NASIONALISME DALAM PENCITRAAN DIORAMA DI BENTENG VREDENBURG

Musem Benteng Vredenburg Yogyakarta yang terletak di jalan Ahmad yani merupakn salah satu museum khusus sejarah perjuangan nasional. Museum Benteng Vredenburg menempati bekas bangunan Vredenburg. Benteng yang dahulunya digunakan untuk mendukung keberadaan belanda di Yogyakarta.

Benteng Vredenburg dimanfaatkan menjadi museum khusu sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pemnafaatkan gedung benteng menjadi museum didasari pad aspek nasionalisme bangsa Indonesia yang tercermin melalui peristiwa-peristiwa sejarah di Yogyakarta, bukan karena benteng Vredenburg adalah bangunan peninggalan penjajah Belanda.

A. RUANG PAMERAN DIORAMA I

Peristiwa-peristiwa yang menunjukkan nasionalisme pada diorama I:

a. Kongres Budi Utomo I di Yogyakarta berlokasi ruang Makan Kweekschool Yogyakarta sekarang menjadi SMU 11, Jl. AM. Sangaji Yogyakarta. Pada tanggal 3 sampai 5 Oktober 1908. Dimana saat itu Sutomo seorang pelajar STOVIA Weltevreden (sekolah dokter pribumi) sedang menyanmpaikan gagasannya dalam kongres Boedi Oetomo I di gedung Kweekschool Yogyakarta yang dipimpin oleh Dr. Wahidin Soedirohoesodo. Tokoh lainnya yang ikut tampil dalam organisasi ini adalah : R. Saroso (Kweekschool Yogyakarta), R. Kamargo (Hoofdenschool Magelang), Dr. M.B Mangoenhoesodo (Surakarta), M. Goenawan Mangoekoesoemo (STOVIA Weltevreden).

b. Lahirnya Organisasi Muhammadiyahberlokasi terletak di Kauman, Gondomanan Yogyakarta. Pada tanggal 18 November 1912. Dimana Kyai Haji Ahmad Dahlan sedang menyampaikan gagasannya dalam pertemuan saat diputuskan berdirinya Organisasi Muhammadiyah di Yogyakarta. Gagasan ini kemudian didukung oleh para ulama antara lain KH. Muhammad, KH. R. Jaelani, KH. Anies dan KH. R. Fekih. Sebagai ketua adalah KH. Ahmad Dahlan dan sekertarisnya KH. Abdullah Siraj. Organisasi ini bertumpu pada cita-cita agama. Sebagian aliran modernis Islam, organisasi ini ingin memperbaiki agama dan umat Islam Indonesia.

c. Berdirinya Taman Siswa berlokasi di Jl. Tanjung No. 32 (sekarang Jl. Gajah Mada No.32) Yogyakarta. Pada tanggal 3 Juli 1922. Dimana Ki Hadjar Dewantara sedang menyampaikan gagasannya pada saat di cetuskan berdirinya National Onderwijs Instituut Tamansiswa. Sistem pendidikan yang ada di dalamnya menganut sistem Among, yang mendasarkan pada Kemerdekaan dan Kodrat Alam. Berbeda dengan BU, Tamansiswa (TS) yang lahir 14 tahun kemudian merupakan organisasi yang bertujuan mengembangkan edukasi dan cultural.

d. Kongres Jong Java Di Yogyakarta berlokasi di dalem Joyodipuran, Jl. Kintelan 139 (sekarang Jl. Brigjen Katamso 23 Yogyakarta). Pada tanggal 25 samapai dengan 31 Desember 1928. Dimana pelaksanaan kongres Jong Java ke XI di dalem Joyodipuran Yogyakarta. Kongres ini sangat penting karena memutuskan Jong Java bersedia mengadakan fusi dengan Organisasi lain. Dalam kongres ke XII di Semarang tanggal 23-29 Desember 1929 Jong Java mengadakan fusi dengan organisasi lain dan melebur ke dalam Indonesia Muda.

e. Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22 sampai 25 Desember 1928. Dimana kongres perempuan Indonesia I di Yogyakarta di pimpin oleh Ny. Soekonto. Kongres ini di perkasai oleh Ny. Sukonto (dari Wanita Utomo), Nyi Hadjar Dewantara (dari wanita Tamansiswa) dan Nn. Sujatin (dari putri Indonesia) dan di dukung oleh 7 organisasi wanita yang lain dari : Wanita Utomo, Wanita Tamansiswa, Putri Indonesia, Wanita Katholik, Jong Java bagian gadis-gadis (Meisjeskring), Aisyiah dan JIBDA (Jong Islamieted Bond Dames Afdeling).

B. RUANG PAMERAN DIORAMA II

Peristiwa-peristiwa yang menunjukkan nasionalisme pada diorama II:

a. Sri Sultan Hamengku Buwono IX memimpin rapat dukungan proklamasi di Gedung Wilis, Kepatihan, Yogyakarta pada 19 Agustus 1945. Rapat untuk mendukung Proklamasi dihadiri oleh para pemimpin kelompokk pemuda daro golongan agama, nasionali, kepanduan dan keturunan Cina yang berjumlah kurang lebih 100 orang di Keptaihan Yogyakarta.

b. Penurunan bendera Hinomaru dan Pengibaran Bendera Merah Putih di Gedung Cokan Kantai. Gedung Cokan kantai sekarang bernama menjadi gedung Agung Jln. A. Yani yogyakarta. Peristiwa itu terjadai pada tanggal 21 September 1945. Pada waktu itu para pemuda antar lain Slamet, Sutan Ilyas, Supardi, Rusli dan Siti Ngaisyah mengganti bendera Hinomaru dengan bendera merah putih di atap gedung Cokan Kantai.

c. Kongres pemuda di Yogyakarta yang diadakan di Alun-alun Utara Yogayakarat dan balai Mataram Yogyakarta (sekarang Senisono) dan diselenggarakan pada 10-11 November 1945. Kongres pemuda dipimpin oleh Chaerul Saleh dan dihadiri oleh 332 utusan dari 30 organisasi pemuda di Indonesia. Dalam kongers itu pula dihadiriu oleh Presiden Soekarno, Moh Hatta, Sri Sultan hamengku Buwono IX, dan Sri Paku Alam VIII sebagai pemberi amanat bagi konggres tersebut.

C. RUANG PAMERAN DIORAMA III

Peristiwa-peristiwa yang menunjukkan nasionalisme pada diorama III:

a. Pada tanggal 19 Desember 1948 Angkatan Perang Belanda menyerang kota Yogyakarta dan lapangan terbang Maguwo. Melancarlah Agresi Militer II. Hal ini memaksa Panglima Besar Sudirman memimpin gerilya ke luar kota melawan pasukan pendudukan dan mengeluarkan Perintah Kilat No. 1/PB/D/1948. Rakyat dengan semangat yang ditiupkan dari Sultan Hamengkubuwana IX dan Panglima Besar Sudirman, kemudian banyak melancarkan aksi perlawanan terhadap Belanda.

b. Perlawanan gerilya rakyat yang bersifat semesta dari seluruh lapisan rakyat pada permulaan tahun 1949 menyebabkan Belanda kalang kabut. Sehingga Belanda melakukan tindakan-tindakan sedikit anarkhis dengan dalih mencari gerilyawan. Nasionalisme rakyat Yogyakarta terlihat pada kesatuan mereka untuk mempertahankan wilayah dari baying-bayang Belanda. Seperti yang terjadi di Dusun Mrisi, Yogyakarta bagian selatan penghadangan patroli Belanda oleh Batalyon Sadjono sebagai aksi perlawanan Gerilyawan.

c. Meski demikian, setelah peristiwa Serangan Umum, masih banyak perlawanan yang lakukan di Yogyakarta seperti pemasangan bom di Jembatan Piyungan, Jl.Wonosari Bantul. Setelah SU, Belanda meningkatkan patroli pembersihan gerilya di desa-desa untuk menunjukkan kekuatan Belanda setelah Serangan Umum, namun aksi Belanda ini justru membawa malapetaka uuntuk mereka sendiri. Perlawanan Pelajar di Sleman juga turut mewanrai aksi perlawanan dengan melakukan penghadangan terhadap pasukan Belanda yang hendak menuju Redjodani.

Kajian Historiografi

Dalam diorama pertma lebih banyak bercerita tentang nasionalisme dalam bentuk pencarian jati diri. Pencarian jati diri tersebut bisa diungkapkan melalui ciri khas dari partai-partai atau kelompok-kelompok yang pada saat itu berdiri. Seperti BU bersifat kesadaran lokal yang di formulaasikan dalam wadah organisasi modern dalam arti bahwa organisasi itu mempunyai pimpinan, ideology yang jelas, dan anggota, kongres perempuan I bertujuan mempererat persaudaraan antara kaum ibu, Taman Siswa yang memiliki demokrasi dan kepemimpinan, artinya bahwa organisasi itu mengutamakan kepentingan rakyat yang sudah merupakan “jiwa zaman”pemimpin yang selalu “menunggal”dengan rakyat adalah pemimpin yang mempunyai kunci keberhasilan dalam pergerakan. Hal-hal seperti inilah yang menjadi ciri zaman awal kebangkitan Nasional.

Peristiwa-peristiwa yang disajikan pada diorama II merupakan peristiwa heroik. Peristiwa heroik yang tak terlepas dari rasa nasionalisme untuk mempertahankan kemerdekaan indonesia. Kemerdekaan yang telah dicapai pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dari ketiga peristiwa yang dianggap penulis mewakili isi yang disampaikan pada diorama II merupakan peristiwa dukungan akan NKRI. Dukungan-dukungan itu diwujudkan dalam bentuk konkret. Dukungan-dukungan itu berupa dukungan moril dan dukungan materiel. Dukungan moril diwujudkan dengan sikap para pemuda Yogyakarta melalui Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk mendukung proklamasi, sedangkan sikap materiil berupa wujud konkret adanya penurunan bendera Hinomaru di cokan kantai.

Pada diorama Ketiga nasionalisme lebih ditonjolkan dalam bentuk perjuangan fisik yang menyebabkan pertumpahan darah. Mati di medan perang untuk mempertahankan tanah air adalah bentuk loyalitas paling tinggi terhadap bangsa. Ketidakrelaan tanah kelahiran dikuasai oleh komunitas pendatang (penjajah) mengharuskan rakyat merebut kembali tanah pertiwi meskipun dengan perlawanan fisik untuk mencatatkan sejarah yang bisa menjadikan teladan untuk generasi penerus negeri.

Melalui diorama inilah historiografi terlihat bahwa Bangsa Indonesia mengalami nasionalisme. Nasionalisme yang berkembang sejak awal kebangkitan nasional hingga kedaulatan bisa direngkuh oleh bangsa Indonesia. Pada masa-masa awal kebnagkitan masih berupa pikiran, kemudian pada masa akhir kependudukan jepang berubah menjadi nasionalisme perjuangan, dan akhirnya pasca kemerdekaan nasionalisme berkembang menjadi sebuah tindakan untuk mempertahankan kemrdekaannya.

Dioram ayang berda di benteng Vredenburg lebih memfokuskan pada perjuangan dan peristiwa-peristiwa di Yogyakarta. Hal itu tidak terlepas dari letak benteng Vredenburg yang berada di Yogyakarta. Benteng itu menjadi memori atas perjuangan rakyat Yogyakarta dalam mendukung terbentyknya Negara kesatuan Republik Indonesia.

About these ads

About sejarawan

Sudah tidak kuliah lagi....sekarang dalam masa kebingungan yang sangat amat Twitter: @TanayaYP

2 responses to “NASIONALISME DALAM PENCITRAAN DIORAMA DI BENTENG VREDENBURG”

  1. dhoni says :

    Ijin ngelink ya..sekalian buat inspirer di dhodotes.com

    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: