sekilas tentang MAJAPAHIT

ASPEK SOSIAL MASYARAKAT MAJAPAHIT

Pola tata masyarakat Majapahit dibedakan atas lapisan-lapisan masyarakat (strata) yang perbedaannya lebih bersifat statis. Walaupun di Majapahit terdapat empat kasta seperti di India, yang lebih dikenal dengan catur warna, tetapi hanya bersifat teoritis dalam literatur istana.1 Pola ini dibedakan atas empat golongan masyarakat, yaitu brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Namun terdapat pula golongan yang berada di luar lapisan ini, yaitu Candala, Mleccha, dan Tuccha, yang merupakan golongan terbawah dari lapisan masyarakat Majapahit.2

Brahmana (kaum pendeta) mempunyai kewajiban menjalankan enam dharma, yaitu mengajar, belajar, melakukan persajian untuk diri sendiri dan orang lain, membagi dan menerima derma (sedekah) untuk mencapai kesempurnaan hidup dan bersatu dengan Brahman (Tuhan).3 Mereka juga mempunyai pengaruh di dalam pemerintahan, yang berada pada bidang keagamaan dan dikepalai oleh dua orang pendeta tinggi, yaitu pendeta dari agama Siwa dan agama Buddha, yang disebut sebagai Saiwadharmadhyaksa dan Buddhadarmadyaksa. Saiwadyaksa mengepalai tempat suci (pahyangan) dan tempat pemukiman empu (kalagyan); Buddhadyaksa mengepalai tempat sembahyang (kuti) dan bihara (wihara); manteri berhaji mengepalai para ulama (karesyan) dan para pertapa (tapaswi). Semua rohaniawan menghambakan hidupnya kepada raja yang disebut sebagai wikuhaji.

Para rohaniawan biasanya tinggal di sekitar bangunan agama, yaitu mandala, dharma, sima, wihara, dsb. Mandala adalah nama komunitas agama di desa, yang ditempatkan di daerah yang terpencil di bukit yang berhutan, sedangkan Sima adalah daerah yang menjadi milik kaum agama dari berbagai sekte, tidak langsung di bawah kekuasaan pejabat istana manapun.

Kaum Ksatria merupakan keturunan dari pewaris tahta (raja) kerajaan terdahulu, yang mempunyai tugas memerintah tampuk pemerintahan. Keluarga raja dapat dikatakan merupakan keturunan dari kerajaan Singasari-Majapahit yang dapat dilihat dari silsilah keluarganya dan keluarga-keluarga kerabat raja tersebar ke seluruh pelosok negeri, karena mereka melakukan sistem poligami secara meluas yang disebut sebagai wargahaji atau sakaparek. Para bangsawan yang memerintah suatu kawasan permukiman di ruang lingkup kekuasaan kerajaan dapat dikatakan memiliki hubungan dengan keluarga raja terdahulu dan disebut sebagai parawangsya. Semua anggota keluarga raja masing-masing diberi nama atas gelar, umur, dan fungsi mereka di dalam masyarakat. Bila seseorang diangkat menjadi bangsawan, maka nama pengangkatan akan diberikan kepadanya. Pemberian nama pribadi dan nama gelar terhadap para putri dan putra raja didasarkan atas nama daerah kerajaan yang akan mereka kuasai sebagai wakil raja. Hak istimewa yang diterima oleh para bangsawan kerajaan bersumber pada penghasilan dari propinsi mereka dan terutama pada penghasilan wilayah yang menjadi hak mereka sendiri.

Waisya merupakan masyarakat yang menekuni bidang pertanian dan perdagangan. Mereka bekerja sebagai pedagang, peminjam uang, penggara sawah dan beternak. Kemudian kasta yang paling rendah dalam catur warna adalah kaum sudra yang mempunyai kewajiban untuk mengabdi kepada kasta yang lebih tinggi, terutama pada golongan brahmana.

