irak dalm sej asia

  • Tema : Intervensi Bangsa Asing ke Asia Barat

  • Judul : Intervensi Eropa terhadap Iraq paska pemerintahan Saddam Husein

  • Spesialisasi : Pertahanan dan Keamanan

Pertahanan dan Keamanan (Hankam)

Kondisi keamanan nasional pada pemerintahan Saddam Husein di Iraq sangatlah kondusif, bahkan boleh dikatakan sebagai masyarakat paling tertib di Timur Tengah. Maklum, selain adanya pasukan Garda Nasional yang sangat menjunjung tinggi disiplin ketentaraan terdapat pula hukum buatan Saddam (yang juga berdasar pada hukum Islam) atas persetujuan parlemen (yang telah ia teror sebelumnya). Ini menyebabkan adanya suatu keengganan bahkan ketakutan untuk melanggar hukum karena jelas pelanggaran terhadap hukum akan dijatuhi sanksi yang sangat berat. Akan tetapi, justru hukum inilah yang membatasi ruang gerak para warga dalam melakukan kreativitas di bidang keahlian masing-masing sehingga pergerakan masyarakat pada umumnya kaku dan pemerintahan –yang pada awalnya adalah membawa aspirasi masyarakat yang tertindas- justru berkembang menjadi suatu Tirani dimana menurut Siklus Polybios adalah tahap dimana ketika terjadi Okhlorasi (pemerintahan rakyat yang rusak) muncul seorang pahlawan yang kemudian menjadi penguasa (Monarchy) dan karena pengaruh-pengaruh duniawi bergeser menjadi Tirani. Pemerintahan ini lalu berkembang menjadi lebih ganas dan buas demi mewujudkan masyarakat yang ”tertib dan disiplin” walau pembersihan harus dilakukan seperti halnya Tragedi Dujail. Situasi di Iraq mulai memanas terutama pada era dimana masayarakat mampu untuk memperoleh akses pendidikan dan demokrasi pada sektor-sektor pendidikan. Ini menyebabkan bergolaknya situasi di Kurdi yang menuntut merdeka seperti halnya Kuwait. Ethnic Cleasing terjadi di beberapa tempat di Iraq utara sebagai jawaban pemerintah untuk mengatasi problema ini. Pada titik ini keamanan mulai goyah terutama karena akses masuk Irraq yang mudah di area perbatasan sehingga orang asing sekalipun mampu untuk menyusup ke dalam.

Puncaknya adalah pada tahun 2000, ketika Washington mendapat kabar dari agen-agen intelijen asing seperti MI-5 dan MI-6 yang melaporkan bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah massal (Weapon Mass Destruction). Kekhawatiran ini semakin menjadi-jadi terutama setelah pembajakan pesawat oleh sejumlah teroris (yang kebanyakan adalah orang-orang Arab-Iraq) dimana gedung World Trade Center dan Pentagon menjadi sasaran penabrakan pesawat yang telah berhasil dibajak. Ini semakin menguatkan agen intelijen Barat yang beranggapan bahwa Iraq berani untuk melakukan hal tersebut karena memiliki suatu kartu As tersembunyi. Emosi karena tidak terima negara diteror begitu mudahnya, Presiden George Walker Bush Jr -seorang mantan pilot pesawat tempur yang pernah jatuh tertembak artileri Jerman- memerintahkan War Department untuk menginvasi Iraq dan nyatanya pada tahun 2002 awal, pasukan Amerika mendarat di pangkalan militer Kuwait dan menyerang Iraq secara menyeluruh baik darat, laut maupun udara- baik politis maupun ekonomis. Karena tidak mampu mengerahkan seluruh kekuatan rakyat Iraq semesta (berbeda paham dan pendapat) maka Saddam pun tergilas walau ia masih sempat melarikan diri dan berkuasa secara in absentia. Pada 2004 kedua putra Saddam yaitu Usay dan Quaday tewas dalam suatu ambush dan beberapa bulan setelahnya sandi ”We got him!!” berhasil berkumandang di seantro Iraq. Saddam pun harus menjalani pengadilan hingga diputuskan oleh hakim (yang beberapa terbunuh dalam proses pengadilan) agar dihukum mati yang pelaksanaannya dilakukan bulan September 2006. Video eksekusi yang secara kebetulan beredar di Internet pun masih menjadi perdebatan. Namun jauh sebelum Saddam tertangkap dan ketika pasukan Delta Force mampu mengobrak-abrik istana kepresidenan tidak diketemukan adanya WMD seperti yang diberitakan. Akan tetapi Amerika dan sekutunya tetap enggan untuk meninggalkan Iraq dan dimulailah suatu era dimana intervensi asing mulai terjadi lagi sejak meletusnya Perang Teluk I.

Keamanan paska Pemerintahan Saddam yang terguling menjadi sangat buruk dari waktu ke waktu. Pasukan Amerika dan Sekutu tidak mampu untuk mengontrol situasi dalam negeri karena sibuk mengurusi campur tangan Taliban. Keamanan kacau balau karena masyarakat mulai tidak puas dengan pemerintahan baru. Fasilitas yang hancur tidak segera diperbaiki, adanya kemiskinan akibat perang yang berkepanjangan serta kurangnya personel keamanan menjadikan para Iraqi menjadi militan. Mereka mencari persoalan dan gemar bertarung. Tanpa adanya pemimpin yang tegas, agama Islam terpecah menjadi 2 kubu yang saling serang yaitu Syiah dan Sunni yang membuka luka lama ketika pada periode masa paska Muhammad pun mereka bertikai merebutkan pengaruh. Etnis Kurdi juga meminta kedaulatan penuh sebagai suatu teritori yang merdeka dan banyaknya orang yang rela menjadi tentara bayaran menjadikan situasi di Iraq mirip neraka. Tiap hari terdapat ledakan bom bunuh diri yang ditujukan pada pasukan koalisi dan sering mobil patroli meledak -turut beserta para penumpangnya- ketika menggilas ranjau yang dipasang. Karena tidak memiliki pilihan lain, maka pada tahun 2004 akhir, Amerika membentuk Badan Polisi Nasional dan Tentara Nasional sebagai pengganti pasukan koalisi yang mulai dikurangi jumlahnya. Mereka dilatih didekat kompleks Stadiun Nasional dekat Baghdad layaknya para GI dan diberi perlengkapan dan seragam yang layak. Polisi Nasional direkrut dari para pemuda sukarelawan yang pada mulanya menjadi sasaran bom bunuh diri kaum militan. Tugas mereka adalah menjaga instalasi penting milik negara, berpatroli bersama pasukan koalisi di teritori masing-masing dan menjaga keamanan di tempat-tempat umum. Sedangkan Tentara Nasional dilatih khusus untuk menghadapi gerakan seporadis yang menetang kekuasaan Amerika di Iraq dan membantu dalam pencarian Moqtada al-Sadr dan Osama bin Laden serta Abu Mousab al-Zarqawi. Yang berprestasi dikirim untuk berlatih bersama SAS Inggris maupun Cobra Australia dan diberi misi khusus.

Pertahanan Nasional paska hilangnya Garda Nasional yang cenderung pro-Saddam dipercayakan kepada Tentara Nasional dimana Amerika menghibahkan 2000 pucuk M-16, 500 pucuk M4-grenade launcher, 2 kompi tim M1A1 Abrams serta dokumen pembuatan amunisi. Seragam tempur, helm dan rompi didapat dari impor dan pelatihan bela diri dilakukan oleh tentara Jepang dan Kanada. Akademi yang masa pendidikannya relatif singkat (boot camp hanya 3 minggu dan hell week 2 minggu serta self defence and war tecnique diajarkan selama 4 bulan) dibuat secara darurat memakai fasilitas yang ada dan senjata rampasan dari pasukan Garda Nasional termasuk 300 tank T-56 buatan Rusia diberikan kepada Tentara Nasional.

Intervensi yang cukup nyata dilakukan oleh pihak koalisi adalah memaksakan status bertahan di Iraq yang telah memuakkan banyak orang. Mereka berdalih mencari Osama bin Laden walau hipotesa mereka mengenai keberadaan WMD meleset jauh. Oleh karena itu banyak sekali tentara koalisi yang gugur sia-sia tanpa melawan musuh yang sesungguhnya. Pada bulan November 2006, Amerika ”merayakan” kematian serdadu mereka yang ke-3150 sedangkan tingkat kematian akibat bunuh diri dari pasukan yang dimobilisasi dan pulang ke rumah mencapai 70%. Australia secara nyata, lewat pidato PM John Howard pada saat membalas kebijakan calon presiden AS Barack Obama di Canberra bulan Maret 2007, menginginkan agar jumlah tentara koalisi jangan dipangkas lagi. Ini sekali lagi membuktikan bahwa Barat cenderung memaksakan kehendak walau mereka gagal mengatasi keamanan dalam negeri Iraq. Intensitas bom bunuh diri cenderung meningkat dibanding masa-masa terdahulu dan kesejahteraan masyarakat Iraq menurun drastis ke titik terendah semenjak 30 tahun yang lalu. Masalah lainnya adalah mulai munculnya Iran sebagai salah satu pemilik WMD di bawah kepemimpinan Presiden Ahmadinejjad. Karena memiliki rudal-rudal yang rata-rata memiliki daya jelajah 4000 mil maka serangan terhadap Iraq dari Teheran adalah hal yang mudah. Pasukan koalisi harus berhati-hati karena selain beraliran ekstremis, Ahmadinejjad juga takkan segan –segan dalam melawan pasukan aliansi. Dalam wawancaranya di www.president.ir pasukan Garda Nasional yang terkenal karena keelitannya menyatakan bahwa presiden dan mereka berjanji pasukan koalisi takkan mampu untuk menginjak tanah bangsa Persia ini sejengkal pun. Sudah saatnya pasukan koalisi berbenah diri bukan saja untuk menghadapi Ahmadinejjad dan antek-antek nuklirnya, tetapi juga dalam pemulihan kembali stabilitas keamanan di Iraq sendiri.

SUMBER:

  1. TIME edisi Desember 2006-Januari 2007- People Who Mattered

  2. TIME edisi Desember 2006-Januari 2007- People Who Mattered (Iraqi Citizen)

  3. TIME edisi Desember 2006-Januari 2007- Farewell (Hal. 103)

  4. www. President.ir –update Maret 2007

  5. Angkasa Edisi Koleksi 2006- edisi TANKS

  6. Kompas edisi 26 Maret 2007-halaman Internasional

About sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

3 responses to “irak dalm sej asia”

  1. Doni says :

    Pasukan khusus Amerika Delta Force adalah Pasukan Khusus yang dibentuk untuk menghadapi teroris seperti penangkapan otak teroris,pembebasan sandrera.Dibentuk oleh kolonel charles beckwith pada tahun 1977 atas berkembangnya aksi terorisme

  2. alia falistia says :

    wahhh……mbak klo cerita bokap w tentang sejarah ditulis ma w kurang lebih sama lho kya tulisan mbak.Bokap w juga ngarti sjarah n’ klo crita panjanggggg bgt, klah de coki2 hehehehe…………!.Tapi sayangnya w gak suka sjrah!

  3. ladin says :

    bagus juga tu kita bisa belajar sejarah .lagian tak payah scholl.letih deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: