Perkembangan Pengaruh Barat dan Perubahan Ekonomi, Demografi dan Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat di Indonesia Pada Masa Kolonial

A. Masuk dan Berkembangnya Kekuasaan Bangsa Belanda Masa VOC di Indonesia
A.1 Masuknya Bangsa Belanda
Cornelis de Houtman memimpin pelayaran dari Belanda tahun 1595 dan tiba di Banten Juni 1596. Dari Banten pelayaran dilanjutkan ke Maluku dan berhasil mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya disana.

A.2 Berkembangnya organisasi dagang VOC
VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) dibentuk pada Maret 1602 di Batavia dengan Gubernur Jenderal J.P. Coen. Tujuan dibentuk VOC untuk menghindari persaingan antar pedagang Belanda dalam usaha mencario keuntungan sebesar-besarnya; mempertahanakan diri dari persaingan dengan pedagang bangsa-bangsa Eropa dan bangsa Aisa; untuk membantu kebutuhan pemerintah Belanda dalam menghadapi pasaran Spayol di Eropa.


VOC mempunyai hak-hak istimewa yang diberikan oleh Parlemen Belanda disebut hak Oktrooi. Hak Octrooi tersebut berisi hal-hal sebagai berikut:
• VOC memperoleh hak monopoli perdagangan
• VOC memperoleh hak untuk mencetak dan mengeluarkan uang sendiri
• VOC dianggap sebagai wakil pemerintah Belanda di Asia
• VOC berhak mengadakan perjanjian
• VOC berhak memaklumkan perang dengan Negara lain
• VOC berhak menjalankan kekuasaan kehakiman
• VOC berhak mengadakanpemungutan pajak
• VOC berhak memiliki angkatan Perang sendiri
• VOC berhak mengadakan pemerintahan sendiri.
Disamping hak istimewa, VOC juga mempunyai kewajiban khusus terhadap pemerintah Belanda. VOC wajib melaporkan hasil keuntungan dagangnya kepada Parlemen Belanda. VOC juga wajib membantu pemerintah Belanda dalam menghadapi berbagai perangan.
Heeren XVII mengangkat Gubernur Jenderal VOC, dengan tugasnya menangani urusan-urusan VOC di Hindia Belanda. Dibentuk pula Dewan Hindia untuk memberi nasihat dan mengawasi tindakan Gubernur Jenderal. Pusat kegiatan perdagangan VOC ada di Ambon.
Jan Pieterzoon Coen membantu Pangeran Jayakarta dalam serangan terhadap Kerajaan Banten dan kerajan Banten berhasil dikalahkan. Jan Pieterzoon Coen kemudian membangun kembali kota Jayakarta dan memberinya nama Batavia. Batavia dijadikan sebagai pusat perdagangan dan kekuasaan Belanda di Indonesia. Sejak saat itu Batavia resmi menjadi markas besar VOC di Indonesia.
Pada akhir abad ke-18, VOC mengalami kemunduran disebabkan :
• Gencarnya persaingan dari bangsa Perancis dan Inggris.
• Korupsi dan pencurian yang dilakukan para pegawai VOC.
• Maraknya perdagangan gelap di jalur monopoli VOC.
• Besarnya aggaran belanja VOC tidak sebanding dengan pemasukkannya.
• Meningkatnya kebutuhan gaji pegawai
• Tertalu banyak biaya yang dikeluarkan dalam menumpas pemberontakan rakyat.

Akhirnya VOC dibubarkan pada tahun 1799 dengan segala tanggungjawab VOC diambil alih oleh kerajaan Belanda dengan tujuan agar wilayah Indonesia tetap dalam pengendalian Belanda.

B. Masuk dan Berkembangnya Kekuasaan Bangsa Belanda
B.1 Masa Pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811)
Setelah VOC bubar dan diambil alih oleh Belanda, maka Raja Louis Napoleon Bonaparte menunjuk Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Indonesia.
Herman Willem Daendels berkuasa dari tahun 1808 sampai 1811. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Daendels:
1. Bidang Pertahanaan, ia bertugas mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris yang saat itu sedang berperang melawan Perancis.
2. Membangun angkatan perang yang terdiri dari orang-orang Indonesia.
3. Membangun benteng-benteng militer, pabrik senjata, dan rumah sakit militer.
4. Membangun jalan utama yang yang menghubungkan kota-kota sepanjang pantai utara Jawa. Jalan tersebut membentang dari Anyer di Jawa Barat hingga Panarukan di Jawa Timur.
5. Pembangunan Pelabuhan di Banten, Merak, dan Surabaya, serta membuat perahu-perahu untuk keperluan pemerintahannya.
6. Daendels berusaha untuk menanamkan kekuasaannya di kerajaan-kerajaan lokal di Indonesia, dan berusaha untuk mengubah tata cara lama dalam tradisi kerajaan-kerajaan Indonesia.
7. Menjual tanah rakyat kepada pengusaha swasta asing dari Belanda, Arab, dan Cina.
Pelaksanaan kebijakan tersebut dilakukan dengan sistem kerja paksa yang disebut Kerja Rodi. Rakyat harus bekerja keras membangun saran umum tersebut tanpa mendapat upah. Ribuan rakyat meninggal saat mengerjakan pembuatan jalan raya tersebut.
Tindakan Daendels tersebut menimbulkan konflik dengan para penguasa lokal Indonesia. Tindakan otoriter Daendels tersebut membuat Raja Louis Napoleon Bonaparte memanggil kembali Daendels ke Belanda dan diganti oleh Gubernur Jenderal Jansens.

B.2. Masa Pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles
Raffles berkuasa dari tahun 1811-1814 setelah pada tahun 1811, Inggris menyerang wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda di Jawa. Hal ini berhasil membuat Belanda menyerah tanpa syarat dan memberikan wilayah kekuasaan kepada pemerintah Inggris. Kekuasaan Inggris di Indonesia diwakili oleh Maskapai Hindia Timur (The East India Company) disingkat EIC yang berpusat di Calcutta, India. EIC mendapat hak Oktrooi dari Ratu Elizabeth I. Saat Gubernur Jenderal Lord Minto menjadi pemimpin EIC, dia mengangkat Thomas Stamford Raffles sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda.
Selama Raffles berkuasa ia menerapkan berbagai kebijakan diantaranya:
1. menghapus system kerja paksa (rodi) kecuali untuk daerah Priangan dan Jawa Tengah.
2. menghapuskan pelayaran hongi dan segala jenis tindak pemaksaaan di Maluku
3. melarang adanya perbudakan
4. menghapus segala bentuk penyerahan wajib dan penyerahan hasil bumi.
5. Melaksanakan sistem Landrente yaitu system sewa tanah.Landrente membawa perubahan bagi pribumi anatar lain:
1. Unsur paksaan di gantikan dengan unsure kebeasan, suka rela dan kontrak
2. Hubungan natara pemerintah dengan rakyat didasari sifat kontrak
3. Kehidupan ekonomi barang diganti dengan ekonomi uang.
6. Membagi wilayah Pulau Jawa menjadi 16 daerah Karisedenan. Tujuannya untuk mempermudah pengaturan dan pengawasan terhadap Pulau Jawa.
7. Membentuk sistem pemerintahan dan pengadilan dengan merujuk kepada sistem di Inggris.
Selama di Indonesia berhasil menulis buku yang berjudul History of Java berisi sejarah budaya indonesia. Namanya diabadikan sebagai nama bunga bangkai di Bengkulu “Rafflesia Arnoldi”. Kekuasaan Raffles berakhir pada 1814 setelah terjadi Konvensi London antara Inggris dan Belanda. Isinya “Inggris harus mengembalikan semua wilayah jajahan Belanda yang telah dikuasainya. Inggris menyerahkan kekuasaan pada Belanda tahun 1816.

B.3 Masa Pemerintahan Gubernur Jenderal Van Den Bosch
Pada Tahun 1830, keadaan keuangan Negeri Belanda mengalamidefisit anggran dan mendekati kebangkrutan. Hal tersebut disebabkan karena beban utang dan pembiayaan yang dikeluarkan untuk Perang Diponegoro dan Perang Kemerdekaan Belgia.
Pemerintah Belanda kemudian menunjuk Gubernur Jenderal Van Den Bosch yang ditugaskan untuk mengisi kembali kekosongan kas negara. Van den Bosch menggagas Sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel). Gagasan ini di setujuia Pemerintah Belanda. Sistem Tanam Paksa berisikan tentang:
1. penduduk desa diwajibkan menyediakan seperlima luas tanahnya untuk ditanami tanaman ekspor yang laku dipaasaran dunia, sepert kopi, gula , tembakau dan nila.
2. Tanah tersebut dibebaskan dari pajak.
3. Hasil tanaman dagang itu diserahkan kepada pemerintah Belanda. Kelebihan hasil tanaman dari jumlah pajak yang dibayar, akan dikembalikan kepada rakyat.
4. Waktu untuk menanam tanaman dagang tidak boleh melebihi dari waktu yang dilakukan untuk menanam padi.
5. Penenan yang gagal akan ditanggung oleh pemerintah.
6. Wajib tanam Paksa boleh diganti dengan penyerahan tenaga untuk pengangkutan pekerjaan di pabrik.
7. Mereka yang bukan petani wajib bekerja di lading-ladang pemerintah selam 66 hari dalam setahun.
8. Penduduk bekerja di bawah pengawasan penguasa pribumi, sedangkan pegawai Eropa akan megawasi secar umum jalnnya pekerjaan tersebut.
Dalam pelaksanaan Tanam Paksa berbada jauh dengan ketetntuan yang telah ditetapkan. Hal itu terbukti dengan:
1. tanah yang disediakan lebih dari seperlima bagian dan jika tanahnya subur akan diambil semuanya oleh pemrintah.
2. tanah yang disediakan tetap dikenakan pajak.
3. kelebihan hasil tanaman dari jumah yang ditetapkan tidak dikembalikan.
4. panenan yang gagal tetap ditanggung oleh petani.
5. pekerjaan pengangukatan di pabrik lebih berat dari pada pekerjaan di sawah.
6. dalam melaksanakan tugasnya penguasa pribumi maupun pengusas eropa bertindak semwenang-wenang.

C. Zaman Pendudukan Jepang
Jepang memulai pendudukan dari Pulau Tarkan dan Balik papan yang dikuasai pada Januari 1942. Selanjutnya, Jepang meyerbu Pulau Jawa yang dipimpin oleh Jenderal Hitoshi Imamura. Dalam penyerbuan tersebut Jepang menduduki tiga tempat sekaligus yaitu Teluk Banten, Eretan (Indramayu) dan daerah Kranggan di Rembang. Jakrta berhasil diduduki pada tanggal 5 Maret 1942.
Tentara pemerintahan Hindia-Belanda tidak mampu menhan serangan dari Jepang sehingga pada tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah tanpa syarat terhadap jepang. Penyerahan Belnda terhadap Jepang dilakukan di Kalijati, Subang Jawa Barat. Surat penyerahan di tandatangai oleh Panglima Tentara Belanda, Jenderal Ter Poorten, diskasikan oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Tjarda Van Starkenborg Stachchouwer, sedangkan pihak Jepang diwakili oleh Jenderal Hitoshi Imamura.

C.1 Organisasi bentukan Jepang.
• Gerakan 3A
Jepang mempropagandakan Gerakan 3A, yaitu Jepang Cahay Asia, Jepang Pelindung Asia dan Jepang pemimpin Asia. Gerakan 3A dipimpin oleh Mr. Syamsudin. Gerakan ini tidak berumur panjang pada sepetember 1942 gerakan ini dibubarkan.
• PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat)
Putera di dirikan pada tanggal 16 April 1943. Badan ini didirikan tas kerja sama dengan tokoh nasional seperti Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara dan K.H. Mas Mansyur. Organisasi ini bertujuan untuk pengerahan tenaga dan sumber daya untuk kepentingan peperangan Jepang.
• Jawa Hokookai (Perhimpunan Jawa)
organisasi ini didirikan untuk memupuk semangat kebaktian, yaitu kesedianny untuk mengorbankan diri, mempertebal persaudaraan dan melkasanakan tugas untuk kepentingan pemerintah pendudukan Jepang.

C.2 Pengerahan Tenaga Pemuda
• Barisan Pemuda (Seinendan),
• Barisan Pembantu Polisi (Keibodan)
• Himpunan Wanita (Fujinkai)
• Pembantu Prajurit Perang (Heiho)
• Pembela Tanah Air (PETA)
• Organisai Pemuda Islam (HIizbullah)

D. Perlawanan Bangsa Indonesia terhadapa Pemerintah Kolonial-Belanda.
D.1 Perang Diponegoro (1825-1830)
a. Sebab-sebab Perang
• Rakyat sangat menderita karena dibebani macam-macam pajak.
• Belnda ikut campur dalam urusan pemerintahan kerajaan Mataram.
• Belanda merencanakan pembangunan jalan kereta api yang melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo tanpa minta ijin terlebih dahulu.
b. Jalannya Perang
Perang Diponegoro di mulai pada tanggal 20 Juli 1825 di Tegalrejo. Para pasukan Pangeran Diponegoro menyinggkir di bukit Sealarong untuk mengatur siasat. Diponegoro mengumandangkan perang Sabil yang segera diterima oleh rakyatdaerah lain. Pada masa awal-awal pertempuran banyak terjadi didaerah Pacitan, Purwodadi, Banyumas, Pekalongan, Semarang, Rembang dan Madiun. Untuk menghadpi serangan pasukan Diponegoro pemerintah belnda menggunkan taktik benteng stelsel. Taktik ini bertujuan untuk mempersempit ruang gerak Diponegoro, dengan mendirikan benteng pertahanan di daerah yang dikuasai.
Pada tanggal 21 Februari 1830, Diponegoro beserta ank buahnya menuju Bukit Menoreh dan dilanjutkan ke magelang (8 Maret 1830) untuk melakukan perundingan. Setelah Perundingan gagal, pada tanggal 28 Maret 1980, Belanda dengan tipu muslihat berhasil menangkap Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro kemudian di buang ke Manada dan pada tahun 1934 di pindahkan ke Makassar. Pangeran Diponegoro meninggal pada tanggal 8 Januari 1855 di Makassar.

D.2 Perang Aceh (1873-1904)
a. Sebab-sebab Perang
• Munculnya traktat Sumatera, tanggal 2 November 1871, yaitu perjanjian anatar Inggris-Belanda, yang mengizinkan Belanda memperlua kekuasannya di Sumatera, termasuk di Aceh.
• Pada tanggal 22 Maret 1873, Belanda mengirim ultimatum, yang isinya Aceh harus mengakui kedaulatan Belanda di Aceh. Tetapi ultimatum tersebut ditolak oleh Kerajaan Aceh.
b. Jalannya Perang
Pada tahun 1973, Belanda mengirim pasukan yang dipimpin oleh Jenderal J.H.R. Kohler ke Aceh untuk melakukan penjajahan. Pasukan yang dipimpin oleh Jenderal J.H.R. Kohler berhasil menduduki Masjid Raya baiturahman, pusat pertahanan laskar Aceh dan pusat pertahanan laskar Aceh.
Pada akhir 1873, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan Jenderal J. Van Swieten berhasil merebut istana Kutaraja. Perlawanan Rakyat Aceh dipimpin oleh Panglima Polim, Teuku Imam Leungbata, Teuku Ibrahim, Teuku Cik Di Tiro, Teuku Umar dan Cut Nyak Dien.

About these ads

About sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: