Sejarah Teknologi Sistem Produksi Pabrik Gula Madukismo (1948-1967)

Industri perkebunan tebu bersifat kolonial yang cenderung mengeksploitasi tanah dan tenaga kerja. Industri perkebunan tebu juga digambarkan sebagai struktur hierarki dan represif  yang sengaja di disciptakan oleh penguasa perkebunan. Tujuan diciptakan sistem hierarki itu jelas untuk melindungi kepentingan kaum pemilik modal dan melanggengkan mekanisme eksploitasi untuk menekan biaya produksi semurah mungkin. Tanah sebagai penerapan teknologi dan tenaga kerja pribumi sebagai pelaksana dari teknologi produksi pada industri gula. Namun, selama abad ke-19, pembudidayaan tebu tidak berjalan lancar. Baru menjelang akhir abad tersebut, industri gula berkembang kembali. Hal ini berlangsung terus selama dekade-dekade awal abad ke-20, ketika kemerosotan pasar tahun 1930-an menjadi pukulan berat bagi industri gula. Sedangkan, pada masa pendudukan Jepang Industri Gula tidak beroprerasi.

Kemerdekaan Indonesia merupakan peralihan kekuasan kolonial menjadi pemerintahan republik. Peralihan ini menjadikan segala bentuk produk kolonial tidak berlaku bagi Indonesia. Semua aset-aset kolonial harus diserahkan kepada pemerintah republik. Namun, penyerahan aset-aset tersebut tidaklah mudah karena terhambat dengan perang kemerdekaan.

Pemerintah Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat mengambil kebijakan-kebijakan untuk membangun ekonomi nasional dari kelompok komunitas pribumi. Pembentukan indentitas ekonomi ini merupakan suatu tuntutan zaman dari negeri yang berdaulat.

Situasi pasca kemerdekaan telah mengubah peta hierarki sosial maupun hierarki kerja yang telah ada sejak zaman kolonial. Mobilitas vertikal berhasil ditembus tanpa adanya batas-batas kedudukan dan lapisan sosial. Banyak anak-anak petani dan borjuis kecil berhasil memperoleh pendidikan dan menduduki jabatan dalam pemerintahan atau bergerak di bidang swasta.

Perkembangan ekonomi di beberapa daerah di Indonesia terkendala ketika berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda, mengalami suatu fase transisi dari sistem ekonomi kolonial ke sistem ekonomi nasional. Banyak hal yang mempengaruhi perkembangan ekonomi di tingkat nasional dan lokal. Antara lain dapat disebutkan adanya situasi politik yang tidak menentu, akibat terjadinya gerakan-gerakan dalam proses transisi, seperti pengaruh revolusi di tingkat daerah yang menyebabkan suasana keamanan yang tidak kondusif.

Ketegangan konflik Indonesia-Belanda, di dalam negeri, berujung pada tahun 1957 dengan muncul aksi sepihak dalam pengambil-alihan perusahaan-perusahaan asing. Pengambil-alihan semula dilakukan oleh badan-badan perjuangan dan perorangan, namun kemudian ditertibkan oleh pemerintah Indonesia, terutama oleh pihak militer.

Mekanisasi ada industri gula terutama dengan penggunaan teknologi produksi gula, menjadikan pengerahan tenaga kerja tidak lagi menjadi masalah. Masalah yang dihadapi pada masa kolonial Beland adalah membangun hubungan antara pabrik gula dengan masyarakat sekitar pabrik untuk usaha simbiosis mutualisme, terutama dalam masa penanaman tebu dan waktu penggilingan.

Teknologi gula yang ada adalah warisan dari masa kolonial. Mulai dari sistem penanaman hingga mekanisasi di pabrik adalah warisan pada masa kolonial. Namun, PG Madukismo bukanlah pabrik yang dahulu dibangun oleh Belanda melainkan dibangun sesudah masa kolonial. Pembangun pabrik tentu saja menimbulkan pertanyaan pada penulis bahwa pembanguan pabrik akan meneruskan cara-cara kolonial atau membangun sebuah sistem baru dalam teknologi produksi gula yang dikelola oleh anak negeri.

Kebanyakan studi mengenai teknologi gula dan tenaga kerja memang masih berlatar skala zaman kolonial teruma pada masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dari sinilah, muncul ide untuk mengangkat teknolgi dan tenaga kerja pabrik gula pada masa kemerdekaan. Dalam hal ini, ruang yang akan dijadikan objek penelitian adalah Pabrik Gula Madukismo dengan tahun 1948 sebagai pijakan awal penelitian. Dimana saat itu pemerintahan Republik Indonesia memasuki zaman untuk mempertahankan kemerdekaannya dan membangun siistem ekonomi yang berbasis pada rakyat. Terutama, penggunaan teknologi dan tenaga kerja ketika pada masa kemerdekaan yang diasumsikan sebagai ”masa kebebasan”.

Lalu mengapa PG Madukismo dipilih sebagai objeknya? Pertama, karena PG Madukismo adalah pabrik gula yang dibnagun setelah pabrik-pabrik gula yang ada di Yogyakarta dibumihanguskan oleh Belanda saat clash ke II perang melawan Belanda setelah kemerdekaan. Kedua, Sebagaimana industri gula sudah diketahui bahwa industri gula sudah ada sejak zaman kolonial dengan sistem kerja dan teknologi yang berasal dari pemerintah kolonial, tentu saja akan ada perbedaan antara sistem kerja dan teknologi antara masa kolonial dengan masa setelah kemerdekaan.

Asumsi dasar tahun 1967 dijadikan akhir temporal penelitian ini karena pada tahun itu volume produksi dan hasil gula putih di Jawa pada medio lima-puluhan mengalami penurunan dalam nilai ekspor gula, tahun 1964 nilai ekspor gula tinggal 0,3% dan tahun 1966 nilai ekspor gula Indonesia telah berhenti. Titik puncaknya terjadi pada tahuan 1967, Indonesia mulai benar-benar mengimpor gula.

About these ads

About sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

12 responses to “Sejarah Teknologi Sistem Produksi Pabrik Gula Madukismo (1948-1967)”

  1. wendy says :

    halo bs share info mengenai pabrik gula,,terutama saat jaman penjajahan belanda..mengenai existensi dr pabrik2 gula di Pulau Jawa..kalau ada info mohon bantuannya ya..

  2. wisnu h says :

    Mmm, coba datang ke BST PG Madukismo. Mungkin saya bisa membantu tentang literatur buku2 pergulaan zaman belanda di Jawa, mungkin khususnya di DIY. Banyak ensiklopedia mulai akhir abad 19 sampai pertengahan tahun 1900an berbahasa Belanda yg saat ini berdebu seperti gak kerumat. Siapa tahu bisa berguna & membantu

  3. firman dwi prasetya says :

    mohon maaf sebelumnya.saya mau bertanya mengenai PG. Madukismo msendiri dimana ya??

    karena kami akan mengadakan Study Exursie dan akan mengajukan permohonan ke pabrik tersebut. Mohon dikrim via email dengan lengkap dan jelas.terimakasih

  4. Ibadullah says :

    Tks, aku tunggu info berikutnya.

  5. Jokid teji says :

    Aku bangga indonesia puny pabrik industri meski warisan kolonial belanda.
    Kususnya di kec:kasihan
    Kab:bantul jogjakarta ini.Dengan it kita tdk ush lg mengimport dr luar negeri.
    Mlhan bs mengexpor .Tp 1 yg ku sesali soal pencemaran limbah yg brbntk cairan yg mengandung bahan kimia dengan bau yg tak sedap mengalir ke persawahan sampek melewati penduduk desa. Bahaya kan bisa ngrusak lingkungan dan kesehatan.bukan cuma itu saja limbah asap abu yg d keluarkan melalui corong pipa madukismo membuat udara menjadi tercemar.bayangin jemura pakean dengan taburan abu,perabot,lantai,sampek mata pun terkena abu.
    Q hny brharap supaya pihak pengelola peduli lingkungan dan bisa meminimalisir limbah.
    Maju terus madukismo…!
    Aku mendukungmu!!

  6. wani jamjuri says :

    memang berguna info ini.
    terima kasih ya.

  7. helder says :

    mf… saya mau tanya, boleh nga bisa kp di PG. MADUKISMO…..

    • sejarawan says :

      sya bukan pegai PG. Madukismo, tapi saya pernah ke sana..caranya minta surat pengatra dari fakultas untuk keperluan apa dan datang ke sana menyerahkan proposal dan surat dari fakultas

  8. AspirasiKu says :

    Meskipun pada dasarnya Indonesia sudah merdeka, akan tetapi perjuangan yang harus dilaluinya juga sangat berat. banyak polemik dan konlik yang kemudian mewarnai hal tersebut, serupalah pada saat penjajahan. memang, sungguh miris.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: