Serat Menak ditulis maka yang terjadi adalah “miniatur” dari cerita tersebut. Raja biasa memakai pasukan-pasukan dari berbagai pihak asing untuk membantu perangnya, namun jumlahnya sangat kecil. VOC sangat jarang (jika bukan tidak pernah) mengeluarkan pasukan berjumlah ribuan, pun garnisunnya terkadang tak sampai tiga lusin saja. Pasukan Jawa (diidentikan dengan pasukan Amir Ambyah, pemegang Islam) pada masa Sultan Agung juga tak lebih dari seratus ribu orang.
Meski legitimasi adalah hal utama dalam karya-karya sejarah dan sastra tradisional Jawa namun cerita dalam rangkaian karya ini tidak memberi legitimasi langsung pada Raja. Serat Menak lebih merupakan suatu rangkaian cerita mengenai seorang raja dan bagaimana ia berkuasa.
Isi Menak Kuristam didominasi oleh peperangan. Bahkan salah satu titik balik dalam Menak Kuristam adalah ketika Patih Bestak membuat rajanya berperang melawan raja Kuristam dan kemudian Sadat Kabul Umar. Tindakannya ini tidak lain diambil dalam rangka memberi kesibukan pada rajanya. Terdapat pesan mengenai bagaimana seharusnya seorang raja menjalankan kekuatannya, dari situlah legitimasi dibangun.
Menak Kuristam memiliki kemiripan karakter dan plot dengan karya yang dibuat oleh Yasadipura lainnya. Posisi patih dalam Menak Kuristam digambarkan sebagai seorang yang curang dan mengambil keuntungan melalui posisinya yang dekat dengan raja. Karakter semacam ini bisa ditemukan dalam karya Yasadipura I lainnya yaitu dalam Babad Pacinan.
Kandungan Menak Kuristam
Menak Kuristam merupakan karya sastra yang berisi mengenai kisah-kisah kepahlawanan (heroisme), sesuatu yang sepatutnya dimiliki oleh Raja dan para pengikutnya. Dalam Menak Kuristam juga bisa didapati pesan mengenai kedudukan seorang bawahan yang harus setia pada rajanya. Kejayaan dalam Menak Kuristam digambarkan melalui pertempuran-pertempuran yang dimenangkan melalui kekuatan fisik dan ketrampilan berperang. Meski kadang digambarkan secara hiperbol, hampir tidak ditemukan suatu keajaiban atau kekuatan gaib khusus. Dengan kata lain Menak Kuristam mengajarkan sifat-sifat keksatriaan
Seperti disebut sebelumnya, Menak Kuristam adalah karya yang didasarkan pada Islam. Oleh karena itu membangkitkan semangat Islam adalah sesuatu yang mutlak dalam ceritanya. Menak Kuristam menunjukkan Islam sebagai pemegang kekuatan.

About sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: