Arsip | HISTORIOGRAFI & MEtodologi RSS for this section

NASIONALISME DALAM PENCITRAAN DIORAMA DI BENTENG VREDENBURG

Musem Benteng Vredenburg Yogyakarta yang terletak di jalan Ahmad yani merupakn salah satu museum khusus sejarah perjuangan nasional. Museum Benteng Vredenburg menempati bekas bangunan Vredenburg. Benteng yang dahulunya digunakan untuk mendukung keberadaan belanda di Yogyakarta.

Benteng Vredenburg dimanfaatkan menjadi museum khusu sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pemnafaatkan gedung benteng menjadi museum didasari pad aspek nasionalisme bangsa Indonesia yang tercermin melalui peristiwa-peristiwa sejarah di Yogyakarta, bukan karena benteng Vredenburg adalah bangunan peninggalan penjajah Belanda.

Baca Lanjutannya…

Sepuluh Ide dalam Bab III Masalah Sekitar Penempatan VOC dan Kekuasan Belanda Dalam Sejarah Indonesia Buku Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia Karangan R. Moh. Ali :

1. Masalah penempatan zaman kolonial pada periodisasi sejarah Indonesia
Periodisasi sangatlah penting dalam penulisan sejarah. Periodisasi dijadikan sebagai dasar dalam penulisan sejarah terutama untuk menulis buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Perbedaan itu didasari atas rasa nasionalisme kebangsaan. Nasionalisme yang digunakan untuk periodisasi sejarah Indonesia, tentu akan berbeda dengan periodisasi menurut sejarah Belanda.

2. Perbedaan tradisi sejarah Indonesia dengan tradisi ilmiah modern
Tradisi ilmiah mengenai penulisan sejarah menurut aturan barat belum ada sama sekali. Kesukaran tradisi ilmiah tersebut dikarenakan pada “proses” akulturasi dari peralihan historiografi “daerah” melalui historiografi barat ke arah historiogarafi tradisi ilmiah. Sehingga hal itu berpengaruh pada penyusunan sejarah Indonesia karena terbatasnya jumlah fakta yang “dimasak” oleh penulis Belanda.

3. Kekurangan dalam penulisan sejarah Indonesia “tradisi” ditambal dengan isolasi sejarah kolonial.
Penulisan sejarah Indonesia yang menurut tradisi terdapat kekuranagn disana-sini. Kekurangan itu seperti kekurangan fakta, kekurangan penyelidik, tidak adanya tradisi ilmiah, sambung-menyambung menjadi lingkaran yang tidak terkuak. Kekurangan yang terjadi dalam penulisan sejarah Indonesia merupakan kelebihan dari penulisan sejarah Belanda. Karena hal itu maka penulisan sejarah Indonesia sebaiknya diadakan sebuah pembatasan sejarah Belanda atau isolasi dari sejarah Indonesia. Hal itu akan menyebabkan terjadinya dua jenis sejarah yang terjadi di Indonesia. Penjelasan tersebut bisa diatasi dengan mengikuti cara atau metode penelitian sejarah.

4. Pemberian batasan mengenai penjajahan.
Pemberian batasan dalam kata “penjajahan” sangatlah penting. Pemberian batasan itu merupakan sebuah proses dijajahnya “Indonesia sejak zaman VOC hingga Jepang”. Dalam konteks ini “penjajahan” adalah proses penguasaan terhadap wilayah lain. Namun dalam proses “penjajahan” itu terdapat proses hegemoni kekuasaan (peperangan), dan proses hubungan pertuanan.

5. Penulisan sejarah Indonesia adalah sejarah dari daerah-daerah tertentu.
Sejarah Indonesia sangatlah kompleks, Indonesia yang terdiri dari daerah-daerah seakan-akan menyatu dalam satu ikatan yaitu “indonesia”. Bila sejarah Indonesia dilihat berdasarkan sifat kedaerahan, maka setiap daerah memiliki perbedaan dalam perjalanan sejarah penjajahan. Daerah-daerah tersebut dilihat menurut hubungan negara-belanda. Perlu diketahui bahwa ada beberapa kerajaan yang tidak berada langsung dibawah bagian dari Belanda, dan ada beberapa kerajaan yang berada langsung dibawah kekuasaan belanda. Masalah waktu juga tidak kalah pentingnya dalam proses penjajahan. Waktu itu berpengaruh terdapat kerajaan yang dijajah sejak 1605 atau baru dijajah setelah 1911.

6. Generalisasi sejarah Belanda di Indonesia.
Belanda menyakini bahwa istilah Hindia-Belanda merupakan penyebutan satu kesatuan wilayah kepulauan Indonesia sebagai tanah milik Belanda. Perspektif inilah yang memunculkan bahwa Belanda memandang sejarah Indonesia dari “geladak kapal kompeni”. Sehingga sejarah Indonesia seakan-akan dipengaruhi sikap Belanda-sentris.

7. Antitesis terhadap Belanda
Sikap belanda-sentris menimbulkan antitesis bahwa bangsa Indonesia yang selalu menentang Belanda. Penentangan terhadap Belanda dalam sejarah masa penjajahan dilukiskan sebagai zaman keemasan, kebangsaan bersatu dan bahagia. Antitesis itu sebagai penilaian sejarah penjajahan pada sejarah daerah-daerah.

8. Pencampuran fakta-fakta
Pencampuran fakta-fakta merupakan salah satu cara dalam penulisan sejarah indonesia. Fakta-fakta sejarah itu berasal dari fakta sejarah kolonial dan fakta-fakta dari sejarah daerah. Walaupun berbeda, namun kedunya bisa melengkapi. Historiografi barat sebagai acuan sifat-sifat dunia-ilmiah barat, dan historiografi daerah yang memiliki tujuan tertentu. Sehingga memungkinkan untuk timbul tiga historiografi: historiografi barat, historiografi daerah, atau historiografi indonesia.

9. Penyelidikan fakta-fakta terhadap historiografi Indonesia.
Pengunaan fakta-fakta perlu malalui penyelidikan yang sangatlah teliti. Penyelidikan fakta dari ahli sejarah kolonial dengan memperbandingkan antara fakta-fakta yang diketemukan. Penyelidikan itu juga bisa dipakai dalam penyelidikan fakta sejarah daerah. Walaupun penyelidikan fakta-fakta sejarah daerah perlu adanya interpretasi tertentu dan melepaskan fakta-fakta dari hal-hal yang berbau mitos.

10. Perubahan dari xenosentris menuju indonesia-sentris
Perubahan cara pandang sejarah bahwa sejarah Indonesia merupakan sejarah atas kebencian Belanda diubah menjadi sejarah yang bersifat ke-Indonesia-an. Sifat indonesia-sentis akan menampung fakta sejarah indonesia, sejarah kolonial, dan sejarah-sejarah daerah. Sehingga dalam penulisan sejarah Indonesai memiliki unsur sejarah kolonial, sejarah-sejarah daerah, walaupun sejarah-sejarah itu tidak identik dengan sejarah Indonesia. Serta persoalan historiografi tidak hanya sebagai masalah metode, namun masalah itu telah sampai pada masalah mengenai pandangan hidup.

memahami historiogarfi tradisional

Sejarawan sering membaca teks semata sebagai sumber informasi pada tingkat analisis isi.[1]

A. PENDAHULUAN

Sejarah adalah ilmu mengenai kisah-kisah perkembangan manusia yang unik pada waktu dan tempat tertentu. Kisah–kisah yang terjadi dalam sejarah dapat dibedakan menjadi dua arti antara sejarah dalam arti objektif dan sejarah dalam arti subjektif. Sejarah dalam arti objektif, adalah kejadian atau peristiwa yang sebenarnya (History of Actually). Sejarah dalam arti subjektif (History of Record) adalah pengkisahannya, dalam pengkisahannya harus menggunakan secara benar sumber-sumber bukti peninggalan peristiwa itu terjadi yang bersifat akurat dan kredibel, baik berupa benda-benda (artifact) maupun dokumen-dokumen tertulis. Bahan-bahan ini menjadi sumber sejarah. Hanya dengan mencari sumber-sumber informasi inilah, kegiatan mencari sumber sejarah dalam ilmu sejarah disebut heuristik,[2] sejarawan dapat membuat rekontruksi peristiwa masa lampau dan menulis uraian sejarah sering disebut juga History as written atau Historiografi.[3]

Dalam sebuah penulisan seorang sejarawan tentunya memiliki sebuah latar belakang yang melingkupinya dalam sebuah penulisan sejarah. Sejarawan dalam penulisannya dipengaruhi oleh keadaan zaman dan lingkungan kebudayaan di tempat sejarawan itu hidup. Sehingga dalam sebuah historiografi dipengaruhi oleh lingkungan zaman dan kebudayaan semasa sejarah itu ditulis.

Dalam sebuah historiografi yang dapat dipadupadankan dengan mempelajari sejarahnya penulisan sejarah. Yang berarti bahwa setiap zaman penulisan sejarah akan berbeda, menurut perspektif seorang sejarawan pada saat penulisan tersebut. Sehingga dalam sebuah penulisan atau historiografi terdapat perkembangan penulisan sejarah dengan pengaruh zaman, lingkungan, kebudayaan pada setiap penulisan sejarah, perkembangan penggunaan teori dan metodologi dan seni pengungkapan serta penyajian sejarah.

Historigrafi yang selalu berkembang dan menurut jiwa zaman seorang sejarawan, menjadikan historiografi diklarifikasikan. Dalam sebuah historiografi Indonesia terutama dibagi atas dua historiografi besar yaitu, historiografi tradisional dan historiografi Indonesia modern. Historiogarafi Indonesia tradisional dipengaruhi oleh jiwa zaman yang banyak mengandung unsur-unsur mitos atau mitologi.Sedangkan dalam historiografi Indonesia modern unsur tersebut tidak diketahui, namun bila dalam penulisan masih terdapat mitos, hal itu dapat dikategorikan dalam historiografi Indonesia tradisional. Historiografi tidak dipengaruhai oleh kapan historiografi atau penulisan sejarah itu ditulis.

Tulisan ini akan membahas mengenai pemahami historiografi tradisional yang banyak dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat mitos. Sebagai studi awal, maka penekannya adalah pada aspek mitologi dan sangkut paut para penulis sejarah Indonesia yang dapat dikategorikan sebagai historiografi Indonesia tradisonal.

B. PEMBAHASAN

B.1 Historiografi

Historiografi merupakan pandangan sejarawan terhadap peristiwa sejarah, yang dituangkan di dalam penulisannya itu akan dipengaruhi oleh situasi zaman dan lingkungan kebudayaan di mana sejarawawan itu hidup. Dengan kata lain, pandangan sejarawan itu selalu mewakili zaman dan kebudayaannya[4].

Historiografi dapat diartikan sebagai pencarian terhadap pemikiran sejarawan pada zamannya. Historiografi mencari tentang ide, subyektifitas, dan interprestasinya. Sebagai sebuah alat untuk melihat sejarah intelektual atau mentalis seorang sejarawan, maka haruslah dilakukan sebuah studi mengenai karya-karyanya.

Dalam sebuah penulisan sejarah sejarawan tidak diperbolehkan untuk mengkhayal hal-hal yang menurut akal tidak mungkin telah terjadi. Dalam sebuah penulisan sering harus mengkhayal hal-hal yang kiranya telah terjadi. Namun, sering terjadi mengkhayal hal-hal yang kiranya pasti telah terjadi. Sehingga dalam sebuah penulisan sejarah tidak mungkin untuk merumuskan mengenai aturan-aturan penggunaan imajinasi. Di dalam sejarah kecuali dengan ketentuan-ketentuan yang sangat umum sifatnya.[5] Baca Lanjutannya…