Golongan terbawah yang tidak termasuk dalam catur warna dan sering disebut sebagai pancama (warna kelima) adalah kaum candala, mleccha, dan tuccha. Candala merupakan anak dari perkawinan campuran antara laki-laki (golongan sudra) dengan wanita (dari ketiga golongan lainnya: brahmana, waisya, dan waisya), sehingga sang anak mempunyai status yang lebih rendah dari ayahnya. Mleccha adalah semua bangsa di luar Arya tanpa memandang bahasa dan warna kulit, yaitu para pedagang-pedagang asing (Cina, India, Champa, Siam, dll.) yang tidak menganut agama Hindu. Tuccha ialah golongan yang merugikan masyarakat, salah satu contohnya adalah para penjahat. Ketika mereka diketahui melakukan tatayi, maka raja dapat menjatuhi hukuman mati kepada pelakunya. Perbuatan tatayi adalah membakar rumah orang, meracuni sesama, mananung, mengamuk, merusak dan memfitnah kehormatan perempuan.4

Dari aspek kedudukan kaum wanita dalam masyarakat Majapahit, mereka mempunyai status yang lebih rendah dari para lelaki. Hal ini terlihat pada kewajiban mereka untuk melayani dan menyenangkan hati para suami mereka saja. Wanita tidak boleh ikut campur dalam urusan apapun, selain mengurusi dapur rumah tangga mereka. Dalam undang-undang Majapahit pun para wanita yang sudah menikah tidak boleh bercakap-cakap dengan lelaki lain, dan sebaliknya. Hal ini bertujuan untuk menghindari pergaulan bebas antara kaum pria dan wanita.

STRUKTUR PEMERINTAHAN MAJAPAHIT

  1. Struktur Pemerintahan

Struktur pemerintahan Kerajaan Majapahit mencerminkan kekuasaan yang bersifa teritorial dan disentralisasikan dengan birokrasi yang terperinci sehingga basis kekuasaan sebagian besar berada di tangan birokrasi sekuler, politik dan militer5. Struktur tersebut ada karena terpengaruh kepercayaan yang bersifat kosmologi yang telah menjadi dasar kerajaan-kerajaan Hindu Buddha yang ada Asia Tenggara6. Di dalam mekanismenya pemerintah menjamin kehidupan ekonomi para birokrat, sehingga dapat mengeksploitasi pertanian rakyat dan perdagangan. Struktur pemerintahannya antara lain :

  1. Raja

Peranan raja adalah sebagai pusat dari alam sejagad dan sebagai wakil dari dewa-dewa. Berdasarkan konsep kosmologi yang dihayati, seluruh kerajaan Majapahit dianggap sebagai perwujudan dari jagad raya, dan raja disamakan dengan dewa tertinggi yang bersemayam di puncak gunung Mahameru, sehingga raja memegang otoritas tertinggi dan menduduki puncak Hierarki Kerajaan. Jabatan raja diperoleh secara turun temurun atau hak waris. Raja didampingi 14 raja bawahan7. Di daerah-daerah terdapat raja-raja bawahan Paduka Bhattāra (Bhre), merupakan keluarga dekat raja yang diberi hak istimewa dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab daerah.

  1. Yuwarāja (Kumārāja Jasa Putra Parigata)

Sebelum menjadi Raja, Putera Mahkota menjadi Raja yang menguasai daerah yang berada di bawah kekuasaan Majapahit.

  1. Dewan Pertimbangan Kerajaan (Pahöm Narendra)

Berada di bawah raja berfungsi mendampingi raja dan dalam mengeluarkan kebijaksanaan raja memiliki otoritas tertinggi, dan perintahnya wajib dilakukan pejabat-pejabat yang ada dibawahnya. Kelompok Dewan Pertimbangan Kerajaan bernama “Bhattāra Saptaprabū” yang anggotanya terdiri dari sanak saudara raja.

  1. Dewan Menteri (Rakyān Mantri ri Pakira-kiran)

Dewan Menteri merupakan Badan Pelaksana Pemerintahan yang terdiri dari lima pejabat, yaitu Rakyān Mapatih atau Patih Hamangkubhūmi (Apatih ring Tiktawilwadhika, Rakyān Tuměnggung, Rakyān Děmung, Rakyān Kanuruhan. Kelima pejabat (para tanda rakyan) tersebut pada zaman Majapahit disebut Sang Panca ring Wilwatikta atau disebut juga Mantri Amancanāgara. Rakyān Mapatih adalah pejabat terpenting dalam Dewan Menteri dan biasa disebut Perdana Menteri atau Menteri Utama (Matri Mukya), ia bertugas memimpin Badan Pelaksana Pemerintahan dan mengkoordinasi para menteri. Di daerah-daerah juga terdapat Dewan Menteri yang yang dipimpin Sang Apatih atau Rakyān Apatih, dan itulah yang membedakan antara pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah.

  1. Pejabat-Pejabat Tinggi lainnya

Selain Dewan Menteri dan Dewan Pertimbangan Kerajaan terdapat pula Pejabat-Pejabat Tinggi lainnya yang biasanya diduduki oleh keluarga Dewan Menteri dan Dewan Pertimbangan Kerajaan. Pejabat-pejabat tersebut antara lain, Sang Wrddhamantri, Yuwamantri, Sang Āryyādhikara, Sang Āryyātmarāja, Mantri Wagmimaya, Mantri Kesadhari, dan Rakyān Juru.

  1. Dharmmādhyaksa

Dharmmādhyaksamerupakan Pejabat Tinggi kerajaan yang bertugas menjalankan fungsi Yurisdiksi keagamaan. Terdapat dua Dharmmādhyaksa , untuk agama Hindu Siwa bernama Dharmmādhyaksa ring Kasaiwan dan Buddha bernama Dharmmādhyaksa ring Kasogatan. Dalam menjalankan tugasnya Dharmmādhyaksa dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan (Dharmma upapatti) disebut Sang Paměgat (Samgat) yang terdiri dari Sang Paměgat i Tirwan, Sang Paměgat i Kandamuhi, Sang Paměgat i Manghuri, Sang Paměgat i Jambi, Sang Paměgat i Pamwatan, Sang Paměgat i Kandangan Atuha, Sang Paměgat i Kandangan Rare, Sang Paměgat i Panjangjiwa, Sang Paměgat i Lekan, Sang Paměgati Tanggar, Sang Paměgat i Pandlěgan, dan Sang Paměgat i Tirangrat. Pada masa Hayam Wuruk dikenal tujuh upapatti disebut “ Sang Upapatti Sapta” yang terdiri dari Sang Paměgat i Tirwan, Sang Paměgat i Kandamuhi, Sang Paměgat i Manghuri, Sang Paměgat i Jambi, Sang Paměgat i Pamwatan, Sang Paměgat i Kandangan Atuha, dan Sang Paměgat i Kandangan Rare.

Di antara upapatti tersebut ada yang menjabat urusan sekte-sekte. Sekte Siwa terdiri dari Bhairawapaksa, Saurapaksa, dan Siddhāntapaksa. Sang Wadisīsya Bhagawan Kapila, Sang Wadikanabhaksasīsya, Sang Wadiwesnawa, Sākāra, dan Wāhyaka. Selain sebagai pejabat keagamaan, upapatti dikenal juga sebagai kelompok cendekiawan dan para pujangga.

  1. Pejabat Sipil dan Militer

Pejabat-pejabat sipil terdiri dari kepala jawatan (tanda), para nāyaka, pratyāya, dan para drawyahaji. Pejabat-pejabat militer yang berugas mengawal raja dan penjaga lingkungan keraton (bhayangkāri) terdiri dari pangalasan, senāpati, dan surantani. Dari kitab Praniti Raja Kapkapa, terdapat 150 mantri dan 1.500 pejabat-pejabat rendahan yang terdiri dari para tanda, wadohaji, panji andaka, dan kajineman8.

Skema Pemerintahan Majapahit.

KEBUDAYAAN KERAJAAN MAJAPAHIT

  1. Agama dan Kepercayaan masyarakat Majapahit

Terdapat tiga aliran yang hidup berdampingan di kerajaan majapahit, yaitu agama Siwa, Wisnu dan Buddha Mahayana9. Segala Upacara keagamaan berjalan secara berdampingan. Di kalangan atas, di kalangan para ahli pikir terdapat proses sinkretisme yang membuat Siwa dan Buddha sama nilainya. Sewaktu hidup raja dipandang sebagai titisan Wisnu, tetapi setelah wafat raja dimakamkan sebagai Siwa. Ada beberapa pendapat yang menguatkan bahwa Siwa dan Buddha hidup berdampingan dalam masyarakat Majapahit, antara lain:

  1. Pendapat Krom (1923) bahwa sinkretisme Siwa dan Buddha tampak dalam kesenian dengan bukti di Candi Jawi terdapat arca Siwa dan arca Aksobhya yang terjadi akibat pengaruh ajaran Tantrayana terhadap kedua agama.

  2. Pendapat Rassers (1926) bahwa pertautan agama Hindu dan Buddha di Jawa Timur merupakan aspek dari satu agama yang tunggal yang berpangkal pada kepercayaan Jawa purba.

  3. Pendapat Goda (1970) bahwa penyamaan dewa-dewa agama Siwa dan Buddha tidak hanya terjadi di Jawa tetapi juga di Kamboja, Nepal, dan India sendiri. Maka kebudayaan asli bukan satu-satunya penyebab terjadinya koalisi agama Siwa dan Buddha.

  1. Kesusasteraan

Pada zaman Majapahit kesusastraan dibagi menjadi dua bagian10 yang dibagi berdasarkan bahasa yang digunakan dan bentuk tulisan yang ditulis, yaitu zaman Majapahit I dan zaman Majapahit II.

  1. Pada zaman Majapahit I hasil-hasil kesusastraan yang terpenting adalah:

  • Nāgarakrtāgama, karangan Prapanca, tahun 1365 M.

Kitab ini berisi tentang riwayat Singasari dan Majapahit dari sumber-sumber pertama dan ternyata sesuai dengan prasasti-prasasti. Terdapat pula uraian tentang kota Majapahit, jajahan-jajahan Negara Majapahit, perjalanan Hayam Wuruk di sebagian besar Jawa Timur, upacara çrāddha yang dilakukan untuk roh Gayatri dan tentang Pemerintahan serta keagamaan dalam zaman pemerintahan Hayam Wuruk.

  • Sutasoma, karang mpu Tantular

Pokok cerita ialah riwayat Sutasoma, seorang anak raja yang meninggalkan keduniawian karena taatnya pada Agama Buddha. Sutasoma selalu bersedia mengorbankan dirinya untuk menolong sesama mahkluk yang sedang dalam kesulitan karena kesediaannya itu maka banyak orang tertolong bahkan seorang raksasa yang biasa memakan manusia pun bisa menjadi pemeluk Agama Buddha yang mulia itu.

  • Arjunawijaya, mpu Tantular

Isinya menceritakan raja raksasa Rāwana yang terpaksa tunduk kepada raja Arjuna Sahasrabāhu.

  • Kunjarakarna

Kitab ini ada yang berupa gancaran dan ada yang berupa kakawin. Kitab yang berupa gancaran termasuk zaman Mataram, dan yang kakawin berasal dari zaman Majapahit I. Isinya menceritakan seorang raksasa Kunjarakarna yang ingin menjelma menjadi manusia, kemudian menghadap Wairocana dan diizinkan melihat keadaan di neraka. Ia taat kepada agama Buddha, dan akhirnya keinginannya terkabul.

  • Parthayajna

Isinya meriwayatkan para Pandawa setelah kalah bermain dadu, dan mendapat penghinaan-penghinaan dari para Kaurawa. Akhirnya mereka ke hutan dan Arjuna bertapa di Gunung Indrakila.

  1. Pada zaman Majapahit II hasil-hasil kesusatraan ditulis dalam bahasa jawa tengahan dan ada yang ditulis dalam bentuk tembang (kidung) serta gancaran, yang terpenting, antara lain Tantu Pagelaran, Calon Arang, Korawāçrama, Bubhuksah, Pararaton, Sundayāna, Panji Wijayakrama, Rangga Lawe, Sorāndaka, Pamancangah, Usana Jawa, dan Usana Bali.

  1. Arsitektur

Arsitektur zaman Majapahit dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

  1. Arsitektur Jawa Kuno

Arsitektur Jawa Kuno mempunyai ciri konstruksi bangunan yang berasal dari kayu yang merupakan tiang berdiri di atas tanah, mempunyai kolong dan tanpa pemisah ruangan. Pemisah ruang hanya dilakukan dengan menggunakan kain atau bahan tidak permanen yang siang hari dapat dilepas, penutup atap menggunakan alang-alang.

  1. Arsitektur Majapahit Lama

Arsitektur Majapahit Lama mempunyai ciri konstruksi bangunan dari kayu yang berdiri di atas batur dan masih belum ada pembatas yang permanen. Penutup atapnya sudah menggunakan genting, bangunan semacam ini dapat berfungsi sebagai Pendopo atau Bale maupun sebagai tempat untuk istirahat atau tidur.

  1. Arsitektur Akhir Majapahit

Arsitektur Akhir Majapahit mempunyai ciri sama dengan ciri arsitektur Majapahit lama namun telah mempunyai pembatas yang permanen. Bentuk-bentuk bangunan semacam itu dapat dilihat pada beberapa relief candi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

  1. Perundang-Undangan

Kitab undang-undang Majapahit ditemukan di Bali, yaitu Undang Undang Agama. Dalam bahasa Sanksekerta Agama berarti pengetahuan, adat, ajaran. Naskah perundang-undangan yang ditemukan di Bali dan Lombok ditulis dalam bahasa Jawa Tengahan. Kitab perundang-undangan Agama memuat 275 pasa yang berisi tentang :

  1. Ketentuan umum mengenani denda

  2. Uraian tentang kejahatan, terutama pembunuhan (astadusta)

  3. Perlakuan tentang/ terhadap hamba (kawula)

  4. Pencurian (astacorah)

  5. Paksaan (walat/aulah sahasa)

  6. Jual beli (adol atuku)

  7. Gadai (sanda)

  8. Utang piutang (ahutang apihutang)

  9. Titipan

  10. Mahar (atukon)

  11. Perkawinan (karawangan)

  12. Perbuatan mesum (paradara)

  13. Warisan (drewe kaliliran)

  14. Caci maki (wakparusya)

  15. Mengangani (dandanparusya)

  16. Kelalaian/kenakalan (kagelehan)

  17. Perkelahian (atukaran)

  18. Tanah (bhumi)

  19. Fitnah (duwilatet)

PEREKONOMIAN KERAJAAN MAJAPAHIT

Keberadaan kerajaan Majapahit ditopang oleh sektor pertanian dan perdagangan. Dengan demikian berarti kerajaan Majapahit adalah kerajaan agraris dan maritim. Di sektor pertanian padi dan hasil pertanian lainnya merupakan tulang punggung perekonomian kerajaan. Pedagang asing yang datang ke Majapahit berasal dari Campa, Khmer, Tahiland, Burma, Srilangka, dan India. Mereka tinggal di beberapa tempat di Jawa dan beberapa di antara mereka ditari pajak oleh pemerintah kerajaan. Komoditi negara asing yang dibawa ke Majapahit adalah sutera dan keramik China, kain dari India, dan dupa dari Arab. Barang-barang tersebut ditukar dengan rempah-rempah dan hasil pertanian lainnya. Sekitar tahun 1949 M terdapat dua jalur pelayaran dari dan ke China(Grace Wong, 1984), yaitu jalur pelayaran barat dan jalur pelayaran timur. Jalur pelayaran yang sering digunakan pedagang jawa adalah jalur pelayaran barat, meliputi Vietnam-Thailand-Malaysia-Sumatera-Jawa-Bali-Timor. Barang-barang yang diperdagangkan adalah

  1. Barang kebutuhan hidup sehari-hari

Berupa bahan makanan, hasil bumi, binatang (ternak, unggas, dan ikan), dan bahan pakaian.

  1. Barang produksi kelompok pengrajin

Terdapat kelompok pengrajin (pengusaha) di kerajaan Majapahityang disebutkan dalam prasasti paramiça, barng yang dibuat antara lain tembaga (dyun), keranjang dari daun kelapa (magawai kisi), payung (magawai payuŋ wlu), upih (mopih), barang anyam-anyaman (manganamanam), kapur (maŋhapu). Terdapat juga pengrajin lak/perekat, tali, warna merah, arang, jerat burung,dan alat penangkap burung.

  1. Barang komoditi internasional

Komoditi yang diperdagangkan adalah merica, garam, rempah-rempah, mutiara, kulit penyu, gula tebu, pisang, kayu cendana, emas, perak, kelapa, kapuk, tekstil katun, sutera, belerang, dan budak belian11.

Mata uang yang digunakan pada zaman Majapahit awal adalam mata uang kepeng dari China. Untuk mendapatkannya Majapahit mengimport mata uang dari China, uang tersebut berasal dari dinasti T’ang (618-907), Song (960-1279), Ming (1368-1644), dan Qing (1644-1911). hal ini terjadi karena China banyak mengomport merica dari Majapahit, sehingga banyak mata uang kepeng yang mengalir ke Majapahit12. Pusat perdagangan di kerajaan Majapahit adalah pasar yang biasa disebut pkan atau pkěn. Selain perdagangan salah satu sumber kerajaan adalah pajak. Berdasarkan sumber-sumber yang tertulis, ditemukan lima pokok bahasan yang berhubungan dengan perpajakan, yaitu pajak dan pembatasan usaha, objek pajak dan kriteria pemungutannya, mekanisme pemungutan pajak, alokasi hasil pemungutan pajak, dan kasus-kasus yang berhubungan dengan pemungutan pajak. Pihak kerajaan mengadakan pembatasan usaha terhadap segala jenis benda yang bebas dari pemungutan pajak kerajaan agar hak pembebasan pemungutan pajak kerajaan tidak menjadi tanpa batas. Pajak terdiri dari pajak tanah, pajak usaha, pajak profesi, pajak orang asing, pajak ekspoloitasi Sumber Daya Alam. Pemungutan pajak dilakukan oleh petugas pemungut pajak.

Ekonomi Majapahit sebagaimana ekonomi kebanyakan kerajaan di Jawa bertumpu pada kegiatan pertanian, ini terlihat dari pusat kerajaan Majapahit yang juga terletak di pedalaman. Namun jika dilihat lebih jauh Majapahit ekonomi Majapahit juga ditopang oleh perdagangan. Kombinasi kedua unsur ekonomi ini memberi kekuatan bagi Majapahit, yang juga menjadi sifat Jawa sebelumnya, yaitu kekuatan demografis.

Pertanian di Jawa sangat menjadikan masyarakat Jawa terikat pada institusi desa yang terikat dalam jaringan yang disebut wanua. Institusi inilah yang kemudian menggerakkan jalannya perdagangan dengan pihak luar. Dalam hal ini perdagangan lebih didominasi oleh perdagangan hasil pertanian pokok. Jaringan pasar lokal antar wanua ini sering disebut sebagai pkên.13

Pertanian Jawa sejak sebelum Majapahit sangat kuat. Ini terlihat dari dibuatnya Borobudur beberapa abad sebelumnya yang mengindikasikan pertanian Jawa dapat mencukupi pekerjaan missal tersebut. Selain itu pada masa Majapahit di Jawa juga terdapat beberapa candi yang dibangun. Kekuatan demografi ini juga mendukung kebijakan ekspansi yang dilakukan oleh Majapahit.

Kekuatan demogrsfi ini terlihat sangat besar jika kita membandingkan Jawa pada masa Majapahit dengan luar Jawa. Semananjung Malaya pada abad 14 memiliki penduduk sebanyak 200 ribu saja, seukuran kota kecil masa kini, sedangkan Jawa pada saat yang sama memiliki penduduk sebanyak 3 juta orang.14

Majapahit juga melakukan perdagangan dengan bangsa luar. Ini terlihat kebijakan penguasaan langsung pelabuhan di hilir sungai Brantas. Meski ibukota Majapahit terletak jauh di pedalaman, ibukota terhubung langsung dengan pelabuhan tersebut melalui sungai tersebut. Produk-produk utama Jawa adalah bahan pangan (beras), tekstil kasar (atau kapas), dan tenaga kerja (budak).15

Selain itu motif ekonomi juga terlihat dalam politik ekspansi yang dilakukannnya. Ekspansi-ekspansi yang dilakukannya dilakukan dalam rangka membentuk jaringan kerajaan vassal untuk memperoleh upeti yang akan menjadi produk perdagangan. Selain itu tujuan lain yang lebih utama dalam ekspansi Majapahit adalah untuk memperoleh kontrol atas pelabuhan-pelabuhan dagang utama di Asia Tenggara (dengan kata lain monopoli).16 Tindak politis yang dilakukan bisa berupa penghancuran pelabuhan atau penaklukan.

DAFTAR PUSTAKA

Amelia. 1986. Mata Uang Logam China dari Situs Trowulan, Jakarta: Skripsi Sarjana, Fakultas Sastra, UI

Hadiwijoyo,Harun. 2005. Agama Hindu dan Buddha. Jakarta: Gunung Mulia

Kartidirjo, Sartono. 1969. “ Struktur Sosial dari Masyarakat Tradisional dan Kolonial”, lembaran Sejarah No. 4. Yogyakarta : FIB UGM.

Marwati, dkk. 1993 . Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka

Mujana, Slamet. 1976. Perundang-Undangan Majapahit. Jakarta: Bhatara.

_____________. 2006. Tafsir Sejarah Negara Kretagama. Yogyakarta: LkiS.

Robert, dkk. Konsepsi Tentang Negara dan Kedudukan Radja di Asia Tenggara

Sartono, dkk. 1993. 700 Tahun Majapahit. Surabaya: Tiga Dara Surabaya.

Soekmono. 2001. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius

Schrieke,B, Indonesia Siciological Studies. Part II, s’ Gravenhage W. van Hoeve.

Wong, Grace. 1984. “An Account of the Maritime Trade Routes, between Southeast Asia and China”, Studies on Ceramic. Jakarta: Puslit Arkenas.

1 Sartono, dkk. 1993. 700 Tahun Majapahit. Surabaya: Tiga Dara Surabaya.hlmn. 39.

2 Muljana, Slamet. 2006. Tafsir Sejarah Negara Kretagama. Yogyakarta: LkiS. Hlmn. 237.

3 Ibid.

4 Muljana, Slamet. 2006. Tafsir Sejarah Negara Kretagama. Yogyakarta: LkiS. Hlmn. 246.

5 Sartono Kartidirjo, “Struktur Sosial dari Masyarakat Tradisional dan Kolonial”, lembaran Sejarah No. 4, FIB, UGM, Yogyakarta, 1969;hlm 7.

6 Lihat Robert Heine dkk, Konsepsi Tentang Negara dan Kedudukan Radja di Asia Tenggara.

7 Sumber berasal dari prasasti Surodakan 1447 M.

8 Marwati, dkk, Sejarah Nasional Indonesia II(Jakarta: Balai Pustaka 1993) hlm. 456

9 Harun Hadiwijoyo, Agama Hindu dan Buddha (Jakarta: Gunung Mulia,2005) hlm. 130

10 Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2 (Yogyakarta: Kanisius, 2001) hlm. 118

11 Schrieke,B, Indonesia Siciological Studies. Part II, s’ Gravenhage W. van Hoeve.

12 Amelia, Mata Uang Logam China dari Situs Trowulan, Skripsi Sarjana, Fakultas Sastra, UI, Jakarta, 1986, 92-95.

13 Baha’udin, catatan kuliah Sejarah Asia Tenggara I

14 MC Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, halaman 23.

15 Ibid, halaman 29

About these ads

Tentang sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

11 responses to “sekilas tentang MAJAPAHIT”

  1. cruez history says :

    sudah bagus dan mengesankan, kalo boleh saya usul kapan-kapan tolong di lampirkan tentang sejarah-sejarah masa pemerintahan indonesia kita,…thanxs I love history

  2. Hendri says :

    terima kasih boleh ikut membaca.
    kebetulan saya mau mengajak anak-anak smp mengadakan perjalanan ke jawa timur. kegiatan pokoknya adalah survey kondisi anak petani apakah mereka tertarik ke pertanian atau tidak. dan menghubungkan dengan kerajaan majapahit yang sempat besar dengan agraria dan perdagangannya.

  3. azhar says :

    bagus tapi tlng buat tentang kerajaan sebelum majapahit

  4. Hery S says :

    Sedikit uneg-uneg…..
    Pahom narendra bukannya dewan penasehat yang biasanya dipegang oleh kerabat tua raja, sedangkan dewan pertimbangan dipegang oleh Bhatara Sapta Prabhu. Sedangkan yang dimaksud dean menteri mestinya Rakryan Mahamantri Katrini yang terdiri dari i hino, i halu dan sirikan (pada masa Hayam Wuruk bahkan ada 5). Sedangkan Dharmadyaksa di samping sebagai pejabat keagamaan juga berperan dalam bidang yudikatif yang dibantu Saptopapati….

  5. sejarawan says :

    coba,say kroscekkembali, dengan buku bacaannya yang saya paki terima kasih atas masukannanya

  6. Kembara Kesejatian says :

    Mba Sejarawan….

    Tulisan mba, mengenai kalimat “….empat kasta seperti di India, yang lebih dikenal dengan catur warna….”…. tidak tepat.

    KASTA adalah berbeda dengan CATUR WARNA.
    Kasta adalah penyalahgunaan catur warna..yang dicampuradukkan dengan strata sosial. Sedangkan CATUR WARNA, adalah guna/profesi manusia dalam kehidupan. CATUR WARNA tidak turun temurun dan betul betul, dicerminkan dari guna dan laku.

    Mohon tulisan tersebut dikoreksi dengan sebenarnya.

    Nuwun,
    Kembara Kesejatian

  7. Lely says :

    Bagus!!!!

  8. cepot says :

    Pak.. ijinkan saya untuk copas artikel bapak.. untuk dijadikan bahan diskus di http://sukasejarah.org
    sekiranya juga berkenan tuk gabung di diskus suka sejarah..
    “Semua Orang Bisa Jadi Sejarawan”…
    hehehe
    Tanks

  9. Ki Ageng Mangir says :

    BREAKING NEWS: Saat ini sedang dipersiapkan proses produksi Film Kolosal Layar Lebar dan Mega Sinetron dengan judul ”MAHAPATIH GAJAH MADA” produksi PT Tawi Nusantara Film – Pamulang bekerjasama dengan Kraton Tirto Wening – Cimone, dengan Sutradara Renny Masmada. Lokasi shooting akan dilaksanakan di Kp. Cogrek Ds. Peusar Kec. Panongan Cikupa-Tangerang. Mohon doa & restu. Terima kasih (PT TNF PUBLICATION DEPT)

  10. yurinanto says :

    SEMOGA SUKSES…!!!!!!!

  11. Pam says :

    It seems u actually fully understand quite a lot with regards to this specific issue and it all shows with this unique posting,
    labeled “sekilas tentang MAJAPAHIT SeJarah Emang Tidak BiasA”.

    Thx ,Lazaro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: